Bursa Asia Menguat Seiring Penurunan Harga Minyak Dunia
Bursa saham Asia mencatatkan penguatan pada Senin (27/7/2026) seiring penurunan tajam harga minyak dunia. Kondisi ini dipicu oleh kesepakatan penangguhan serangan antara Amerika Serikat dan Iran setelah terjadinya eskalasi militer selama dua pekan.
Penghentian konflik sementara tersebut meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap lonjakan inflasi global. Berdasarkan data pergerakan bursa, indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,24%, Topix menguat 0,60%, dan Kospi Korea Selatan bertambah 0,44%. Sementara itu, indeks Kosdaq melonjak 1,49% dan indeks S&P/ASX 200 Australia terangkat 0,97%.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman September merosot lebih dari 5% menjadi sekitar US$91,73 per barel. Pada saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 5,4% ke posisi US$84,45 per barel.
Penurunan harga minyak terjadi setelah Teheran mengonfirmasi penangguhan operasi militer selama Washington melakukan hal serupa. Sikap tersebut diambil usai pemerintah AS menunda kampanye pengeboman akibat pertimbangan persediaan senjata dan keterbatasan target.
Analis HSBC, Dhiraj Narula, memberikan analisisnya mengenai dampak lonjakan energi terhadap kebijakan moneter.
"Harga minyak yang lebih tinggi telah berkontribusi pada ekspektasi baru bahwa Federal Reserve mungkin perlu mempertahankan kebijakan yang lebih ketat untuk jangka waktu yang lebih lama," kata Dhiraj Narula, Strategis Suku Bunga AS di HSBC.
Langkah deeskalasi di kawasan Teluk mendapatkan tanggapan dari pengamat ekonomi internasional.
"Secara keseluruhan, perkembangan di Timur Tengah bergerak ke arah yang lebih baik. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa harga minyak di atas US$ 100 per barel mendorong kedua pihak memilih langkah deeskalasi," ujar Sally Auld, Kepala Ekonom NAB Group.
Perkembangan diplomasi juga dikonfirmasi oleh perwakilan diplomatik Amerika Serikat di forum internasional.
"Trump memilih untuk menghentikan sementara serangan tersebut untuk memungkinkan upaya diplomatik berlanjut," kata Mike Waltz, Duta Besar AS untuk PBB.
Terkait pandangan proyeksi lembaga keuangan global, Goldman Sachs menyampaikan analisis tertulis mengenai rapat kebijakan moneter The Fed yang dijadwalkan pada Rabu (29/7/2026).
"Mungkin akan ada setidaknya satu suara yang mendukung kenaikan suku bunga, tetapi mayoritas pengambil kebijakan diperkirakan belum akan mengambil langkah tersebut setelah data inflasi Juni menunjukkan perlambatan," tulis Goldman Sachs.
Selain penantian keputusan suku bunga The Fed, pelaku pasar di kawasan Asia kini mencermati rilis laporan keuangan kuartalan dari sejumlah perusahaan teknologi raksasa dunia seperti Microsoft, Meta, Amazon, Apple, dan Qualcomm.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow