Nicolo Bulega Jelaskan Adaptasi Motor dan Persiapan MotoGP 2026

Smallest Font
Largest Font

Nicolo Bulega saat ini memimpin klasemen Superbike dengan 491 poin dan berupaya memperpanjang dominasinya di Magny-Cours, Prancis, yang menjadi lokasi balapan akhir pekan ini.

Rider tim Aruba.it Ducati ini telah menang 24 kali berturut-turut, namun belum melewati rekor 27 kemenangan beruntun Alvaro Bautista. Bulega mengakui kemenangan rekan setimnya, Iker Lecuona, di Donington membuatnya sulit memecahkan rekor tersebut.

Untuk balapan di Magny-Cours, Bulega mengaku menyukai sirkuit tersebut dan antusias menguji motor baru yang telah disesuaikan lebih baik dengan gaya balapnya dibanding tahun lalu.

"Ini adalah sirkuit yang saya sukai. Saya tak sabar untuk menguji motor baru di lintasan ini karena tahun lalu saya sempat kesulitan dengan swingarm yang lama," ujar Bulega.

Dia menjelaskan bahwa saat awal bergabung dengan Ducati, motor masih disesuaikan untuk gaya balap Alvaro Bautista yang memiliki postur berbeda. Ducati kemudian melakukan penyesuaian agar motor cocok dengan gaya balapnya.

"Pada tahun pertama, saya dan kepala kru, saya juga dengan bantuan Ducati berusaha menyesuaikan motor agar cocok dengan saya, karena sebelumnya motor itu disetel sesuai gaya balap Bautista. Lagipula, secara fisik kami sangat bertolak belakang. Saya merasa nyaman selama dua sesi tes pertama, namun belum senyaman yang saya inginkan," ujar Bulega.

Selama musim dingin, Ducati mendengarkan masukan Bulega dan ia mulai menjadi pembalap utama Ducati dengan performa kompetitif tanpa kehilangan kecepatan di trek lurus serta mampu mengendalikan motor dengan lincah dan cepat saat akselerasi.

Bulega juga menilai proses adaptasi pembalap MotoGP yang akan pindah ke WSBK tahun depan tidak mudah karena perbedaan motor dan ban yang digunakan. Ia menyebut Jack Miller, Brad Binder, Alex Rins, dan Franco Morbidelli sebagai pembalap tangguh yang akan mampu tampil cepat meski transisi menantang.

"Menurut saya itu tidak akan mudah, karena mereka terbiasa mengendarai motor yang benar-benar berbeda dengan tenaga yang jauh lebih besar. Mereka menggunakan ban yang berbeda. Meskipun Michelin akan hadir di WSBK tahun depan, bannya tidak akan sama. Sama halnya ban Pirelli untuk Superbike tidak sama dengan ban MotoGP," ujar Bulega.

"Namun DNA-nya kurang lebih sama, jadi transisinya akan sangat mirip dengan pengalaman saya. Mereka jelas pembalap yang tangguh. Kalau kita berlaga di MotoGP, berarti memang kita kuat. Jadi menurut saya, mereka akan mampu tampil cepat," tambahnya.

Tahun depan, Bulega akan pindah ke MotoGP bersama tim VR46 Ducati. Ia mengaku bangga dengan perjalanan karirnya yang penuh tantangan dan masa sulit, serta percaya dengan orang dan metode yang tepat, ia bisa mengeluarkan potensi terbaik.

"Saya bangga melihat perjalanan yang sudah saya lalui. Jalannya tidak mudah dan saya lebih sering mengalami masa-masa sulit daripada masa kejayaan. Namun saya tahu bahwa dengan orang-orang yang tepat dan metode kerja yang tepat, saya bisa mengeluarkan potensi kecepatan yang saya yakini saya miliki," ujar Bulega.

Bulega menegaskan bahwa MotoGP akan menuntut pembalap untuk naik level karena semua pembalap di sana adalah juara, dan ia merasa bangga atas kebangkitannya dari masa sulit di Moto2.

"Jelas, MotoGP akan menuntut kita untuk naik level karena semua pembalap di sana adalah juara. Kalau melihat kembali perjalanan karir balap saya, mulai dari saat saya benar-benar terpuruk di Moto2 hingga bangkit kembali, saya merasa bangga. Hal itu menyadarkan saya bahwa kita tidak boleh menyerah, bahkan saat merasa sudah berada di titik terendah," ujar Bulega.

Pada 2025, Bulega pernah mengendarai Desmosedici 1000cc sebagai pembalap pengganti di Valencia menggantikan Marc Marquez yang cedera. Ia juga beberapa kali menguji motor Ducati 850cc yang akan digunakan tahun depan.

"Saya sudah mengendarai motor itu selama beberapa hari. Saya yakin saat menjajalnya lagi nanti, saya akan lebih cepat karena pengalaman saya sudah bertambah. Ducati juga akan lebih memahami cara mengembangkannya, karena dengan ban Pirelli karakteristik motor tersebut sangat berbeda dibandingkan saat menggunakan ban Michelin," ujar Bulega.

Ia menambahkan bahwa meskipun menggunakan ban Pirelli di MotoGP, karakter ban tersebut berbeda dari ban di WorldSBK sehingga feel mengendarai motor tidak sama.

"Ban yang digunakan memang Pirelli, namun bukan tipe yang dipakai di Superbike. Mungkin lebih mudah untuk mendapatkan feel pada bagian depan motor dibandingkan saat menggunakan Michelin, karena DNA bannya serupa. Akan tetapi gaya balapnya berbeda dari Superbike, begitu pula dengan motornya sendiri yang memang berbeda. Jadi, dengan ban yang sedikit berbeda dan motor yang benar-benar lain, feelnya tidak akan terlalu mirip dengan mengendarai motor Superbike saat ini," jelasnya.

Bulega menyebut pengalaman di Superbike akan membantu dalam memahami ban saat pindah ke MotoGP, meski motor yang digunakan akan berbeda.

"Pengalaman saya di sini bisa membantu dalam beberapa aspek, terutama soal memahami ban. Untuk motornya sendiri tidak terlalu banyak, karena sasisnya nanti kurang lebih akan tetap sama seperti yang digunakan tahun ini," ujar Bulega.

Dia menilai para pembalap MotoGP seperti Marc Marquez tidak butuh waktu lama untuk menguasai motor yang kurang lebih sama dengan yang dipakai di Superbike, meski dengan ban berbeda dan kecepatan lebih rendah.

"Pengalaman melakukan tes memang akan membantu pada awalnya, tetapi para pembalap MotoGP itu luar biasa. Saya rasa pembalap seperti Marc Marquez tidak butuh waktu lama untuk menguasai motor yang kurang lebih sama, hanya saja menggunakan ban yang berbeda. Kecepatannya memang akan lebih rendah, tetapi melaju pada kecepatan 335 km/jam pun tidak buruk. Itu tidak seperti mengendarai motor Moto3," ujar Bulega.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed