Gunung Anak Krakatau Erupsi Empat Kali dalam Waktu Sejam
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali meningkat dengan mencatatkan empat kali erupsi pada Jumat (4/9/2026) pagi, usai terakhir kali meletus pada Senin (31/8/2026). Semburan kolom abu tebal berwarna hitam teramati meluncur setinggi 300 meter dari puncak gunung api setinggi 157 meter di atas permukaan laut tersebut.
Rangkaian letusan dimulai secara berurutan pada pukul 04.11 WIB, 04.19 WIB, dan 04.28 WIB melalui rekaman seismogram dengan amplitudo maksimum masing-masing 33 mm, 60 mm, dan 70 mm. Erupsi keempat terjadi pada pukul 05.46 WIB selama kurang lebih 27 detik, melontarkan material vulkanik yang bergerak ke arah barat dan barat laut.
Pada periode pengamatan Jumat sore pukul 12.00–18.00 WIB, petugas mencatat aktivitas kegempaan yang cukup intens berupa 12 kali gempa hembusan, 18 kali gempa harmonik, 9 kali gempa frekuensi rendah, dan 6 kali gempa hybrid. Selain itu, terekam pula masing-masing satu kali gempa vulkanik dalam dan tremor menerus, sementara tubuh gunung sempat tertutup kabut dengan kemunculan asap kawah setinggi 50 hingga 300 meter.
Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, menyampaikan pemicu utama tetap diwaspadai meskipun erupsi awal tidak terlihat langsung secara kasat mata.
"Erupsi tidak selalu terlihat secara visual. Ada yang hanya terekam di seismograf sehingga pemantauan kegempaan tetap penting," ujar Suwarno, Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau.
Petugas pos pemantauan terus mengingatkan masyarakat maupun wisatawan yang beraktivitas di sekitar Selat Sunda agar tidak mengabaikan radius bahaya yang ditetapkan.
"Yang perlu diperhatikan adalah rekomendasi keselamatan. Jangan mendekati kawah aktif meskipun kondisi di sekitar gunung terlihat tenang," tambah Suwarno.
Zona aman yang ditetapkan PVMBG saat ini berjarak tiga kilometer dari kawah aktif. Untuk mengantisipasi pelanggaran, tim gabungan yang terdiri dari BKSDA, Satpolair Polres Lampung Selatan, Ditpolair Polda Lampung, dan Sie Dokkes Polres Lampung Selatan rutin mengelar patroli pengamanan di perairan sekitar gunung.
Dalam operasi pengawasan pada 30 Agustus 2026, petugas mendapati sejumlah nelayan berada di area berbahaya dan langsung melakukan tindakan imbauan pencegahan.
"Nelayan kami temukan sedang melakukan aktivitas di area yang tidak diperbolehkan. Kami berikan pemahaman dan meminta yang bersangkutan segera menjauh demi keselamatan," ujar Iptu Panpan Hermayadi, Kasat Polair Polres Lampung Selatan.
Tindakan penyekatan juga dilakukan terhadap kapal cepat rombongan wisatawan dari Pulau Jawa yang berusaha melintas mendekati area steril. Sementara itu, Kepala PVMBG Badan Geologi Rita Susilawati menegaskan bahwa tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih bertahan di Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026 dan kejadian ini tidak memicu bahaya tsunami.
"Masyarakat yang tinggal di sekitar gunung berapi mohon agar memahami kondisi sekitarnya dan mematuhi rekomendasi dari PVMBG," kata Rita Susilawati, Kepala PVMBG Badan Geologi.
Rita menambahkan bahwa kemunculan letusan di beberapa gunung api dalam waktu berdekatan tidak memiliki kaitan proses magmatik yang sama satu sama lain.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow