Forest City Malaysia Jadi Sarang Sindikat Kripto dan Love Scam

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Kawasan hunian Forest City di Malaysia kini diduga menjadi lokasi operasi kejahatan terorganisir. Area yang sepi penghuni tersebut disinyalir dimanfaatkan oleh sindikat penipuan investasi kripto serta penipuan percintaan yang menargetkan korban dari luar negeri, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Kepolisian Malaysia membongkar dugaan jaringan kejahatan ini pada pertengahan Juli 2026. Berdasarkan hasil penyelidikan pihak berwenang, para pelaku menjalankan aktivitasnya di 32 lokasi yang tersebar di lima bungalow dan 27 unit apartemen pada sebuah menara hunian.

Minimnya tingkat keterisian properti menjadi faktor utama proyek ini dimanfaatkan oleh jaringan pelaku kejahatan. Kevin, seorang penghuni yang juga bekerja sebagai agen penjualan properti, menyebutkan bahwa populasi Forest City saat ini diperkirakan hanya mencapai 5.000 jiwa.

Angka penghuni tersebut hanya mencakup sekitar 1 persen dari total unit yang dibangun. Kondisi kawasan yang terisolasi memberi kebebasan ruang gerak bagi para pelaku.

"Mereka punya privasi sendiri. Tidak ada yang datang ke sini," kata Kevin.

Pembangunan kawasan megaproyek ini sudah diterpa masalah sejak tahap awal. Saat proses konstruksi baru berjalan enam bulan, pemerintah setempat menuduh adanya pelanggaran lingkungan. Masalah tersebut sempat diselesaikan hingga pembangunan tetap berlanjut.

Sebelum pandemi Covid-19 merebak, tingkat penyelesaian proyek baru mencapainya sekitar 15 hingga 20 persen dari target awal. Pengembang tetap memasarkan kawasan tersebut sebagai pusat investasi properti, inovasi teknologi, dan kawasan bisnis bebas pajak.

Kondisi memburuk saat pandemi Covid-19 melanda dan menyebabkan gelombang kepindahan warga lokal maupun warga negara asing. Situasi ini diperparah oleh krisis keuangan pihak pengembang yang menanggung beban utang sebesar Rp 2.875 triliun.

Pembatasan pinjaman perbankan menghambat kelanjutan pembangunan kawasan. Walau pihak pengembang sempat mengklaim 80 persen unit telah terjual, mayoritas pembeli bertindak sebagai investor dan tidak menempati properti tersebut secara permanen, sehingga kawasan tetap sepi.

Kerentanan Infrastruktur Modern Kosong

Kondisi kawasan yang terbengkalai menciptakan celah keamanan yang disasarkan oleh sindikat kriminal. John Wojcik, seorang analis kejahatan berbasis kripto di TRM Labs, menilai kelengkapan fasilitas modern yang tidak berpenghuni menjadi daya tarik utama bagi pelaku kejahatan.

"Forest City mencerminkan kondisi yang telah menjadi target kejahatan terorganisir selama bertahun-tahun - lokasi unggulan yang dipasarkan sebagai kota pintar yang bergengsi, mewah, dan terencana dengan baik, namun tidak pernah mendekati pemenuhan visi tersebut," kata Wojcik.

Ia menambahkan bahwa sindikat memanfaatkan infrastruktur ini sebagai sarana menyembunyikan operasi ilegal di balik citra kawasan bisnis yang sah.

"Proyek pembangunan seperti ini menawarkan persis apa yang dicari oleh sindikat-sindikat ini: infrastruktur modern, sejumlah besar properti kosong, dan konektivitas internasional, semuanya dibungkus di balik kedok aktivitas ekonomi yang sah untuk memastikan bahwa sifat kriminal dari apa yang terjadi di dalamnya tetap tidak terdeteksi," ujar Wojcik.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed