BMKG Ungkap Penyebab Hujan Deras Pemicu Banjir Padang

Smallest Font
Largest Font

Pola awan yang memanjang dari Sumatera Utara hingga Sumatera Barat diidentifikasi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai pemicu hujan berintensitas tinggi yang merendam Kota Padang pada Senin (3/8/2026). Fenomena meteorologi tersebut memicu presipitasi berdurasi panjang dari malam hingga sore hari. Berdasarkan data sementara pemantauan BMKG, curah hujan di kawasan tersebut telah menyentuh angka 250 milimeter. Koordinator Data dan Informasi BMKG Minangkabau, Yudha Nugraha, memberikan penjelasan mengenai formasi awan yang membentang di wilayah barat Pulau Sumatera tersebut.

"Ini kumpulan awan yang memanjang mulai dari Sumatera Utara kemudian Sumatera Barat," kata Yudha Nugraha, Koordinator Data dan Informasi BMKG Minangkabau.

Tinggi kelembapan udara diperkirakan masih bertahan sehingga potensi hujan berintensitas tinggi berpeluang terjadi hingga beberapa hari mendatang. "Karena kami juga melihat sifat kelembapannya masih ada. Itu bisa sampai tiga hari ke depan," ujar Yudha Nugraha, Koordinator Data dan Informasi BMKG Minangkabau.

Peningkatan kewaspadaan juga diimbau untuk wilayah lain seperti Pesisir Selatan, Painan, Padang Pariaman, hingga Kabupaten Lima Puluh Kota akibat adanya konvergensi angin. "Beberapa daerah perlu diwaspadai, terutama Padang, Pesisir Selatan, Painan, dan Padang Pariaman," kata Yudha Nugraha, Koordinator Data dan Informasi BMKG Minangkabau.

Meskipun curah hujan tergolong tinggi, BMKG mencatat karakteristik cuaca kali ini berbeda dibandingkan dengan peristiwa hujan panjang pada November 2025. "Karakteristik hujan ini lebih satu atau dua hari," ujar Yudha Nugraha, Koordinator Data dan Informasi BMKG Minangkabau. BMKG menjelaskan bahwa wilayah Sumatera Barat memiliki pola cuaca unik tanpa musim kemarau yang benar-benar kering sepanjang tahun, meski puncak musim hujan umumnya jatuh pada Maret, April, November, dan Desember.

"Potensi kejadian hujan dengan intensitas tinggi hampir selalu ada setiap bulan," kata Yudha Nugraha, Koordinator Data dan Informasi BMKG Minangkabau.

Proses pengumpulan data masih terus berlanjut untuk mengukur total akumulasi curah hujan guna memastikan apakah kondisi ini termasuk yang terlebat sepanjang tahun 2026. "Untuk saat ini, kami masih mengumpulkan data. Besok atau beberapa hari ke depan baru bisa terlihat nilainya," ujar Yudha Nugraha, Koordinator Data dan Informasi BMKG Minangkabau. Masyarakat di sepanjang bantaran sungai dan kawasan rawan tanah longsor diminta tetap waspada terhadap potensi kenaikan debit air sungai serta perubahan kondisi tanah.

"Kita harus mengenali karakteristik wilayah untuk mengetahui potensi yang dapat terjadi," kata Yudha Nugraha, Koordinator Data dan Informasi BMKG Minangkabau.

Warga diimbau untuk memantau pembaruan peringatan dini cuaca secara berkala dan segera melakukan evakuasi mandiri jika kondisi lingkungan mulai menunjukkan tanda bahaya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed