Dampak Perang Iran dan AS Guncang Stabilitas Timur Tengah
Eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran sepanjang Juli hingga Agustus 2026 memicu dampak menyeluruh di Timur Tengah, mulai dari krisis ekonomi Yordania, pergeseran peran diplomasi Mesir, hingga ratusan kasus cedera otak traumatis di kalangan prajurit Amerika Serikat.
Keterlibatan pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania memicu serangan balasan massif dari Iran yang meluncurkan sedikitnya 262 rudal dan drone dalam bulan pertama perang. Sektor pariwisata Yordania merosot hampir 10 persen pada empat bulan pertama 2026, sementara tagihan impor energi membengkak 36 persen akibat penghentian pasokan gas dari Israel.
Di sisi lain, Mesir memilih menjaga jarak dari pertempuran langsung sehingga ekonomi domestiknya tumbuh 4,6 persen dengan penerimaan 9 juta wisatawan pada semester I-2026. Kendati demikian, posisi Mesir sebagai mediator utama kawasan tergerus dan mulai digantikan oleh Pakistan, Turki, serta negara-negara Teluk.
Di panggung militer, Penasihat Keamanan Pemimpin Tertinggi Iran Mayor Jenderal Mohsen Rezaei mengklaim Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berhasil melumpuhkan sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Irak dan Kuwait dalam pertempuran 17 hari.
"Kita harus menyebut konflik ini sebagai Perang Ketiga atau Perang 17 Hari Muharram, di mana kita juga memberikan pukulan telak ke Amerika," kata Rezaei saat wawancara dengan media Iran pada Senin, dilansir Mehr News.
Mantan panglima IRGC tersebut juga menilai Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengabaikan kesepakatan penghentian pertempuran dan nota kesepahaman Selat Hormuz.
"Bagi dunia, perang ini aneh, tetapi bagi kami itu bisa diprediksi," kata Rezaei.
Rezaei menambahkan bahwa pasukan Iran mengambil tindakan tegas terhadap kapal-kapal yang melanggar aturan di perairan strategis tersebut.
"AS mencoba membuat pengaturan baru, membangun koridor di selatan Selat Hormuz dan mengabaikan peringatan Republik Islam Iran, oleh karena itu pasukan menargetkan dua atau tiga kapal agar mereka mematuhi kesepakatan," ujar Rezaei.
Data Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mencatat empat prajuritnya tewas di Yordania dan Irak pada Juli 2026, sementara 417 tentara mengalami luka-luka. Secara keseluruhan, hampir 700 anggota militer Amerika Serikat terluka dalam konflik ini, dengan mayoritas mengidap gegar otak atau cedera otak traumatis (TBI).
Mantan anggota Korps Marinir Amerika Serikat Joe Shearer membagikan pengalamannya bertahan hidup setelah dua kali terkena gelombang ledakan di Irak.
"Selama kamu bisa bangkit dan kembali berpatroli, ya begitulah yang kamu lakukan," kata Shearer.
Shearer yang kini berusia 40 tahun mengaku menyembunyikan gejalanya selama bertahun-tahun karena budaya militer yang enggan terlihat lemah.
"Kamu tidak ingin menjadi orang yang pergi ke unit kesehatan atau berkata, 'Oh, saya terluka,' karena kamu akan jauh dari timmu," kata Shearer.
Dampak cedera otak traumatis tersebut memicu masalah ingatan berkepanjangan hingga memengaruhi kehidupan keluarganya.
"Saya tahu beberapa dari hal itu terdengar stereotip, tetapi bagi saya, rasanya berbeda. Tidak ada ingatan bahwa percakapan itu pernah terjadi," ujarnya.
Kalangan ilmuwan memeringatkan bahwa gelombang kejut ledakan drone maupun mortir memicu kerusakan sel otak yang berbeda dari cedera benturan fisik biasa. Profesor emeritus neurologi University of Colorado School of Medicine Dr. James Kelly memberikan penjelasannya mengenai bahaya tersebut.
"Gelombang ledakan itu sendiri dapat menyebabkan cedera," kata Kelly.
Kelly menekankan pentingnya penanganan khusus bagi prajurit yang terpapar ledakan di medan perang.
"Ini merupakan cedera sel yang berbeda. Ledakan berbeda dengan cedera akibat benturan langsung di kepala," ujarnya.
Anggota Senat Amerika Serikat dari Partai Demokrat mendesak investigasi menyeluruh terhadap penanganan medis prajurit yang terluka pascaserangan drone Iran di Kuwait. Senator Wisconsin Tammy Baldwin mengritik lambatnya penanganan medis bagi korban cedera otak.
"Saya berbicara langsung dengan warga Wisconsin yang mengalami cedera otak traumatis akibat perang Presiden Donald Trump di Iran dan berminggu-minggu tidak mendapatkan pemeriksaan, apalagi perawatan khusus untuk cedera mereka," kata Baldwin dalam sebuah pernyataan.
Juru bicara Defense Health Agency Peter Graves menyampaikan penegasan mengenai komitmen penanganan medis militer.
"kebijakan yang berlaku adalah anggota militer menjalani pemeriksaan TBI," kata Graves melalui email.
Hingga kini, militer Amerika Serikat mencatat lebih dari 500.000 anggotanya telah terdiagnosis mengidap cedera otak traumatis sejak tahun 2000 hingga 2025.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow