Paparan Abu Vulkanik Berisiko Memicu Asma Permanen Tanpa Riwayat Genetik
Banyak orang merasa aman dari risiko asma karena tidak memiliki riwayat keluarga yang mengidap penyakit tersebut. Namun, paparan abu vulkanik saat erupsi gunung berapi berpotensi memicu serangan asma pada seseorang yang seumur hidupnya tidak pernah mengalaminya, seperti dilansir dari Detik Health.
Sifat abu vulkanik yang sangat iritatif menjadi penyebab utama kerusakan sistem pernapasan. Material ini bukan sekadar debu biasa, melainkan mengandung silika, berbagai jenis mineral, dan logam yang bertekstur kasar.
Partikel tajam tersebut melukai dan merusak lapisan pelindung atau epitel di dalam saluran pernapasan saat terhirup. Perlukaan ini membuat ujung-ujung saraf saluran napas menjadi terbuka dan sangat sensitif.
Praktisi kesehatan dari RS Paru Persahabatan, Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) menjelaskan bahwa kerusakan epitel tersebut memicu hipersensitivitas pada saluran napas.
"Kemudian kerusakan epitel ini juga bisa menyebabkan terbukanya reseptor saraf di saluran nafas. Ya, karena perlukaan dari debu-debu itu. Pembukaan epitel saraf yang terbuka akan menyebabkan orang menjadi lebih sensitif dan sebagai airway hypersensitive," kata Prof Agus.
Organ pernapasan akan bereaksi secara berlebihan terhadap benda asing yang masuk ketika berada dalam kondisi airway hypersensitive. Hipersensitivitas ini memicu respons penyempitan saluran napas secara permanen atau asma jika seseorang terus-menerus terpapar abu vulkanik tanpa perlindungan.
Prof Agus menegaskan bahwa masyarakat yang tidak memiliki riwayat genetik pun dapat menjadi korban akibat dampak jangka panjang tersebut.
"Sehingga pada beberapa orang cenderung, airway hypersensitive itu akan menginduksi terjadinya asma. Bila pajanan berlanjut, orang-orang yang sebelumnya tidak pernah punya asma bisa jadi asma. Karena pajanan jangka panjang," tutur Prof Agus.
Gejala Iritasi Awal
Proses kerusakan pernapasan ini umumnya diawali dari gejala iritasi ringan. Tubuh akan langsung merespons dengan batuk dan muncul rasa panas di tenggorokan begitu abu vulkanik masuk ke saluran pernapasan.
"Nah ini debu vulkanik yang banyak mengandung mineral, logam-logam, juga mengandung silika, salah satu yang paling banyak, sifatnya iritatif. Terhirup pasti bikin respons kita untuk batuk terasa panas di tenggorokan, nanti berlanjut jadi superinfeksi," ujar Prof Agus.
Peradangan akan terus berlanjut hingga merusak saraf saluran napas jika rasa panas dan batuk iritasi dibiarkan tanpa penanganan. Penggunaan masker saat terjadi erupsi gunung berapi berfungsi penting untuk mencegah luka pada saluran napas agar tidak berkembang menjadi asma permanen di kemudian hari.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow