BTN Mengakuisisi Portofolio Kredit SMBC Indonesia Senilai Rp19,9 Triliun
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk sepakat mengambil alih portofolio pinjaman pensiunan dan pegawai aktif milik PT Bank SMBC Indonesia Tbk senilai Rp19,93 triliun melalui penandatanganan dua perjanjian bersyarat pada Jumat, 22 Mei 2026.
Dilansir dari CNBC Indonesia, transaksi material non-afiliasi ini mencakup pengalihan kredit pensiunan yang dikelola oleh PT Taspen (Persero), PT Asabri (Persero), dana pensiun lainnya, serta kredit karyawan aktif tertentu.
Manajemen SMBC Indonesia menjelaskan bahwa pengalihan ini bertujuan memastikan keberlanjutan layanan nasabah sekaligus mengalokasikan ulang modal ke area pertumbuhan inti yang lebih skalabel.
"Perseroan setuju untuk menjual dan mengalihkan, dan Pembeli setuju untuk membeli dan menerima Portofolio Pinjaman," tulis manajemen SMBC Indonesia dalam keterbukaan informasi.
Nilai penjualan ini setara dengan 46,3 persen dari ekuitas SMBC Indonesia per 31 Ditjen 2025 sehingga dikategorikan sebagai transaksi material menurut ketentuan Otoritas Jasa Keuangan.
Berdasarkan rilis Kompas.com, transaksi Conditional Portfolio Transfer Agreement (CPTA) untuk portofolio Taspen bernilai Rp12,58 triliun, sedangkan Conditional Loan Asset Transfer Agreement (CLATA) untuk Asabri dan kredit pegawai bernilai Rp7,34 triliun.
"Harga pembelian yang disetujui dari masing-masing Transaksi CPTA dan Transaksi CLATA adalah Rp 12.584.944.256.063 dan Rp 7.343.253.303.183, yang secara total sejumlah Rp 19.928.197.559.246," tulis manajemen SMBC Indonesia.
Unit bisnis pensiun telah lama menjadi bagian krusial dalam segmen ritel eks Bank BTPN tersebut sebelum berganti nama menjadi Bank SMBC Indonesia pada Oktober 2024.
"Perseroan memiliki unit bisnis pensiun khusus dalam segmen ritel yang melayani berbagai mitra dana pensiun institusional utama," tulis manajemen.
Secara proforma keuangan, pelepasan aset ini menurunkan total pinjaman SMBC Indonesia dari Rp144,22 triliun menjadi Rp124,42 triliun, namun memperbaiki profitabilitas dari rugi bersih menjadi laba bersih Rp437,7 miliar.
"Unit bisnis ini secara historis telah memainkan peran yang signifikan dalam menyediakan layanan pengelolaan dana pensiun dan layanan pembayaran kepada segmen pensiunan yang luas di Indonesia," tulis perseroan.
Langkah korporasi ini dilakukan untuk menyesuaikan kembali strategi jangka panjang bank yang kini mayoritas sahamnya dikendalikan oleh Sumitomo Mitsui Banking Corporation sebesar 91,047 persen.
"Saat ini Perseroan melaksanakan penyesuaian kembali atas strategi bisnis pensiun," tulis manajemen perseroan.
Pengalihan kredit ini direncanakan tetap menjaga hubungan hukum nasabah dengan SMBC Indonesia sampai seluruh persyaratan pendahuluan dan migrasi data rampung diselesaikan.
"Tindakan korporasi ini dimaksudkan untuk memastikan keberlangsungan layanan yang baik bagi nasabah yang berada di bawah pengelolaan Pembeli, sekaligus memungkinkan Perseroan untuk mengalokasikan kembali modal dan sumber dayanya ke area pertumbuhan inti yang lebih skalabel yang selaras dengan tujuan strategis jangka panjang Perseroan," tulis SMBC Indonesia.
Meskipun terjadi pengurangan portofolio kredit pensiun, operasional bank sebelumnya didukung oleh pertumbuhan kinerja dari konsolidasi Grup OTO sejak Maret 2024.
"Sebelum terjadinya penyelesaian Transaksi CPTA dan Transaksi CLATA, nasabah berdasarkan Portofolio Pinjaman dan Aset Pinjaman tetap merupakan nasabah dari dan memiliki hubungan hukum dengan Perseroan," tulis manajemen.
Nasabah yang masuk dalam daftar pengalihan aset CPTA dan CLATA dipastikan akan menerima surat pemberitahuan resmi dari pihak bank secara bertahap.
"Nasabah yang Portofolio Pinjamannya tercakup dalam CPTA akan mendapatkan pemberitahuan dari Perseroan terkait Transaksi CPTA setelah diterbitkannya Keterbukaan Informasi ini," tulis perseroan.
Dilansir dari Liputan6.com, sebelum transaksi ini, SMBC Indonesia mencatat pendapatan operasional Rp13,8 triliun hingga September 2025 dengan laba bersih konsolidasi sebesar Rp1,5 triliun.
"SMBC Indonesia tetap fokus mempertahankan NIM yang sehat di tengah suku bunga kredit yang kompetitif, kenaikan biaya pendanaan dan volatilitas pasar yang terus berjalan," demikian kutipan dari keterangan resmi SMBC Indonesia.
Direktur Utama SMBC Indonesia, Henoch Munandar, menjelaskan bahwa kinerja perseroan berupaya merespons dinamika pasar dan kebijakan moneter secara adaptif.
"Kami berupaya menciptakan dampak berkelanjutan dengan mendukung kemajuan ekonomi Indonesia, mendorong kesejahteraan nasabah, dan memberdayakan komunitas menuju pertumbuhan berkelanjutan. Seluruh upaya ini kami lakukan berlandaskan pola pikir adaptif serta komitmen terhadap pertumbuhan yang bermakna," ujar Henoch Munandar, Direktur Utama SMBC Indonesia.
Pengalihan aset perbankan ini telah dinilai wajar oleh KJPP Wawat Jatmika & Rekan tanpa memerlukan persetujuan RUPS berdasarkan regulasi POJK Nomor 17/2020.
"Total Nilai Transaksi CPTA dan Transaksi CLATA adalah sebesar Rp 19.928.197.559.246 atau setara dengan 46,3% nilai ekuitas perseroan per 31 Desember 2025," kata Eneng Yulie Andriani, Sekretaris Perusahaan BTPN dalam rilis Investor.id dan Babelinsight.id.
Penyelesaian akhir transaksi penyerahan portofolio kredit kepada BTN ini akan dibawa ke Badan Arbitrase Nasional Indonesia apabila terjadi sengketa di kemudian hari.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow