Erupsi Gunung Anak Krakatau Sebarkan Abu Vulkanik hingga Jakarta dan Banten
Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau menyebar ke beberapa wilayah termasuk Jakarta dan Serang, Banten, menimbulkan dampak pada kesehatan masyarakat, seperti mata perih, pilek, dan batuk kering, dilansir dari Detik Health.
Warga Jakarta Selatan, Devandra Abi Prasetyo, merasakan napas menjadi sedikit lebih berat dan matanya perih saat mengikuti lomba lari di luar ruangan. Ia mengatakan rasa tidak nyaman meningkat sekitar pukul 08.00 WIB.
"Kalau urusan sesak, aku malah biasa aja kayak yang nggak mengganggu banget, cuma ya memang terasa kayak lebih berat. Terus lebih perih di mata tadi pas lari," ujar Devandra.
Untuk mengurangi ketidaknyamanan, Devandra lebih sering mencuci mata dan wajah di water station, dan mengamati abu vulkanik cukup tebal di kawasan Gelora Bung Karno, bahkan menempel pada kendaraan di area terlindung pohon.
"Tapi memang di sekitaran GBK, abunya termasuk tebal sih. Kelihatan nempel-nempel di mobil parkir, bahkan yang terbilang terlindung pohon," kata Devandra.
Sementara itu, Fitri Noviyanti dari Kasemen, Serang, mengatakan kondisi di rumahnya relatif aman karena lokasi jauh dari pesisir, sehingga dampak abu tidak terlalu parah.
"Alhamdulillah kondisi rumah di Serang masih aman karena agak jauh dari pesisir, jadi nggak terlalu parah dampaknya. Paling ada sedikit abu yang nempel," ujar Fitri.
Meski begitu, Fitri merasakan mata gatal seperti kelilipan saat berada di luar rumah tanpa kacamata.
"Sejauh ini efeknya gatal ke mata kayak kelilipan aja sih kalau keluar nggak pakai kacamata. Jadi kalau mau keluar harus pakai kacamata," tambahnya.
Keluhan berbeda datang dari Ratu Aisyah, warga Labuan, Pandeglang, Banten. Ia menyatakan abu sudah terlihat sejak malam hari dan masuk ke dalam rumah walaupun pintu dan jendela ditutup.
"Abunya dari semalam sudah ada. Pilek-pilek, batuk kering sih," ujar Ratu.
Ratu menduga abu masuk lewat ventilasi jendela dan mengamati cuaca di wilayahnya menjadi mendung meski matahari masih bersinar, kemungkinan akibat asap dan abu vulkanik.
"Udah tutup jendela sama pintu juga kan tetap masuk ya itu debu. Karena masuk ke ventilasi jendela," katanya.
"Cuaca juga kan jadi mendung ya padahal ada matahari, mungkin dampak dari asap abu itu," tuturnya.
Ratu juga menyebut sebagian warga di wilayahnya sudah mengungsi sejak Jumat karena getaran gempa yang kuat membuat trauma tsunami 2018 muncul kembali.
"Masyarakat di sini sebagian sudah mengungsikan diri dari Jumat. Getaran yang kencang bikin warga ketakutan, trauma tsunami 2018," katanya.
Abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau berpotensi memengaruhi kesehatan, terutama pada individu dengan masalah pernapasan kronis, karena partikel halus yang iritatif dapat memicu gangguan kulit dan pernapasan, dilansir dari Detik Health.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow