Mahasiswa Texas Tech Gelar Aksi Demonstrasi dan Eks Tahanan Diwisuda
Lebih dari 100 mahasiswa dan pendukung berkumpul di Texas Tech University pada Kamis untuk menggelar aksi teatrikal pemakaman kebebasan akademik sebagai protes terhadap peningkatan serangan politik pada pendidikan tinggi di Texas. Aksi yang diorganisasi oleh Students Engaged in Advancing Texas (SEAT) dan Raiders Against Censorship ini bertepatan dengan rapat Dewan Pengawas Texas Tech University System.
Para peserta mengenakan pakaian berkabung, mengadakan persemayaman, menyampaikan eulogi, dan berbaris melintasi kampus di belakang kereta bertenaga kuda yang membawa guci berisi buku serta silabus. Demonstrasi berpusat pada kekhawatiran seputar kebijakan pendidikan tinggi dan keputusan kampus yang membatasi ekspresi bebas, melemahkan kemandirian akademik, serta menciptakan lingkungan yang kurang ramah bagi mahasiswa marginal, terutama mahasiswa transgender.
"This is not symbolic exaggeration but a serious response to a year of decisions that threaten the integrity of our universities," kata James Snoddy, pendiri Raiders Against Censorship dan anggota SEAT.
Snoddy menambahkan bahwa pengorganisasian aksi ini menunjukkan kepada profesor, staf, dan administrator di Texas Tech University bahwa mahasiswa peduli dengan keputusan yang mereka ambil. Mahasiswa menegaskan komitmen untuk membela kebebasan akademik dan mendukung warga sekolah tanpa memandang siapa yang memimpin.
"Organizing this funeral demonstrated to professors, staff, and administrators at Texas Tech University that students care about the decisions they make. We stand up for our academic freedom and support the people of our school no matter who is in charge," ujar James Snoddy, pendiri Raiders Against Censorship dan anggota SEAT.
Kondisi penurunan ini memicu keprihatinan mendalam dari para mahasiswa yang merasakan hilangnya rasa aman di lingkungan kampus mereka sendiri. Perubahan kebijakan yang terjadi dinilai telah mengikis ruang aman bagi berekspresi dan apresiasi budaya.
"We mourn a campus that my friends and loved ones felt safe on," kata Tara Findley, mahasiswa tahun ketiga di Texas Tech dan anggota SEAT.
Findley juga menyoroti bagaimana keputusan-keputusan tersebut berdampak buruk pada masa depan profesional kesehatan serta hilangnya kesempatan untuk menikmati karya seni komunitas. Ia mengkritik erosi keahlian dan kebebasan penyelidikan terbuka di ranah pendidikan tinggi.
"We mourn the assurance that our future mental and medical health professionals will be familiar with our needs. We mourn a student body who will never get to see the art and culture that my community has brought about," ujar Tara Findley, mahasiswa tahun ketiga di Texas Tech dan anggota SEAT.
Kekhawatiran mengenai hilangnya objektivitas berbasis ilmu pengetahuan dan pembatasan hak bersuara menjadi poin utama kritik para aktivis. Mereka menilai kebebasan berbicara seharusnya berlaku setara untuk seluruh civitas akademika.
"We mourn when we knew for sure our classes were based on and written by the best available knowledge and entrusted to experts and scientists," kata Tara Findley, mahasiswa tahun ketiga di Texas Tech dan anggota SEAT.
Pernyataan penutup dari Findley menegaskan duka mendalam atas hilangnya hak bersuara yang inklusif di lingkungan kampus. Pihak penyelenggara pun menyatakan dalam program acara bahwa semangat kebebasan akademik akan tetap hidup melalui mereka yang terus mengajukan pertanyaan sulit.
"We mourn when freedom of speech on campus meant freedom for all," ujar Tara Findley, mahasiswa tahun ketiga di Texas Tech dan anggota SEAT.
Sementara itu, dalam isu terpisah mengenai kebebasan dan hak individu di Texas, seorang lulusan University of Texas di Austin bernama Otofu Ayaku membagikan kisah masa penahanannya yang kontras dengan kegembiraan wisuda. Ayaku berhasil mengikuti prosesi kelulusan bulan ini setelah sebelumnya menghabiskan waktu sekitar satu bulan di dua fasilitas penahanan imigrasi di area Houston.
Ayaku yang berasal dari Nigeria datang ke Amerika Serikat pada tahun 2018 saat berusia 13 tahun. Ia ditangkap saat razia lalu lintas pada bulan Maret dan dibawa ke Penjara Austin County sebelum dipindahkan ke Montgomery Processing Center dan Houston Contract Detention Facility, meskipun memiliki dokumen legal.
"I would say that my experience in detention was dystopian," kata Otofu Ayaku, lulusan University of Texas at Austin.
Ayaku menggambarkan situasi di dalam tahanan yang membuatnya merasa kehilangan kendali penuh atas hidupnya meskipun tetap menjalani aktivitas harian. Di dalam fasilitas tersebut, ia ditempatkan di satu ruangan besar bersama sekitar 40 imigran lain dengan privasi yang sangat minim.
"Dystopian in the sense that you're living, but you don't really have control over anything," ujar Otofu Ayaku, lulusan University of Texas at Austin.
Selama masa penahanan, Ayaku menjalin pertemanan dengan sesama imigran dari berbagai belahan dunia seperti Afrika, Karibia, dan Asia Selatan. Untuk mengisi waktu, petugas sesekali mencetak halaman buku mewarnai, dan beberapa tahanan membuat gelang dari kantong sampah yang dipotong menggunakan pemotong kuku lalu diwarnai dengan serutan pensil warna.
"I made a bunch of friends," kata Otofu Ayaku, lulusan University of Texas at Austin.
Hubungan komunikasi setelah bebas menjadi terbatas karena kendali telepon berada di tangan mereka yang masih ditahan. Ayaku kini terus mengenakan gelang buatan tangan tersebut sebagai pengingat akan perjuangan rekan-rekannya.
"They call me. I can't call them," ujar Otofu Ayaku, lulusan University of Texas at Austin.
Meskipun dakwaan pidananya telah digugurkan, kasus imigrasi Ayaku masih berjalan, dan ia dibebaskan dengan jaminan serta monitor pergelangan kaki. Menurutnya, perbedaan mendasar saat ini hanyalah status keberadaannya di luar fasilitas penahanan.
"Honestly, the only difference between [the other detainees] and me right now is that I'm out and they're in," kata Otofu Ayaku, lulusan University of Texas at Austin.
Ayaku menekankan bahwa proses hukum jauh lebih mudah dihadapi ketika seseorang tidak berada di dalam ruang tahanan. Ia juga menyoroti pilihan sulit yang dihadapi para imigran antara bertahan di tahanan tanpa kepastian atau memilih pulang sukarela.
"But we're all fighting cases. It's just easier to do it when you're not in detention," ujar Otofu Ayaku, lulusan University of Texas at Austin.
Bagi para tahanan, makna rumah sering kali merujuk pada tempat awal mereka ditangkap oleh otoritas. Ayaku saat ini dibantu oleh kelompok lokal Indigo Collective untuk penggalangan dana biaya hukum.
"They call it 'going home,'" kata Otofu Ayaku, lulusan University of Texas at Austin.
Ungkapan tersebut merefleksikan perspektif para imigran mengenai tempat mereka diambil sebelum penahanan. Saat ini, Ayaku tengah bekerja sama dengan pihak UT Austin untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang terlewat selama ditahan.
"To the people being detained, home is wherever they were picked up from," ujar Otofu Ayaku, lulusan University of Texas at Austin.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow