Gempa M 4,1 Terjadi di Ruteng Usai Rentetan Susulan Flores

Smallest Font
Largest Font

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bumi bermagnitudo 4,1 mengguncang wilayah darat sekitar 33 kilometer timur laut Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa, 1 September 2026 pukul 13.20 WIB.

Guncangan tersebut berada pada koordinat 8,34 Lintang Selatan dan 120,59 Bujur Timur. Aktivitas tektonik ini dirasakan di Kabupaten Manggarai dengan skala intensitas II-III MMI, di mana getaran dirasakan oleh beberapa orang hingga terekam alat pengukur.

"Gempa dirasakan Magnitudo: 4,1 pada Selasa, 01 September 2026 13:20:32 WIB," tulis BMKG pada keterangan rilisnya.

Peristiwa ini menyusul gempa bermagnitudo 5,4 yang lebih dulu menggetarkan wilayah Flores pada Senin, 31 Agustus 2026 pukul 15.03 WIB. Pusat gempa berada di laut 46 kilometer timur laut Ruteng pada kedalaman 10 kilometer.

Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, menegaskan bahwa guncangan bermagnitudo 5,4 tersebut tidak memicu gelombang tinggi di wilayah pesisir.

"Gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," kata Arief, Senin sore.

Arief menerangkan bahwa gempa dangkal tersebut dipicu oleh aktivitas Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme pergerakan geser turun atau oblique normal. Berdasarkan estimasi peta guncangan, getaran terkuat mencapai skala IV MMI di Lamba Leda, Reok, Sambi Rampas, Kota Ruteng, dan Kota Borong.

Rangkaian gempa tersebut merupakan susulan dari gempa utama bermagnitudo 7,7 yang melanda Flores pada 15 Agustus 2026. BMKG mencatat sebanyak 10.386 aktivitas gempa susulan hingga 31 Agustus 2026 pukul 14.00 WIB, dengan magnitudo terbesar mencapai M 6,2.

Dari total ribuan susulan tersebut, tercatat 35 gempa berintensitas di atas magnitudo 5 dan 157 getaran dirasakan langsung oleh warga. BMKG menyebutkan bahwa grafik peluruhan mulai menunjukkan penurunan dan diperkirakan berlangsung selama 3 hingga 4 minggu.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengonfirmasi tidak ada penambahan korban jiwa baru dalam beberapa hari terakhir pascabencana.

"Setelah terjadi gempa, kami juga dapatkan laporan korban jiwa yang meninggal dan yang luka-luka. Per hari ini dan dari beberapa hari yang lalu kami tidak memperoleh lagi laporan adanya korban meninggal baru, sehingga total yang meninggal adalah 111 orang," ujar dia.

Sebagai penanganan pascabencana, Kementerian Dalam Negeri menyalurkan bantuan berupa tali asih ahli waris, genset, velbed, serta pengerjaan administrasi kependudukan untuk warga terdampak di Kabupaten Manggarai Timur.

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam proses pemulihan pascabencana.

"Ini harus kerja sama kita, pemerintah sama masyarakat," ujar Tito, dikutip Senin (31/8/2026).

Penanganan bencana di NTT juga mendapat dukungan bantuan logistik dari pemerintah daerah lain, seperti Pemprov Jawa Timur, Bali, dan Maluku Utara.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Politik dan Pemerintahan Indonesia (Puspolrindo), Yohanes Oci, menilai kerja sama lintas sektor sangat vital dalam percepatan pemulihan wilayah terdampak.

"Praktik collaborative governance sangat penting dalam penanganan krisis," katanya.

Yohanes mengingatkan agar koordinasi antar-lembaga dapat berjalan cepat guna mencegah timbulnya masalah baru bagi warga.

"Solidaritas antar-pemda adalah bentuk nyata gotong royong dalam tata kelola pemerintahan. Dalam bencana, batas administratif tidak boleh menjadi batas solidaritas dan pelayanan kemanusiaan," ujarnya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed