Clarissa Aurelia Bangun Startup CLEAN di AS dan Raih IPK 3,96
Gadis berusia 19 tahun bernama Clarissa Aurelia Nahid Saputra mengukir prestasi mengagumkan di dunia bisnis teknologi internasional. Lulusan SMA Unggulan MH Thamrin ini sukses mendirikan startup di Silicon Valley, California, Amerika Serikat, meski belum menyelesaikan studi sarjananya.
Seperti dilansir dari Detikcom, Clarissa saat ini tercatat sebagai mahasiswa tingkat sarjana di University of California San Diego (UCSD). Di tengah kesibukan akademisnya, ia juga aktif berkontribusi dalam riset bidang robotika.
Clarissa memegang peran sebagai co-founder di CLEAN, sebuah perusahaan rintisan berbasis B2B. Perusahaan tersebut berhasil memperoleh pendanaan dari Y Combinator, yang dikenal sebagai salah satu akselerator startup paling bergengsi di tingkat global.
Melalui inovasi teknologi yang dikembangkan, CLEAN membantu berbagai perusahaan mengidentifikasi calon pelanggan potensial. Sistem ini bekerja dengan menganalisis data internet, seperti tren perekrutan tenaga kerja hingga riset internal perusahaan.
Menjalankan bisnis rintisan di sela statusnya sebagai mahasiswa aktif membawa tantangan besar. Kendati harus membagi fokus, Clarissa tetap berhasil mempertahankan prestasi akademik dengan meraih IPK sebesar 3,96.
"Membagi waktu antara kampus dan startup itu susah, pekerjaannya bukan lagi nine to five, tapi 24/7," kata Clarissa saat ditemui Detikcom di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat pada Senin (31/8/2026).
Pencapaian Clarissa didasari oleh perencanaan matang yang dirancang sejak masa sekolah menengah. Ia menerapkan metode backward planning untuk mewujudkan mimpinya membangun perusahaan rintisan.
"Saya lebih mengutamakan perencanaan sejak awal dengan metode backward planning (merencanakan dari target masa depan mundur ke masa sekarang). Karena sejak SMA saya sangat ingin terjun ke dunia startup, saya menyusun jadwal dan rencana secara terbalik untuk menentukan langkah-langkah yang harus saya ambil," tutur Clarissa.
Dalam mengelola waktu, gadis asal Jakarta ini memilih untuk mempelajari materi perkuliahan dua minggu lebih awal di awal semester. Langkah ini membantunya menyelesaikan seluruh tugas jauh sebelum batas waktu yang ditentukan.
"Dan menurut aku hal yang paling baik untuk dilakukan itu untuk ngerjain tugas-tugas itu lebih awal daripada deadline-nya. Karena banyak orang common mistake-nya itu ngerjainnya dekat-dekat deadline. Dan mempelajari semua materi lebih awal di kayak awal-awal dua minggu semester itu sangat penting," ujar Clarissa.
Selain manajemen waktu, Clarissa menyarankan para mahasiswa yang sedang membangun startup untuk aktif mengikuti kompetisi hackathon. Langkah ini dinilai efektif untuk menarik perhatian para investor early stage atau pre-seed.
"Nah, jadi untuk kalian dapat Venture Capitalist atau investor untuk mendanai company kalian, tentunya kalian harus punya ide. Dan biasanya untuk investor-investor yang pre-seed alias yang masih early stage gitu mereka itu lebih suka founders-nya gitu, lebih memercayai founders daripada idenya," kata Clarissa.
Ia menambahkan bahwa membangun portofolio yang kuat serta menunjukkan rasa percaya diri menjadi kunci utama dalam meyakinkan para pemodal.
"Jadi rekomendasi aku itu kayak kalian juga nge-build portofolio yang bagus dan kalian harus kayak menjadi orang yang confident gitu," ujar Clarissa.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow