BPS Catat Pertumbuhan Ekonomi 17 Provinsi Melampaui Capaian Nasional
Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi di 17 provinsi berhasil melampaui capaian nasional yang sebesar 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II-2026. Capaian nasional tersebut didorong oleh sektor konsumsi rumah tangga dan industri pengolahan yang tetap menjadi penopang utama perekonomian domestik.
Meskipun tumbuh 5,29 persen dan melampaui konsensus pasar di kisaran 5,1 persen, laju Produk Domestik Bruto nasional tersebut mengalami moderasi dibandingkan triwulan I-2026 yang mencapai 5,61 persen. Berdasarkan data BPS, PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp 6.552,1 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp 3.576,2 triliun.
Secara spasial, pertumbuhan ekonomi di seluruh provinsi di Pulau Jawa tercatat berada di atas angka nasional, dengan total kontribusi Jawa terhadap PDB mencapai 54,67 persen. Wilayah Bali dan Nusa Tenggara mencatatkan pertumbuhan regional tertinggi sebesar 6,10 persen, disusul Jawa sebesar 5,65 persen dan Sulawesi sebesar 5,53 persen.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti memaparkan sebaran laju pertumbuhan di tingkat daerah.
"Pada triwulan 2-2026, pertumbuhan ekonomi di 17 provinsi berada di atas angka pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,29 persen. Maluku Utara memiliki angka pertumbuhan tertinggi sebesar 15,35 persen, diikuti oleh Nusa Tenggara Barat 7,41 persen dan Kepulauan Riau 6,99 persen," kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti.
Di sisi lain, Ekonom Korea Investment Management Indonesia Arfian Prasetya Aji menyoroti dinamika konsumsi masyarakat yang tumbuh 5,06 persen dan sektor industri pengolahan yang tumbuh 4,52 persen, di mana keduanya berada di bawah laju ekonomi nasional.
"Di tengah perkembangan positif tersebut, yang perlu menjadi perhatian, jika kita lihat pertumbuhan PDB menurut kelompok pengeluaran, konsumsi rumah tangga, yang memiliki distribusi terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) 53,3 persen, hanya tumbuh 5,06 persen," kata Ekonom Korea Investment Management Indonesia Arfian Prasetya Aji.
Ia menambahkan bahwa sektor pertanian dengan kontribusi 13,57 persen terhadap PDB juga hanya tumbuh 3,80 persen di tengah penurunan Indeks Keyakinan Konsumen pada Juni 2026 ke level 117,8.
"Apakah sejalan dengan realitas di lapangan? Pada periode tersebut, turut terjadi adanya tren penurunan optimisme konsumen," kata Arfian Prasetya Aji.
Menurutnya, penurunan keyakinan tersebut berdampak langsung pada pola konsumsi masyarakat.
"Akibatnya, konsumen cenderung menahan diri untuk belanja dan lebih cenderung menyimpan uang sebagai bentuk antisipasi terhadap kondisi ekonomi," kata Arfian Prasetya Aji.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai angka pertumbuhan tersebut perlu dicermati dari sisi kualitasnya.
"Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya besarnya pertumbuhan, tetapi juga kualitasnya," kata Budi Frensidy.
Ia menekankan pentingnya mengukur penciptaan lapangan kerja formal dan penguatan investasi swasta.
"Apakah investasi swasta benar-benar menguat?" kata Budi Frensidy.
Budi menambahkan bahwa penurunan laju dari kuartal sebelumnya merupakan bentuk penyesuaian pasca-musim libur keagamaan.
"Penurunan tersebut dapat dibaca sebagai normalisasi setelah dorongan musiman Ramadhan-Lebaran dan lonjakan belanja pemerintah pada awal tahun, bukan sebagai pelemahan tajam," kata Budi Frensidy.
Dari sudut pandang pasar modal, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus menilai fundamental ekonomi masih terjaga.
"Melampaui ekspektasi atau konsensus pasar yang memprediksi tumbuh sebesar 5,1 persen," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus.
Riset BRI Danareksa Sekuritas juga mencatat moderasi aktivitas ekonomi pada semester I-2026, tetapi menilai fundamental ekonomi domestik masih cukup solid.
Menanggapi capaian tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa perlambatan di triwulan II dipicu oleh tekanan harga minyak dunia yang memuncak pada periode April hingga Juni.
"Melambat di tengah harga minyak dunia yang tinggi kan? Di kuartal II tinggi kan sebetulnya harga impact dari global tentunya maksimal di situ kan? April, Mei, Juni ketika harga minyak dunia tinggi dan lain-lain, jelas ekspor segala macam terganggu kan? Enggak optimal lah," kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Meski demikian, pemerintah optimistis laju perekonomian akan meningkat pada paruh kedua tahun ini.
"Kita bisa tumbuh 5,29 persen itu udah cukup baik dengan keadaan yang seperti itu," kata Purbaya Yudhi Sadewa.
Pemerintah menargetkan percepatan pertumbuhan pada triwulan III dan IV dengan mengoptimalkan seluruh mesin penggerak ekonomi.
"Tapi ke depan saya yakin di kuartal ke-3, 4 kita akan dorong ke arah yang lebih cepat di high round menuju 6 persen dengan memaksimalkan semua engine-engine growth yang ada di perekonomian," kata Purbaya Yudhi Sadewa.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud mengonfirmasi besaran angka pertumbuhan ekonomi nasional tersebut.
"Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II tahun 2026 bila dibandingkan dengan triwulan II tahun 2025 atau secara year on year tumbuh sebesar 5,29 persen," kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow