Gempa dan Erupsi Gunung Anak Krakatau Guncang Selat Sunda

Smallest Font
Largest Font

Rangkaian peristiwa alam melanda kawasan Selat Sunda pada Rabu (8/7/2026) dini hari hingga pagi. Fenomena diawali dengan guncangan gempa bumi tektonik bermagnitudo 5,5 yang kemudian disusul oleh erupsi Gunung Anak Krakatau beberapa jam setelahnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pada pukul 02.44 WIB di kedalaman 43 kilometer. Pusat gempa berlokasi di laut pada jarak 62 kilometer barat daya Sumur, Pandeglang, Banten, dengan getaran yang dirasakan hingga Banten, Bogor, dan Bali.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengonfirmasi bahwa titik gempa terletak di zona transisi subduksi dan bukan pada bidang kontak langsung antarlempeng.

"Tidak persis di bidang kontak dua lempeng karena lokasi agak ke utara, jadi di transisi subduksi, kedalaman 43 km," ujar Wijayanto, Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG.

Pihak BMKG menambahkan bahwa pergerakan sesar naik menjadi pemicu utama guncangan tersebut.

"Gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrust fault dengan kedalaman pusat gempa berada pada 43 kilometer," kata Wijayanto, Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG.

Hasil pemodelan BMKG memastikan tidak ada potensi tsunami maupun gempa susulan. Wijayanto juga menegaskan bahwa aktivitas erupsi yang terjadi setelahnya tidak memengaruhi data seismik BMKG.

"Tidak tercatat dampak intensitas di peralatan BMKG," ujar Wijayanto, Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG.

Sekitar 4 jam 30 menit pascaledakan gempa, tepatnya pukul 07.11 WIB, Gunung Anak Krakatau menyemburkan kolom abu vulkanik setinggi 250 meter dari puncak. Status gunung api ini masih bertahan di Level III (Siaga) dengan radius bahaya 3 kilometer.

Ketua Tim Kerja Gunung Api PVMBG, Heruningtyas Desi Purnamasari, menjelaskan bahwa erupsi murni dipicu oleh dinamika magma internal, bukan dari getaran gempa tektonik.

"Bukan karena motion gempa, tapi ada peningkatan aktivitas terutama aktivitas dangkal yang ditandai oleh peningkatan gempa LF dan gempa hembusan," jelas Heruningtyas Desi Purnamasari, Ketua Tim Kerja Gunung Api PVMBG.

PVMBG mencatat pemicu utama erupsi adalah pergerakan sistem vulkanik di dalam gunung.

"Erupsi yang terjadi merupakan bagian dari aktivitas vulkanik internal gunung api, yang dipicu oleh pergerakan magma dan dinamika sistem magmanya sendiri," tutur Heruningtyas Desi Purnamasari, Ketua Tim Kerja Gunung Api PVMBG.

Pakar kegempaan dari Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, mengimbau masyarakat untuk menerapkan empat langkah mitigasi bencana di kawasan pesisir.

"Ada empat hal mitigasi perlu disampaikan dengan adanya kode alam di Selat Sunda ini," ujar Daryono, Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI).

Langkah mitigasi meliputi kepatuhan terhadap radius bahaya 3 kilometer, peningkatan kesiapsiagaan evakuasi mandiri di wilayah pantai, penggunaan masker untuk mengantisipasi abu vulkanik, serta pentingnya menyaring informasi resmi.

"Warga mengenali jalur evakuasi menuju dataran tinggi sejak dini, serta menyepakati titik kumpul bersama keluarga atau komunitas di lingkungan masing-masing," tambah Daryono, Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI).

Daryono menekankan pentingnya penggunaan masker serta perlindungan sumber air dari kontaminasi jika terjadi sebaran abu yang luas.

"sebaran abu yang luas," ujar Daryono, Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI).

Ia juga meminta masyarakat melakukan verifikasi informasi demi mencegah timbulnya kepanikan massal.

"validasi laporan aktivitas gunung api melalui kanal resmi agar tidak mudah terpapar kabar simpang siur yang justru dapat memicu kepanikan yang tidak perlu," kata Daryono, Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI).

Studi ilmiah dalam jurnal Nature Communications (2021) menunjukkan bahwa pemicuan erupsi akibat gempa tektonik merupakan kasus langka dan hanya terjadi jika gunung api sudah dalam kondisi kritis. Peneliti Latter pada 1971 juga telah mencatat fakta mengenai sifat keterkaitan fenomena ini.

"the process is neither universal nor invariable," tulis Latter, Ilmuwan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed