Erupsi Gunung Anak Krakatau Diduga Picu Dentuman di Jawa Barat

Smallest Font
Largest Font

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan fenomena suara dentuman dan getaran yang terdengar di Jawa Barat pada 4 dan 5 September 2026 diduga kuat berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Erupsi menerus yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) hingga Sabtu (5/9/2026) pukul 04.40 WIB menghasilkan gelombang suara frekuensi rendah yang merambat melalui lapisan atmosfer hingga wilayah Bandung Raya.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menjelaskan bahwa fenomena pelepasan gas secara cepat serta gesekan lava berkecepatan tinggi menjadi pemicu gelombang suara tersebut dapat merambat sejauh ratusan kilometer.

"Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur merupakan fenomena yang umum terjadi. Suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat diduga kuat berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada waktu yang sama," kata Lana Saria, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM.

Lana menambahkan bahwa perbedaan kondisi atmosfer, angin, serta suhu di ketinggian dapat membiaskan jalur suara hingga kembali turun ke permukaan tanah di lokasi yang jauh dari pusat letusan.

"Gelombang suara dari Anak Krakatau dapat merambat jauh melalui atmosfer dan akhirnya terdengar di Bandung, meskipun beberapa wilayah pesisir yang lebih dekat belum tentu mendengarnya dengan jelas," kata Lana Saria.

Pengamatan visual PVMBG mencatat semburan lava pijar berwarna merah menyala yang menyerupai fenomena lava fountain terus keluar dari kawah kawah Gunung Anak Krakatau.

"Hingga suara bisa turun kembali jauh dari sumber. Yang terasa di Bandung yang berjarak 700 km (garis lurus) adalah dentuman, kaca dan pintu bergetar," kata Lana Saria.

Guna menjaga keselamatan warga serta wisatawan, otoritas terkait telah menetapkan zona bahaya dan melarang seluruh aktivitas masyarakat dalam radius tertentu dari pusat kawah.

"Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik. Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami," kata Lana Saria.

Aktivitas erupsi dilaporkan mulai terhenti pada Minggu (6/9/2026) pukul 12.04 WIB, namun status gunung api tersebut masih berada pada Level III (Siaga).

"Masyarakat kami minta tetap waspada terhadap potensi bahaya erupsi, termasuk sebaran abu vulkanik, namun tidak perlu panik. Apabila terjadi hujan abu, masyarakat di wilayah terdampak diimbau menggunakan pelindung pernapasan dan mengikuti arahan resmi dari Badan Geologi, PVMBG, serta BPBD setempat," kata Lana Saria.

Seluruh pihak diminta untuk tetap mematuhi batasan jarak aman yang telah direkomendasikan oleh tim pemantau vulkanologi.

"Radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau harus dikosongkan dari aktivitas masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki. Ketentuan ini perlu dipatuhi karena potensi aliran lava dan lontaran material pijar masih dapat terjadi," kata Lana Saria.

Dalam kesempatan terpisah, Badan Geologi kembali menegaskan kesesuaian data sinyal akustik letusan dengan laporan dentuman masyarakat di Jawa Barat.

"Suara dentuman dan getaran pada kaca serta pintu dilaporkan di sejumlah wilayah Jawa Barat dan kesesuaian waktu dengan erupsi Gunung Api Anak Krakatau ini, dan sinyal pada stasiun pemantauan di Jawa Barat mendukung kuat bahwa fenomena tersebut berasal dari gelombang akustik letusan erupsi Gunung Api Anak Krakatau," kata Lana Saria.

Perambatan gelombang suara jarak jauh akibat letusan gunung api bukan pertama kalinya terjadi di Indonesia.

"Fenomena ini serupa pernah terjadi di beberapa gunung api yang erupsi, contohnya ketika erupsi Gunung Kelud terdengar hingga Jawa Tengah dan Gunung Lewotobi Laki-laki terdengar hingga Maumere dan Pulau Alor," kata Lana Saria.

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau tercatat berlangsung secara intensif selama beberapa hari sebelum akhirnya mereda.

"Kemudian erupsi sudah berhenti sebenarnya di jam 12.04 WIB pada tanggal 6 September 2026, dan ini sudah lebih dari 24 jam," kata Lana Saria.

Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa dentuman tersebut tidak berasal dari aktivitas gempa bumi tektonik maupun kelistrikan udara lokal.

Kepala Stasiun Geofisika Bandung Suaidi Ahadi menyebutkan bahwa evaluasi data seismik di Bandung menunjukkan kondisi tenang pada rentang waktu kejadian.

"Selain parameter kegempaan, BMKG juga memeriksa kondisi atmosfer serta aktivitas kelistrikan udara di wilayah Jawa Barat. Pemantauan Lightning Detector mencatat aktivitas petir di Bandung Raya berada pada intensitas relatif rendah dan tidak signifikan," kata Suaidi Ahadi, Kepala Stasiun Geofisika Bandung.

Meskipun merekam adanya anomali seismogram di Pulau Sebesi serta gangguan magnetik bumi di Sukabumi dan Serang, BMKG menyatakan temuan tersebut belum dapat dipastikan sebagai pemicu utama dentuman.

"Namun, BMKG menekankan bahwa seluruh temuan anomali ini belum dapat secara langsung dikaitkan sebagai penyebab pasti suara dentuman tersebut," kata Suaidi Ahadi.

BMKG dan PVMBG mengimbau warga di wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung untuk tetap tenang serta menyaring informasi dari sumber-sumber resmi pemerintah.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed