Dokter Nefrologi Ungkap Bahaya Minum Air Berlebihan bagi Ginjal

Smallest Font
Largest Font

Anggapan mengenai konsumsi air putih dalam jumlah berlebihan dapat meningkatkan kesehatan ginjal ditepis oleh pakar kesehatan. Praktik hidrasi berlebih justru dinilai tidak memberikan manfaat tambahan bagi fungsi organ pembuangan tersebut.

Dokter nefrologi dr Suman Sethi menegaskan bahwa anggapan semakin banyak minum air akan membuat ginjal kian sehat hanyalah sebuah mitos. Seperti dikutip dari Detik Health yang melansir Hindustan Times, konsumsi cairan yang melebihi kebutuhan tubuh belum tentu membawa dampak positif.

"Ginjal kita adalah organ yang sangat efisien," kata dr Suman Sethi.

Sethi menjelaskan bahwa mekanisme haus alami pada individu yang sehat sebenarnya sudah cukup menjadi indikator kebutuhan cairan harian. Kebutuhan air setiap orang bersifat personal dan bervariasi tergantung pada usia, iklim, pola makan, hingga kondisi medis tertentu.

Meskipun demikian, peningkatan asupan cairan tetap diperlukan pada kondisi spesifik seperti cuaca panas, usai berolahraga, saat demam, atau ketika mengalami pengeluaran cairan berlebih. Pasien dengan riwayat penyakit tertentu juga membutuhkan penanganan hidrasi yang berbeda.

"Orang yang memiliki riwayat batu ginjal juga dapat memperoleh manfaat dari peningkatan asupan cairan, karena produksi urine yang cukup membantu mengurangi konsentrasi mineral pembentuk batu," ujar dr Sethi.

Sethi mengingatkan bahwa konsumsi air yang jauh melampaui batas kebutuhan tidak akan membantu proses pembersihan maupun mengoptimalkan fungsi ginjal. Pembatasan atau penyesuaian asupan cairan justru sangat krusial bagi penderita penyakit ginjal kronis, gagal jantung, atau pasien yang rutin menjalani dialisis.

"Bagi mereka, minum terlalu banyak air dapat menyebabkan pembengkakan, sesak napas, tekanan darah tinggi, dan beban tambahan pada jantung dan ginjal. Inilah mengapa mengikuti tren media sosial atau saran hidrasi secara umum terkadang dapat lebih berbahaya daripada bermanfaat," tutur dr Sethi.

Untuk menjaga kadar hidrasi tetap seimbang, Sethi menyarankan masyarakat agar lebih peka terhadap sinyal dari tubuh. Kondisi dehidrasi umumnya ditandai oleh timbulnya rasa haus, pusing, atau warna urine yang berubah menjadi kuning tua.

Sebaliknya, warna urine kuning pucat menandakan tingkat hidrasi tubuh sudah mencukupi. Namun, indikator warna tersebut tidak selalu sepenuhnya akurat karena bisa dipengaruhi oleh jenis makanan, konsumsi vitamin, maupun obat-obatan tertentu.

"Namun, warna urine saja tidak selalu menjadi indikator yang tepat, karena makanan, vitamin, dan obat-obatan tertentu dapat memengaruhinya," ucapnya.

Ia mengimbau agar masyarakat menjalankan pola hidrasi secara bijak dan tidak berlebihan. Konsultasi medis sangat disarankan bagi individu yang memiliki riwayat penyakit kronis atau masalah ginjal.

"Dengarkan sinyal tubuh Anda, jaga hidrasi sesuai gaya hidup dan lingkungan Anda, dan konsultasikan dengan dokter jika Anda memiliki penyakit ginjal atau kondisi kronis lainnya," katanya.

Kesehatan ginjal pada dasarnya tidak bergantung pada asupan air yang berlebihan. Perawatan organ ini memerlukan langkah yang konsisten, meliputi penerapan diet seimbang, pemeriksaan medis rutin, serta pengendalian penyakit penyerta seperti diabetes dan hipertensi.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed