Erupsi Gunung Anak Krakatau Lumpuhkan Soetta dan Ganggu Udara Jakarta
Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu penutupan sementara operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan menyebarkan abu vulkanik hingga ke wilayah Jakarta pada Minggu, 6 September 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika merilis data sebaran abu vulkanik yang teridentifikasi dalam dua klaster berdasarkan pemantauan per pukul 04.00 WIB. Klaster pertama membumbung dari permukaan hingga ketinggian 20 ribu kaki menuju arah timur laut-selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan sekitarnya. Sementara klaster kedua mencapai ketinggian 50 ribu kaki mengarah ke barat daya-barat laut yang meliputi Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, dan Samudra Hindia.
Penutupan operasional penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dihentikan sementara sejak pukul 05.30 WIB dan diperpanjang hingga pukul 09.30 WIB demi keselamatan penumpang.
"Sehubungan dengan meningkatnya aktivitas Erupsi Anak Gunung Krakatau Bandara Internasional Soekarno-Hatta melakukan penghentian operasional penerbangan pada pukul 05.30 sd 09.30 WIB," tulis otoritas Bandara Soetta melalui akun Instagramnya.
Penutupan ini memaksa sejumlah calon penumpang mencari moda transportasi darat alternatif. Dading, seorang warga asal Yogyakarta berusia 46 tahun yang terdampak penundaan, memilih beralih ke angkutan darat.
"Ini udah cari tiket kereta. Kalau nggak, naik bus. Kebetulan kan di Yogya juga banyak sih ya, transportasi ke sana, ya," ujar Dading saat ditemui di Terminal 3 Bandara Soetta, Tangerang.
Ia memaklumi kondisi penutupan operasional armada udara tersebut karena keselamatan merupakan hal paling utama.
"Tadinya meeting di Bandung, terus ini mau istirahat, cuti dari kerjalah gitu. Kerja di sini (Jakarta)," katanya.
Dading menilai kebijakan penghentian penerbangan sudah sangat tepat demi mengantisipasi bahaya.
"Ya ini kan force majeure ya. Namanya juga penerbangan ya, yang penting kita selamat ajalah, kayak gitu. Ya namanya force majeure kalau menurut saya sih nggak bisa kita hindari. Justru ini baguslah kalau bisa diantisipasi secara dini dari maskapai," katanya.
Langkah komunikasi juga telah ia lakukan ke pihak keluarga terkait gangguan jadwal ini.
"Biasanya kalau Minggu kan ada acara keluar gitu, jadi mungkin belum baca WA (WhatsApp)," pungkasnya.
Calon penumpang penerbangan internasional bernama Randi juga mengalami nasib serupa ketika hendak terbang menuju Malaysia.
"Ke Malaysia, jam 11. Tapi kena pembatalan juga," kata Randi ditemui di Terminal 3 Bandara Soetta.
Ia memilih menunggu kepastian di lokasi hingga ada pembaruan informasi dari pihak maskapai.
"Belum, masih ngambang. Cuma nggak tahulah ini kan tadi aku membaca operasional ditutup gitu," katanya.
Dampak paparan abu vulkanik juga mulai mengganggu warga yang beraktivitas di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat. Seorang warga Cipulir bernama Farih mengaku merasakan mata perih saat mengendarai sepeda motor menuju lokasi car free day.
"Kalau tadi sih pas CFD (car free day) berat ya, maksudnya lumayan berasa gitu kalau CFD. Cuma yang kalau untuk paling berasa banget tuh waktu di jalan sih tadi. Soalnya kan kita jalan tadi naik motor ke sini," kata Fahri saat ditemui di Bundaran HI, Jakarta Pusat.
Laju kendaraan yang lambat tetap tidak menghindarkan matanya dari iritasi debu erupsi.
"Itu lumayan perih di mata gitu ya, waktu jalan naik motor itu kecepatan di 20 sampai 30 km per jam itu tadi lumayan perih sih berasa di mata gitu," sambung dia.
Ia tetap memilih berolahraga di area tersebut karena pertimbangan kenyamanan lokasi.
"Kalau sejauh ini saya sendiri kenapa ke Bundaran HI karena emang di sini space-nya paling gede gitu ya. Emang di dekat Jakarta Selatan di perbatasan di daerah Tangerang itu lumayan lebih dekat jaraknya sebenarnya tapi di CFD sebenarnya lebih luas, nggak bertumpuk orangnya banyak, kita nggak impit-impitan gitu terus di sini juga UMKM-nya emang seru," kata dia.
Keluhan gangguan pernapasan turut dirasakan oleh Doni Setiawan, warga Jakarta Utara yang berolahraga di kawasan sama.
"Iya, agak berat gitu (napas). Mata sih belum, kayaknya baru di hidung ya," kata Doni.
Ia telah mengantisipasi sebaran debu dengan menggunakan masker sejak berangkat dari rumah.
"Di perjalanan sama sampai sini udah ada mulai sih. Di perjalanan tadi kan pakai masker soalnya," katanya.
Langkah pencegahan senada diterapkan oleh warga Depok, Agung dan Prawita, yang memboyong anak-anak mereka ke lokasi CFD.
"Dan kan juga untuk mengurangi risiko juga kan, gitu. Tadi kan karena sudah janji pengen olahraga di sini, juga kan untuk mengurangi risiko ya pakai masker lah seperti itu," kata Agung.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow