Stimulus fiskal menopang pertumbuhan konsumsi rumah tangga

Smallest Font
Largest Font

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 masih ditopang stimulus fiskal untuk menjaga daya beli dan permintaan domestik, menurut data Badan Pusat Statistik. Konsumsi pemerintah tumbuh tertinggi 15,97% secara tahunan, sementara konsumsi rumah tangga meningkat 5,06% yoy.

BPS mencatat pengeluaran pemerintah menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi pada kuartal II-2026. Realisasi ini berbanding terbalik dengan konsumsi rumah tangga yang menjadi kontributor terbesar terhadap PDB namun tumbuh lebih rendah dibanding kuartal I-2026.

Untuk kuartal II-2026, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06% yoy, lebih rendah dari kuartal I-2026 sebesar 5,52% yoy. BPS mengaitkan lonjakan konsumsi pemerintah dengan pembayaran gaji ke-13 bagi ASN, TNI, dan Polri.

BPS juga menyebut percepatan pembayaran tunjangan tenaga pendidik non-PNS serta peningkatan belanja barang dan jasa. Komponen belanja tersebut mencakup Program Makan Bergizi Gratis.

Dalam kondisi ekonomi yang masih dipenuhi ketidakpastian, dukungan fiskal diperlukan untuk menjaga konsumsi masyarakat, khususnya kelompok berpendapatan menengah ke bawah, menurut Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata, Faisal Rachman.

"Dalam kondisi ekonomi yang masih dipenuhi ketidakpastian, dukungan fiskal memang diperlukan untuk menjaga konsumsi masyarakat, khususnya kelompok berpendapatan menengah ke bawah yang paling rentan mengalami penurunan daya beli." ujar Faisal Rachman, Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata.

Faisal menilai strategi pertumbuhan yang ditopang belanja pemerintah atau fiscal driven efektif dalam jangka pendek karena menjaga konsumsi dan aktivitas ekonomi saat sektor rumah tangga maupun dunia usaha belum pulih sepenuhnya.

"Faisal bilang, strategi pertumbuhan yang ditopang belanja pemerintah atau fiscal driven masih efektif dalam jangka pendek karena mampu menjaga konsumsi dan aktivitas ekonomi ketika sektor rumah tangga maupun dunia usaha belum sepenuhnya pulih." kata Faisal Rachman, Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata.

Ia mengingatkan keterbatasan fiskal untuk jangka panjang, karena ruang fiskal berpotensi semakin terbatas. Faisal menautkan perluasan basis pertumbuhan pada perbaikan pasar tenaga kerja dan inflasi yang terkendali.

"Dalam jangka pendek strategi fiscal driven tersebut memang akan efektif dalam menjaga pertumbuhan ekonomi, tapi dalam jangka panjang akan sangat terbatas jika tidak ada perubahan kondisi pasar tenaga kerja dan juga inflasi," tutur Faisal kepada Kontan, Rabu (5/8/2026).

Faisal menyebut perbaikan daya beli dapat diperkuat lewat peningkatan penyerapan tenaga kerja oleh sektor swasta, kenaikan pendapatan riil masyarakat, serta inflasi yang tetap terkendali.

"Ini menjadi kunci untuk keberlangsungan pertumbuhan ekonomi ke depannya terutama yang bersumber dari konsumsi," jelasnya.

Ia juga menyatakan pemerintah menghadapi tantangan menyeimbangkan peran fiskal: APBN sebagai motor penggerak pertumbuhan sekaligus menjaga ruang fiskal sebagai shock absorber ketika ekonomi mengalami gejolak. Faisal memperkirakan momentum pertumbuhan melambat pada kuartal III dan IV 2026.

Faisal memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 5,26% pada 2026, lebih rendah dari target pemerintah 5,4%. Ia menilai pertumbuhan tetap didorong permintaan domestik yang mendapat dukungan kebijakan fiskal ekspansif, termasuk mempertahankan subsidi energi.

Ia menambahkan jika reformasi struktural mendorong investasi swasta dan memperkuat pasar tenaga kerja, ketergantungan pada stimulus fiskal bisa berkurang sehingga pertumbuhan lebih berkelanjutan.

"Pertumbuhan dapat mendekati batas atas kisaran perkiraan kami jika hambatan eksternal mereda dan reformasi struktural mendapatkan daya tarik yang lebih kuat, memungkinkan pertumbuhan yang dipimpin fiskal untuk menarik investasi swasta," jelasnya.

Risiko penurunan, menurut Faisal, masih condong ke bawah jika pemerintah tidak menyeimbangkan agenda pro-pertumbuhan dengan kebutuhan menjaga stabilitas yang berpotensi mendorong Bank Indonesia mengambil sikap kebijakan lebih agresif lewat kenaikan suku bunga BI lebih lanjut. BPS juga mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 sebesar 5,29%, lebih rendah dari kuartal I-2026 sebesar 5,61%.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed