Gletser Himalaya Menghitam dan Memicu Banjir Dahsyat di Nepal
Bencana banjir bandang yang dipicu runtuhnya gletser akibat krisis iklim melanda Nepal pada Rabu (2/9/2026) dan menyebabkan 1.204 orang meninggal dunia serta lebih dari 4.200 warga lainnya dinyatakan hilang.
Otoritas Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional Nepal mengonfirmasi lonjakan jumlah korban tewas tersebut setelah sebelumnya dilaporkan sebanyak 1.127 jiwa. Sementara itu, sebanyak 330 warga negara asing berhasil diselamatkan dari lokasi bencana oleh tim penyelamat.
Bencana ini berawal dari banjir bandang yang menerjang wilayah utara Nepal pada Rabu pagi (26/8/2026) usai aliran air deras dari China meluap ke Sungai Bhote Koshi. Musibah tersebut dipicu oleh penyusutan gletser yang kemudian menyebabkan tanah longsor masif di sepanjang perbatasan.
Upaya evakuasi oleh Tentara Nepal terfokus di sekitar terowongan Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air di distrik Rasuwa. Pihak berwenang memperkirakan sejumlah pekerja masih terjebak di dalam terowongan yang tertutup air banjir dan puing-puing material.
Penyusutan massa es di Pegunungan Himalaya diperparah oleh paparan polusi udara dari emisi kendaraan, pembakaran batu bara, dan asap industri yang mengubah warna permukaan gletser menjadi hitam. Penumpukan karbon hitam ini menurunkan efek albedo, sehingga es menyerap radiasi matahari jauh lebih banyak dan mencair lebih cepat.
"Hal ini berdampak besar pada gletser-gletser ini, terutama karena gletser-gletser tersebut semakin menipis," kata Profesor Geofisika dari Lamont-Doherty Earth Observatory Universitas Columbia Marco Tedesco.
Ancaman dari perubahan kondisi fisik gletser tersebut juga berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi secara global.
"Polusi udara merupakan ancaman yang semakin besar bagi gletser di dunia dan, bersama dengan pemanasan global, pada akhirnya meningkatkan risiko kegagalan gletser dan banjir yang dahsyat," lanjut Marco Tedesco.
Proses pencairan menghasilkan aliran air di permukaan yang mengikis terowongan ke dalam tubuh gletser, sehingga merusak stabilitas struktur es dan berujung pada keruntuhan masif.
"Begitu lapisan gelap itu mulai menyerap panas, ia mulai mencairkan permukaan di sekitarnya, yang dapat mengungkap lapisan debu dan puing-puing yang lebih tua yang terperangkap di dalam es di bawahnya," ujar Peneliti dari Universitas Tribhuvan Nepal Aashutosh Paudel.
Penyingkapan material purba tersebut menciptakan siklus pencairan yang berulang dan sulit dihentikan secara alami.
"Jadi, ketika pencairan semakin cepat, terjadilah lingkaran umpan balik," sambung Aashutosh Paudel.
Studi Akademi Ilmu Pengetahuan China menunjukkan bahwa karbon hitam menyumbang hingga sepertiga dari total kehilangan massa gletser Himalaya pada periode 2007–2016. Kendati demikian, riset Institut Meteorologi Tropis India membuktikan laju pencairan es dapat ditekan hingga 40 persen melalui pengetatan regulasi kualitas udara.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow