China Kuasai Peringkat Atas PISA 2025 di Matematika dan Sains

Smallest Font
Largest Font

China menduduki posisi teratas dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 dengan skor tertinggi pada kemampuan matematika dan sains, serta menempati peringkat kedua dan ketiga di bidang membaca dan komputasi.

Lebih dari 780.000 siswa dari 91 negara mengikuti PISA 2025, termasuk 12.385 siswa dari 374 sekolah di China yang menyelesaikan tes tersebut, dilansir dari Detikcom.

China mencatat skor 612 untuk matematika dan 597 untuk sains, menempatkannya di peringkat pertama dunia dalam dua bidang tersebut. Dalam kemampuan membaca, China berada di posisi kedua dengan skor 527, di bawah Singapura. Sedangkan untuk komputasi, China berada di urutan ketiga setelah Makau dan Singapura dengan skor 560.

Selain hasil akademik, PISA 2025 juga mengungkap mentalitas belajar siswa di China, khususnya di empat wilayah utama yakni Beijing, Shanghai, Jiangsu, dan Zhejiang (BSJZ). Sebanyak 78% siswa di wilayah tersebut menunjukkan rasa penasaran yang tinggi terhadap berbagai hal.

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mencatat 73% siswa China berusaha lebih keras ketika menghadapi tantangan belajar, lebih tinggi dibandingkan rata-rata OECD sebesar 60%. Namun, 8% siswa di wilayah BSJZ menganggap sekolah sebagai kegiatan yang membuang waktu.

Sikap ingin tahu, ketekunan, dan penghargaan terhadap sekolah menjadi faktor yang erat kaitannya dengan prestasi di bidang sains yang lebih baik.

Dalam aspek pola pikir, 50% siswa di wilayah BSJZ memiliki growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kecerdasan dapat dikembangkan melalui usaha dan umpan balik. Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata OECD yang mencapai 69%.

Data menunjukkan siswa dengan growth mindset meraih skor 28 poin lebih tinggi dalam sains dibandingkan siswa dengan pola pikir tetap (fixed mindset).

Meskipun mentalitas belajar relatif baik, hanya 36% siswa di wilayah BSJZ yang rutin membuat rencana belajar, dan 38% yang secara aktif menguji pemahaman materi secara mandiri.

OECD menilai pembelajar mandiri yang mampu mengatur diri sendiri dan tahu kapan harus meminta bantuan penting untuk keberhasilan akademik. Data PISA 2025 mengungkapkan 87% siswa BSJZ meminta bantuan guru dan 93% bertanya kepada teman jika tidak memahami materi.

Kemandirian dalam menetapkan tujuan belajar dan mencari bantuan ini memiliki korelasi positif terhadap performa sains siswa di China, setelah mempertimbangkan faktor sosial-ekonomi siswa dan sekolah.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed