CDRI Perkuat Ketahanan Infrastruktur Bencana dan Riset Global

Smallest Font
Largest Font

Koalisi global Coalition for Disaster Resilient Infrastructure (CDRI) terus memperkuat ketahanan infrastruktur dari risiko bencana dan perubahan iklim. Dilansir dari Detikcom, langkah ini ditempuh dengan membangun sektor penelitian dan pendidikan yang kokoh.

Saat ini CDRI memfasilitasi 58 negara anggota serta 12 organisasi mitra untuk saling berbagi pengetahuan. Selain mendorong penelitian teknis, aliansi internasional ini berinvestasi langsung pada pengembangan fasilitas fisik yang tahan dampak krisis iklim.

Setiap negara anggota mendapatkan keuntungan berupa akses terhadap keahlian global, dukungan teknis, pendanaan, hingga solusi inovatif. CDRI juga telah memfasilitasi lebih dari 250 diskusi panel yang melibatkan 500 pakar infrastruktur.

Direktur Jenderal CDRI, Amit Prothi, memaparkan fokus lembaga dalam pengembangan kapasitas masyarakat melalui perguruan tinggi. Program tersebut mencakup riset aksi Infrastruktur Tangguh Bencana (DRI), konferensi ilmiah, serta penyediaan beasiswa khusus.

"Pengembangan kapasitas riset, aksi tentang DRI (Infrastruktur Tangguh Bencana) melalui perguruan tinggi, dan program beasiswa," kata Amit Prothi saat menerima delegasi media BRICS 2026 di New Delhi, Jumat (11/9/2026).

Jaringan perguruan tinggi global terus diperkuat dalam program ini. Kolaborasi meliput kampus-kampus Indian Institutes of Technology (IIT) hingga berbagai lembaga riset terkemuka di seluruh negara anggota.

Selain itu, CDRI memanfaatkan ragam metode dan metrik guna menyusun basis data risiko bencana secara presisi. Langkah ini krusial untuk memetakan estimasi potensi kerugian fisik maupun ekonomi di berbagai wilayah.

"Menyediakan data AAL (Kerugian Tahunan Rata-Rata) dan RAAL (Kerugian Tahunan Rata-Rata Relatif) untuk lebih dari 170 negara," ujar Amit.

Data risiko tingkat daerah pada skala nasional tersebut kini sudah tersedia untuk sejumlah negara. Di antaranya mencakup Bangladesh, Brasil, Mesir, Indonesia, Nigeria, Afrika Selatan, dan Vietnam.

Meski tidak tercatat sebagai anggota resmi CDRI, Indonesia aktif berpartisipasi dalam pemanfaatan fasilitas penelitian. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bahkan membuka akses infrastruktur riset unggulan nasional kepada para peneliti dari negara-negara anggota BRICS dan CDRI.

"Indonesia membuka infrastruktur dan fasilitas riset unggulan BRIN untuk dimanfaatkan bersama oleh periset, perguruan tinggi, industri, serta periset dari negara-negara anggota BRICS. Kami ingin akses terhadap fasilitas riset ini semakin memperkuat mobilitas periset dan mendorong lahirnya kolaborasi riset yang konkret," kata Kepala BRIN Arif Satria pada The 14th BRICS STI Ministerial Meeting di Chennai, Jumat (21/8/2026).

BRIN menawarkan tiga program utama untuk dikolaborasikan bersama negara-negara BRICS. Tiga program tersebut yakni Research and Workshop on Time-domain Astrophysics, Expedition of Terrestrial Geological Field Training for Disaster Mitigation, serta Training on Indonesian Biodiversity Structural Biology.

Melalui langkah ini, Indonesia berkomitmen memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan sains global dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

"Indonesia tidak hanya ingin menjadi bagian dari kolaborasi, tetapi juga menawarkan kapasitas, fasilitas, pengetahuan, dan peluang kerja sama yang dapat dikembangkan bersama," ujar Arif Satria.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed