Faktor Genetik Terbukti Memengaruhi Kegemaran Makanan Manis

Smallest Font
Largest Font

Keinginan kuat untuk menyantap hidangan penutup atau camilan manis rupanya tidak hanya dipicu oleh kurangnya kontrol diri. Kecenderungan menyukai makanan manis ternyata berakar pada kondisi genetik seseorang.

Temuan ini terungkap dalam studi awal dari Center for Genomic Medicine di Massachusetts General Hospital, sebagaimana dilansir dari Detik Food. Riset tersebut menjelaskan bahwa gen dapat memengaruhi tingkat sensitivitas lidah dalam merespons rasa manis.

Selain itu, faktor genetik menentukan besarnya rasa puas yang dirasakan seseorang setelah mengonsumsi gula. Analisis ini menggunakan data dari hampir 500.000 partisipan di United Kingdom Biobank dengan membandingkan preferensi makanan terhadap profil genetik mereka.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilik skor genetik tinggi terhadap rasa manis mengonsumsi rata-rata 7 gram makanan manis lebih banyak setiap hari. Kelompok ini juga mencatatkan berat badan lebih tinggi serta peningkatan tipis pada risiko diabetes tipe 2.

"Meski 7 gram terdengar sepele, jumlah itu bisa bertambah signifikan jika menjadi kebiasaan harian," kata Nneoma Oparaji, dokter bersertifikasi penyakit dalam, kedokteran obesitas, dan kedokteran gaya hidup.

Oparaji menerangkan bahwa gen memberikan instruksi khusus pada reseptor pengecap TAS1R2 dan TAS1R3. Variasi pada kedua reseptor ini mengatur seberapa kuat sinyal manis diterima serta besarnya respons kepuasan di otak.

Perbedaan respons biologis tersebut menjawab alasan mengapa menu dessert yang sama memberikan tingkat kepuasan berbeda pada setiap individu. Meski begitu, faktor genetik bukan satu-satunya penentu utama kegemaran pada gula.

"Gen memengaruhi preferensi, preferensi memengaruhi pilihan makanan, dan pilihan makanan itu yang akhirnya memengaruhi kesehatan metabolik," ujarnya.

Ahli gizi Sarah Amidon menegaskan bahwa kesehatan metabolisme tetap dipengaruhi oleh banyak variabel lain. Ketersediaan makanan, tingkat aktivitas fisik, pola tidur, dan gaya hidup memegang peranan penting.

Pemilik kecenderungan genetik penyuka manis tetap bisa mengontrol pola makan harian. Para ahli menyarankan untuk membedakan gula alami pada buah dan susu yang kaya serat serta vitamin dari gula tambahan pada makanan olahan.

Langkah pengendalian dapat dimulai dengan memilih sumber manis alami seperti buah-buahan. Mengombinasikannya bersama protein atau serat juga efektif membantu tubuh merasa kenyang lebih lama.

Temuan yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan American Society for Nutrition ini masih bersifat awal dan belum melalui proses penelaahan sejawat (peer review).

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed