Studi Ungkap Efek Samping Meditasi Mindfulness bagi Mental
Praktik meditasi dan mindfulness yang populer sebagai pereda stres rupanya menyimpan risiko gangguan kesehatan mental. Riset ilmiah terbaru mulai memetakan dampak negatif yang kerap diabaikan publik tersebut. Dilansir dari Detik Health, temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Clinical Psychological Science menunjukkan meditasi bisa memicu respons mengganggu.
Gejala yang muncul meliputi kecemasan hebat, bangkitnya trauma masa lalu, hingga keluhan tidur. Penelitian di Brown University, AS, yang dipimpin oleh neurosaintis Dr Willoughby Britton mencatat 6% peserta meditasi mengalami dampak negatif jangka panjang. Efek buruk tersebut bertahan hingga lebih dari satu bulan.
Pengujian terhadap 96 peserta program terapi kognitif berbasis mindfulness (MBPs) selama 8 minggu menghasilkan temuan yang mengejutkan. Sebanyak 58% responden melaporkan minimal satu efek samping negatif akibat meditasi.
Dari jumlah tersebut, 37% peserta merasa dampaknya mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari secara signifikan. Peneliti mengelompokkan beberapa efek samping serius yang kerap dialami peserta. Dampak paling menonjol berupa kilas balik trauma (flashbacks) saat memori traumatik masa lalu muncul mendadak. Selain itu, peserta mengalami mati rasa emosional (emotional blunting) yang memicu rasa hampa.
Gejala disosiasi juga dilaporkan, di mana seseorang merasa terpisah dari tubuh maupun lingkungannya. Siklus tidur terganggu, kecemasan meningkat, serta fungsi eksekutif seperti daya ingat dan pengambilan keputusan turut menurun. Beberapa orang pun mengalami hipersensitivitas sensorik. Kondisi ini membuat indra menjadi sangat peka terhadap cahaya atau suara sekitar sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman.
Penyebab Penurunan Fungsi Mental
Peneliti menjelaskan bahwa kemunculan dampak negatif ini amat berkaitan dengan intensitas serta durasi meditasi. Risiko gangguan meningkat jika seseorang bermeditasi sangat lama tanpa pendampingan yang tepat. Dr Britton menyebut fenomena ini sebenarnya tercatat dalam literatur Buddhisme kuno sejak ratusan tahun lalu.
Namun, popularitas serta nilai komersial mindfulness yang tinggi membuat risikonya jarang diungkap ke publik. "Banyak orang mendatangi saya dan bertanya, 'Mengapa tidak ada yang memberi tahu saya bahwa hal ini bisa terjadi?' Kami tidak berusaha mengurangi manfaat meditasi, tetapi penting bagi masyarakat untuk memahami gambaran secara utuh," ujar Dr Britton.
Para ahli menegaskan hasil studi ini tidak mengategorikan meditasi sebagai praktik yang buruk. Manfaat positifnya bagi kesehatan jiwa tetap dirasakan banyak orang, selama setiap individu memahami respons tubuh serta pikirannya masing-masing.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow