Carlo Pernat Sebut Skill Marc Marquez Dua Kali Lipat Bezzecchi
Manajer gaek MotoGP Carlo Pernat menilai kemampuan membalap Marc Marquez dua kali lebih baik dibandingkan rival utamanya, Marco Bezzecchi dan Jorge Martin, dalam perebutan gelar juara dunia musim 2026. Pernat menegaskan Marquez tetap menjadi kandidat terkuat musim ini meski sempat mengalami kendala fisik dan performa motor.
Pengamat asal Italia tersebut menyoroti bagaimana Marquez mampu memaksimalkan potensi motor Ducati melampaui batasan teknisnya, terutama pada musim sebelumnya ketika pengembangan Desmosedici GP25 dinilai kurang efektif.
"Setidaknya 30 persen performa tambahan datang darinya. Dia memiliki motivasi yang sangat besar setelah semua yang dia alami, sehingga dia mampu menutupi hal-hal yang tidak bekerja dengan baik," kata Carlo Pernat, Pengamat MotoGP.
Kondisi fisik pembalap berjuluk The Baby Alien tersebut sempat belum optimal pada awal musim akibat cedera, yang membuatnya membalap lebih berhati-hati dibanding musim lalu.
"Pertama, harus diingat bahwa dia sempat mengalami cedera dan memulai musim dalam kondisi fisik yang kurang fit. Dia bukan Marquez yang sama seperti tahun lalu. Jadi, wajar jika dia membalap dengan lebih hati-hati.
Tahun lalu, tidak ada hal lain yang lebih penting baginya selain menang. Dia jatuh, bangkit lagi, lalu menang," ujar Carlo Pernat, Pengamat MotoGP.
Pernat menjelaskan persaingan gelar juara kembali terbuka karena Aprilia memanfaatkan situasi, di mana Marco Bezzecchi gagal meraih poin dalam empat seri berturut-turut sebelum libur musim panas.
"Persaingan perebutan gelar dunia kembali terbuka tahun ini, karena Aprilia sendiri yang membukanya kembali. Saat Marquez tertinggal 102 poin dari Bezzecchi, sulit membayangkan dia bisa bangkit mengejar ketertinggalan itu," kata Carlo Pernat, Pengamat MotoGP.
Ia juga menegaskan kualitas Bezzecchi di atas lintasan balap.
"Bezzecchi bukanlah seorang fenomena. Mari kita perjelas hal itu. Meski begitu, performanya tahun lalu luar biasa.
Dia mendapatkan dukungan penuh dari tim dan seluruh struktur Aprilia karena Martin absen akibat cedera, namun dia benar-benar tampil layaknya seekor ‘pitbull’. Dia juga menunjukkan mentalitasnya meningkat tajam. Kemajuan yang semakin terlihat jelas di awal musim ini, meskipun kemudian dia harus berhadapan dengan Martin," tutur Carlo Pernat, Pengamat MotoGP.
Ketegangan antara Bezzecchi dan Martin di dalam tim Aprilia pun mulai terlihat, terutama setelah insiden di Balaton Park.
"And dia menghadapi Martin yang sedang dalam performa puncak. Sesuatu yang, terus terang, bahkan tidak saya duga sebelumnya. Ditambah lagi, ada faktor Marquez dalam persaingan ini.
Lalu terjadilah peristiwa di Balaton Park. Suasananya tidak lagi sama seperti dulu. Saya tidak bilang Marco dan Jorge tidak saling bicara, tetapi tidak diragukan lagi ada ketegangan di antara mereka," ucap Carlo Pernat, Pengamat MotoGP.
Pernat menyamakan dinamika rivalitas internal tersebut dengan persaingan legendaris di masa lalu.
"Marco dan Jorge sedikit mengingatkan saya pada Max Biaggi dan Jean-Philippe Ruggia. Ingat saat Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo menjadi rekan setim? Kita bisa saja mencoba mengatur acara makan malam sebanyak apa pun yang kita mau. Yang terpenting adalah kedua tim tetap menjalin kerja sama," ujar Carlo Pernat, Pengamat MotoGP.
Mengenai kepindahan Martin ke Yamaha musim depan, Pernat melihat ambisi sang pembalap untuk membawa gelar juara.
"Namun, tanda tanya terbesar saat ini adalah Martin. Dia akan segera hengkang dan tidak memedulikan hal lain, dia hanya ingin menang. Dengan begitu, dia akan membawa pelat nomor 1 ke Yamaha, persis seperti yang dilakukannya saat tiba di Aprilia," kata Carlo Pernat, Pengamat MotoGP.
Di sisi lain, keputusan Ducati menggabungkan Pedro Acosta dan Marquez di tim pabrikan Ducati Lenovo mulai musim 2027 dinilai tepat oleh Pernat.
"Gigi Dall’Igna telah melakukan pekerjaan yang luar biasa. Maksud saya, secara umum saya tidak akan pernah menempatkan dua pembalap Spanyol dalam satu tim Italia. Tetapi dalam kasus ini, keputusannya tepat.
Gigi hanya ingin menang. Ducati berhasil memenangkan pasar dengan mendapatkan Pedro Acosta yang akan bersanding dengan Marquez. Jika tahun depan motornya tampil prima, sama seperti performa Ducati saat ini, saya rasa tim ini tidak mungkin kalah," tegas Carlo Pernat, Pengamat MotoGP.
Pernat kembali menegaskan keunggulan mental dan taktik Marquez dalam mengelola balapan.
"Marc Marquez adalah kandidat terkuat. Karena dia berhasil memangkas ketertinggalan 102 poin. Selain itu juga karena alasan yang sangat sederhana, yaitu dia tahu cara mengelola berbagai situasi.
Saat tahu bisa mengincar kemenangan, dia akan melakukannya. Saat menyadari harus bermain aman, dia akan melakukannya, mengamankan hasil, lalu melangkah maju. Dia tahu betul caranya.
Tanpa diragukan lagi, kemampuannya dua kali lebih baik dibandingkan Bezzecchi dan Martin," kata Carlo Pernat, Pengamat MotoGP.
Sistem pengembangan motor Ducati juga dikritik Pernat karena dianggap merugikan pabrikan Eropa tersebut.
"Quartararo dan Brivio adalah perekrutan yang luar biasa. Quartararo adalah satu dari tiga pembalap yang benar-benar menonjol di MotoGP saat ini, setara dengan Marc Marquez dan Pedro Acosta. Dan pemilihan Brivio sangatlah tepat, benar-benar langkah yang jitu.
Dia adalah sosok yang selalu mengelola segala sesuatunya dengan sempurna, sejak zaman masih di Yamaha. Dia juga berhasil meraih kemenangan bersama Suzuki, dan kini lihatlah apa yang dilakukannya bersama Trackhouse," ujar Carlo Pernat, Pengamat MotoGP.
Sementara itu, mantan pembalap Andrea Dovizioso memberikan pandangannya terkait performa dominan Aprilia di Sirkuit Silverstone, di mana Marco Bezzecchi mencetak rekor lap baru 1 menit 56,280 detik.
"Mereka harus memanfaatkan momen ini karena saat ini Marc Marquez yang bisa dibilang merupakan sosok yang paling mungkin menyulitkan mereka, sedang kesulitan. Entah karena motor Ducati sedikit kalah unggul di lintasan khusus ini, atau karena dia masih memiliki keterbatasan fisik," kata Andrea Dovizioso, Penguji Resmi Yamaha.
Dovizioso memperingatkan Aprilia untuk memaksimalkan setiap kesempatan meraih poin sebelum sirkuit lain memberi keuntungan bagi Ducati.
"Mereka harus mengumpulkan poin sebanyak mungkin dalam balapan-balapan ini. Sebab nantinya, di Aragon misalnya, ada kemungkinan Marc bisa membuat perbedaan seperti yang dia lakukan di Sachsenring. Jadi ya, mereka harus melakukannya," ucap Andrea Dovizioso, Penguji Resmi Yamaha.
Ia menilai karakteristik sirkuit Silverstone sangat spesifik dan tidak bisa menjadi patokan penuh untuk sisa musim.
"Silverstone adalah trek yang sangat unik. Sirkuit ini bukan trek yang bisa menunjukkan dengan tepat, bagaimana situasi sebenarnya sepanjang tahun karena karakteristiknya ekstrem, sangat lebar, dan menuntut di segala aspek. Namun menurut saya, Silverstone kembali mengonfirmasi kekuatan yang kita lihat di lintasan tahun ini.
Artinya, Aprilia memang sedikit lebih unggul dibandingkan Ducati. Meski begitu selisihnya tidaklah besar," kata Andrea Dovizioso, Penguji Resmi Yamaha.
Penampilan Alex Marquez yang meraih posisi keempat di Silverstone juga mendapat pujian dari Dovizioso.
"Alex yang sangat pandai mengelola cengkeraman ban, sebenarnya mampu meraih podium dan gapnya pun tipis. Hal itu mengisyaratkan bahwa perbedaan performa antar motor tidaklah sebesar yang terlihat. Kendati demikian, Aprilia sudah membuktikan keunggulan daya saing mereka karena para pembalapnya secara konsisten lebih mudah berada di barisan depan baik saat kualifikasi, sprint, maupun balapan utama," kata Andrea Dovizioso, Penguji Resmi Yamaha.
Dovizioso menyebut Marquez memiliki kualitas kepemimpinan alami yang baru disadari penuh oleh Ducati.
"Saya yakin Marc adalah seorang pemimpin karena caranya bekerja dan pendekatannya. Itulah sebabnya dia membuat orang-orang yang bekerja bersamanya merasa nyaman. Tentu saja bakatnya turut berperan ketika kita bisa melaju cepat dan segala sesuatu terasa lebih mudah bagi kita, semuanya menjadi lebih sederhana," ujar Andrea Dovizioso, Penguji Resmi Yamaha.
Analisis mendalam mengenai strategi kerja Marquez disampaikan Dovizioso berdasarkan pengalamannya bertanding langsung.
"Namun itu saja tidak cukup. Kalau kita mempelajari dan menganalisis perilakunya, kita akan melihat bahwa tindakannya terencana dan penuh perhitungan. Dia tidak sekadar turun ke lintasan dengan pikiran, ‘saya akan tampil hebat dan meninggalkan semua orang jauh di belakang’. Ada banyak kerja keras di balik layar, sama halnya dengan banyak pembalap sukses lainnya yang memprioritaskan aspek-aspek ini," tutur Andrea Dovizioso, Penguji Resmi Yamaha.
Dovizioso menegaskan kepemimpinan Marquez sudah terbukti sejak lama.
"Bagi saya, Marc adalah seorang pemimpin. Sekarang Ducati sudah memahami seperti apa Marc, sebelumnya mereka tidak melihat hal itu. Namun saat saya masih bersaing melawannya, saya memang melihatnya.
Saya tahu betapa kuatnya dia dan betapa hebatnya dia dalam hal ini. Ducati baru menyadarinya sekarang," kata Andrea Dovizioso, Penguji Resmi Yamaha.
Aksi Bezzecchi yang mengamankan podium ketiga di Silverstone juga dinilai Dovizioso sebagai langkah krusial untuk perburuan gelar.
"Menurut saya keputusannya berani mengambil risiko untuk mengamankan posisi ke-3, itu tepat. Hal itu menjadi bukti tambahan bahwa dia adalah seorang penantang gelar dunia. Itu akan menjadi modal berharga baginya dalam balapan-balapan mendatang.
Ini bukan sekadar soal tambahan poin yang dia peroleh, melainkan soal pendekatan dan mentalitasnya. Dia melakukan hal yang benar. Senang rasanya melihatnya begitu emosional, pemandangan yang luar biasa," kata Andrea Dovizioso, Penguji Resmi Yamaha.
Mengenai peluang juara dunia, Dovizioso menilai Martin berada di posisi yang sangat menguntungkan.
"Kalau ditanya siapa pembalap Aprilia yang paling siap baik dari segi kemampuan maupun karena dia sudah pernah memenangkan gelar, jawabannya pastilah Jorge Martin. Lagipula, masih banyak balapan tersisa. Akan ada balapan di mana Ducati dan Marc benar-benar bisa membuat perbedaan, dan kita harus melihat bagaimana situasi-situasi tersebut ditangani," pungkas Andrea Dovizioso, Penguji Resmi Yamaha.
Persaingan papan atas klasemen sementara berlangsung ketat setelah 12 seri. Jorge Martin memimpin dengan keunggulan 31 poin dari Bezzecchi, sedangkan Marquez berada di posisi keempat, hanya terpaut tiga poin dari pembalap Trackhouse Racing Ai Ogura di posisi ketiga.
Ogura menjadi fenomena tersendiri musim ini dengan konsistensinya finis sembilan kali di posisi lima besar dalam 12 balapan utama. Marquez sendiri mengakui bahwa pembalap asal Jepang tersebut sulit diprediksi secara psikologis.
"Saya tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Ogura merupakan sebuah teka-teki," kata Marc Marquez, Pembalap Ducati Lenovo.
Di sisi lain, mantan pembalap Alex Barros menilai Ogura memiliki potensi besar membuat kejutan dalam persaingan gelar.
"Apakah Ogura merupakan kandidat juara dunia? Mengapa tidak? Bagi saya, Marc Marquez jelas merupakan favorit utama namun Ai adalah sosok yang penuh kejutan dan sulit diprediksi. Kita tahu betul apa yang mampu dicapai Marc, sedangkan kemampuan Ogura masih menjadi tanda tanya besar," kata Alex Barros, Mantan Pembalap MotoGP.
Barros menyoroti keunggulan gaya balap Ogura yang dinilai sangat presisi saat mengelola usia ban.
"Kita telah melihat bahwa dia sangat piawai dalam menjaga kondisi ban. Pada lap-lap awal, Ogura memang butuh waktu untuk menemukan ritmenya. Tetapi begitu ban memberikan kepercayaan diri kepadanya, dia berubah menjadi seperti sebuah robot.
Ogura memiliki keseimbangan antara kehalusan teknik dan agresivitas yang sempurna. Gaya balapnya sangat halus dan sensitif," ujar Alex Barros, Mantan Pembalap MotoGP.
Selain persaingan lintasan, pengembangan teknologi juga terus berlanjut. Pembalap KTM Pedro Acosta baru saja menguji perangkat earplug radio baru pada sesi latihan di Sachsenring dan Silverstone untuk mendukung komunikasi keselamatan dari Race Direction.
"Ini adalah earplug (sumbat telinga) yang ingin digunakan Dorna untuk sistem audio tersebut. Namun, bisa dibilang ini adalah tes pertama. Saya sangat sensitif terhadap earplug, tetapi mereka berhasil menemukan kompromi yang bagus. Saya cukup puas dengan hasilnya," kata Pedro Acosta, Pembalap Red Bull KTM.
Pengembangan perangkat kustom ini ditujukan agar tidak mengganggu kenyamanan pembalap saat memacu sepeda motor di lintasan.
"Mereka menemukan cara untuk menggabungkan earplug yang saya sukai dengan bentuk baru yang dicetak khusus. Prioritas utamanya bukan terletak pada fungsionalitas sistem radio itu sendiri, melainkan pada kenyamanan penggunaannya sehari-hari. Saya tidak tahu bagaimana mereka akan mengembangkan aspek audionya lebih lanjut, tetapi syarat minimalnya adalah alat itu harus nyaman dipakai," ujar Pedro Acosta, Pembalap Red Bull KTM.
Acosta mengonfirmasi kenyamanan perangkat tersebut selama pengujian intensif di dua sirkuit berbeda.
"Model lain yang kami coba sebelumnya tidak pas. Dan saya sangat puas dengan versi terbaru ini hingga secara sukarela saya memakainya di Sachsenring dan di sini. Saya memakainya karena menurut saya alat itu nyaman. Jika tidak nyaman, saya pasti sudah kembali menggunakan yang standar," kata Pedro Acosta, Pembalap Red Bull KTM.
Hingga saat ini Dorna belum menetapkan tanggal resmi penerapan sistem radio komunikasi dua arah tersebut untuk seluruh pembalap dalam balapan resmi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow