Beban JKN Tembus Rp 191 Triliun, Penyakit Katastropik Kerap Menyerap Anggaran
Pengeluaran untuk jaminan kesehatan masyarakat yang ditanggung BPJS Kesehatan melonjak tajam sepanjang 2025. Dilansir dari Detik Health, total pembiayaan pelayanan kesehatan mencapai Rp 191,33 triliun, meningkat Rp 15,2 triliun dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat Rp 176,11 triliun.
Penyakit katastropik atau penyakit yang membutuhkan penanganan medis jangka panjang serta biaya besar menjadi penyedot anggaran paling mendominasi. Sepanjang 2025, kelompok penyakit ini menghabiskan dana Rp 50,3 triliun dari 59,9 juta kasus, atau setara 26,28 persen hingga 26,42 persen dari total beban pelayanan kesehatan.
Terdapat tujuh jenis penyakit katastropik yang paling banyak menguras alokasi dana perlindungan kesehatan masyarakat selama 2025.
| Jenis Penyakit | Jumlah Kasus | Total Biaya |
|---|---|---|
| Jantung | 29,7 juta | Rp 17,3 triliun |
| Gagal Ginjal | 12,6 juta | Rp 13,3 triliun |
| Kanker | 7,1 juta | Rp 10,3 triliun |
| Stroke | 9,5 juta | Rp 7,2 triliun |
| Hemofilia | 84,8 ribu | Rp 909,6 miliar |
| Thalassemia | 398,1 ribu | Rp 852,7 miliar |
| Sirosis Hati | 311,3 ribu | Rp 278,1 miliar |
Pertumbuhan Peserta dan Tantangan Rasio Klaim
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, mengonfirmasi bahwa kenaikan alokasi anggaran berbanding lurus dengan perluasan cakupan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
"Hingga 31 Desember 2025, jumlah peserta JKN telah mencapai 282,7 juta jiwa atau mencakup 98,62 persen dari total seluruh penduduk Indonesia," jelas Pujo dalam agenda BPJS Kesehatan, Kamis (2/7/2026).
Ekspansi jangkauan perlindungan kesehatan ini di sisi lain membawa tantangan serius terhadap keberlanjutan program JKN. Rasio klaim BPJS Kesehatan sepanjang 2025 menyentuh angka 108,27 persen, mengindikasikan beban klaim pembiayaan kesehatan telah melebihi penerimaan iuran yang masuk.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow