BMKG Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem Jelang Pertengahan September 2026

Smallest Font
Largest Font

Potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat hingga sangat lebat dan angin kencang mengintai sejumlah daerah di Indonesia pada Selasa (8/9/2026). Seperti dilansir dari Detik Health, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai perubahan cuaca mendadak ini. Kewaspadaan ini disampaikan BMKG mengingat kondisi September yang umumnya masih didominasi cuaca panas dan kering di berbagai area.

Perubahan atmosfer yang terjadi secara tiba-tiba dapat memicu fenomena cuaca yang berdampak langsung pada aktivitas harian. Berdasarkan rincian prakiraan BMKG, wilayah Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, dan Papua Barat Daya berpeluang diguyur hujan berintensitas sedang hingga lebat. Di sisi lain, wilayah Aceh dan Sumatera Utara menghadapi potensi guyuran hujan lebat hingga sangat lebat.

BMKG juga merilis daftar daerah yang berpotensi diterjang angin kencang. Wilayah tersebut mencakup Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Papua, serta Papua Pegunungan.

Risiko Kesehatan dan Ancaman Bencana Hidrometeorologi

Peralihan dari kondisi panas dan kering ke hujan lebat berangin tidak hanya memicu ancaman bencana fisik seperti pohon tumbang, bangunan rusak, atau banjir. BMKG menegaskan bahwa fluktuasi cuaca ekstrem tersebut berisiko mengganggu kondisi kesehatan masyarakat. Suhu udara sempat mencatatkan angka maksimal hingga 37,9 derajat Celsius di Melawi, Kalimantan Barat, pada dasarian III Agustus. Paparan terik matahari pada siang hari meningkatkan risiko kelelahan dan dehidrasi bagi warga yang beraktivitas di ruang terbuka.

Penggunaan tabir surya serta pemenuhan konsumsi air putih sangat disarankan untuk menjaga daya tahan tubuh. Selain itu, titik panas (hotspot) juga terpantau di Sumatera sebanyak 264 titik dan Kalimantan sebanyak 463 titik akibat kondisi kering yang memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebaran asap karhutla mengancam kualitas udara dan memperburuk kondisi kesehatan kelompok rentan, terutama anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan. Masyarakat dilarang keras membuka lahan dengan cara membakar maupun membuang puntung rokok sembarangan di area gambut dan semak belukar.

Dinamika Atmosfer Pemicu Hujan Lokal

Secara umum, mayoritas wilayah Indonesia mencatatkan curah hujan rendah sekitar 0-150 mm per dasarian sepanjang September. Fenomena El Nino sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif membatasi pasokan uap air ke wilayah kepulauan Indonesia.

Kendati demikian, kombinasi aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, konvergensi, dan tingkat labilitas atmosfer tetap memicu hujan lokal intensitas tinggi. Wilayah seperti Sumatera bagian utara, Kalimantan bagian utara, Sulawesi bagian tengah, dan Papua bagian utara menjadi area yang paling rawan.

BMKG mengingatkan bahwa hujan lokal kerap disertai kilat, petir, dan angin kencang secara mendadak. Warga diminta untuk tidak berteduh di bawah pohon rindang, papan reklame, atau bangunan rapuh guna menghindari bahaya sambaran petir serta material tumbang.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed