Banjir Bandang Nepal Tiongkok Telan 1372 Korban Jiwa

Smallest Font
Largest Font

Bencana banjir bandang dan tanah longsor dahsyat yang menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tiongkok sejak 26 Agustus 2026 telah menewaskan sedikitnya 1.372 orang dan menyebabkan 5.531 orang lainnya masih dinyatakan hilang hingga Sabtu (5/9/2026) malam.

Otoritas Pengurangan Risiko dan Manajemen Bencana Nasional Nepal (NDRRMA) mengonfirmasi 1.341 korban jiwa tercatat di wilayah Nepal setelah adanya penyesuaian data resmi, sementara Tiongkok melaporkan 31 korban tewas di Daerah Otonomi Xizang (Tibet). Sebanyak 850 warga negara asing turut masuk dalam daftar pencarian di kedua negara.

Bencana ini dipicu oleh retaknya gletser di Gunung Langtang Lirung pada ketinggian 5.200 meter di atas permukaan laut. Material es dan batu meluncur deras menghancurkan permukiman, fasilitas umum, hingga menimbun pos perlintasan perbatasan Gyirong di Xizang.

Di tengah kepungan lumpur, keajaiban terjadi saat dua pekerja pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Upper Trishuli 34 berhasil diselamatkan setelah sembilan hari terjebak dalam terowongan. Tim penyelamat mengidentifikasi kedua survivor tersebut sebagai mandor mekanik Sanjay Sah dan pengawas mekanik Kabir Maharjan.

Proses evakuasi yang dibantu oleh saran tim ahli teknik internasional melalui jejaring komunikasi darurat beroperasi secara ketat memandu petugas SAR di lapangan.

"Namanya Sanjay Sah dan dia bekerja di ruang kendali mekanik. Parameter vitalnya tampak normal," kata seorang pejabat militer setempat.

Sanjay Sah dilaporkan hanya menderita luka ringan dan dalam kondisi stabil. Di sisi lain, Kabir Maharjan yang dievakuasi terpisah mengalami trauma berat hingga tidak mampu menggerakkan anggota badannya sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit di Kathmandu.

Penyelamatan di area terowongan menghadapi rintangan ekstrem karena akses tertutup material longsoran masif yang menimbun struktur bangunan.

"Ibarat lapisan demi lapisan keajaiban," kata Arnold Dix, Ketua International Tunnelling and Underground Space Association.

Dix menambahkan tantangan terbesar diawali dari pencarian titik masuk terowongan yang telah terkubur sedalam beberapa meter di bawah reruntuhan.

"Saya belum pernah mengetahui operasi penyelamatan yang mengharuskan kami mencari pintu masuk terowongan yang sebelumnya berada di lereng bukit, tetapi kini berada di bawah tanah. Anda bisa membayangkan besarnya longsoran itu, yang sepenuhnya menimbun pintu masuk," kata Arnold Dix.

Petugas di lokasi memanfaatkan citra satelit dan data topografi lama untuk menentukan titik pemboran yang aman.

"Kami tahu mereka berada di depan, tetapi kami tidak tahu persis di mana. Jadi kami harus mulai menggali ke arah yang benar. Dan kami menyimak apakah bisa mendengar seseorang," katanya.

Medan yang tertutup batu besar memaksa tim SAR mengambil langkah berisiko tinggi demi membuka jalur penyelamatan.

"Kami harus menggunakan bahan peledak yang biasanya tidak pernah kami lakukan karena risiko meledakkan orang-orang [yang terjebak di dalam terowongan] dan juga membahayakan diri kami sendiri," kata Arnold Dix.

Sebanyak 4.200 warga Nepal kini masih berada di pengungsian akibat hancurnya permukiman di Distrik Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Kavre, dan Lembah Kathmandu. Operasi pencarian ribuan korban hilang di sepanjang jalur Sungai Trishuli masih terus berlanjut.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed