Gunung Anak Krakatau Siaga BPBD Pandeglang Minta Warga Pesisir Waspada
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pandeglang, Banten, mengeluarkan imbauan kepada masyarakat di kawasan pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan seiring kenaikan status aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau menjadi Level III atau Siaga pada Sabtu, 4 Juli 2026.
Langkah preventif ini diambil guna memastikan keselamatan warga dari potensi dampak erupsi gunung api di Selat Sunda tersebut. Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian ESDM, status gunung naik dari Level II (Waspada) ke Level III (Siaga) sejak Kamis, 2 Juli 2026, pukul 16.30 WIB setelah terjadi lonjakan kegempaan vulkanik dangkal, emisi sulfur dioksida, dan erupsi setinggi 200 meter.
Pemerintah daerah bergerak cepat dengan menyebarkan informasi peringatan dini ke seluruh jajaran aparatur di tingkat bawah.
"Kita sudah menyampaikan peringatan waspada erupsi Gunung Anak Krakatau kepada masyarakat, aparatur kecamatan hingga desa," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Strategi BPBD Pandeglang Acep Firmansyah di Pandeglang, dilansir Antara, Sabtu (4/7/2026).
Acep menambahkan bahwa kondisi di pesisir Pandeglang saat ini aman, sehingga masyarakat diharapkan tidak panik dan tetap beraktivitas normal seperti biasa. Namun, pembatasan aktivitas di dekat wilayah kawah tetap diberlakukan secara ketat.
"Kami minta nelayan, wisatawan, dan warga agar tidak mendekati kawasan GAK, karena khawatir terdampak bebatuan pijar. Petugas merekomendasikan radius 5 kilometer dari gunung," ucap Acep.
Ketenangan situasi di lapangan juga dikonfirmasi oleh para pedagang di sekitar Labuan Pandeglang yang tetap berjualan karena menganggap peningkatan aktivitas ini sebagai hal yang biasa.
"Kami tetap tenang, namun tetap waspada, serta jangan sampai terulang kembali tsunami 2018 hingga ratusan orang meninggal dan ribuan orang mengungsi," kata Suherman, warga Labuan Pandeglang.
Di sisi lain, publik sempat dihebohkan oleh beredarnya video berdurasi 10 detik di media sosial yang memperlihatkan letusan dahsyat dengan semburan api besar dari atas kapal malam hari, yang diklaim sebagai kondisi terkini gunung tersebut.
Petugas Pemantau Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Lampung Selatan, Andi Suwardi, langsung membantah kebenaran video tersebut dan menyatakan bahwa erupsi terakhir hanya terjadi sekali pada Jumat, 3 Juli 2026 pukul 15.00 WIB.
"Video yang beredar itu hoaks atau bukan menggambarkan kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini. Aktivitas erupsi yang terjadi sekarang tidak seperti yang terlihat dalam video tersebut," kata Andi saat dikonfirmasi, Sabtu (4/7/2026).
Andi juga kembali mengingatkan batasan jarak aman bagi masyarakat di sekitar wilayah Lampung Selatan yang sedikit berbeda dengan rekomendasi wilayah seberang.
"Status Gunung Anak Krakatau masih Level III atau Siaga. Kami mengimbau masyarakat, nelayan maupun wisatawan agar tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung," kata Andi.
Pihak berwenang menengarai adanya manipulasi digital dalam pembuatan materi video yang meresahkan tersebut.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengonfirmasi bahwa rekaman visual itu murni hasil rekayasa kecerdasan buatan karena bentuk fisik gunung berbeda dan pantulan layar ponsel di dalam video tidak sinkron.
“Jika diperhatikan, bentuk gunung bukanlah bentuk gunung Anak Krakatau, dalam layar HP di atas kapal pun tidak terlihat merekam adanya Letusan, sehingga besar kemungkinan video ini adalah penyalahgunaan AI,” tegas PVMBG dalam keterangannya, Sabtu (4/7/2026).
Lembaga tersebut sangat menyayangkan pemanfaatan teknologi modern yang digunakan untuk menyebarkan ketakutan di masyarakat.
“Kecerdasan buatan sebaiknya digunakan untuk hal-hal baik, bukan untuk Meresahkan Masyarakat,” pungkasnya.
Kepolisian Daerah Lampung turut merespons peredaran informasi palsu ini dengan meminta publik untuk lebih menyaring setiap berita kebencanaan yang mereka terima.
"Masyarakat kami minta tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumber maupun kebenarannya. Pastikan setiap informasi diperoleh dari instansi resmi yang berwenang agar tidak menimbulkan keresahan," ujar Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Yuni Iswandari Yuyun.
Yuni meminta masyarakat untuk melakukan verifikasi ulang ke instansi terkait seperti BMKG, Badan Geologi, atau BPBD sebelum membagikan konten ke media sosial.
"Apabila memperoleh informasi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau, lakukan pengecekan terlebih dahulu melalui kanal resmi Badan Geologi, BMKG, BPBD, maupun pemerintah. Jangan sampai informasi yang belum benar justru menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat," kata Yuni.
Tantangan pemantauan visual di pos lapangan Lampung Selatan saat ini juga sedang mengalami kendala teknis operasional.
Camat Rajabasa, Firdaus Rusli, mengungkapkan bahwa Pos Pemantauan Hargopancuran baru saja selesai direnovasi total menjadi bangunan dua lantai, namun fasilitas monitoring elektronik belum lengkap.
"Bangunannya sudah selesai dibangun. Sesuai rencana awal, pembangunan fisik seharusnya satu paket dengan penyediaan fasilitas pemantauan, termasuk perangkat CCTV. Namun sampai sekarang peralatan barunya belum dikirim dari Bandung," ujarnya, Jumat (4/7/2026).
Firdaus menjelaskan bahwa seluruh peralatan lama yang sudah tidak layak telah diangkut, sehingga pos di wilayahnya terpaksa beroperasi secara manual dan mengandalkan pasokan data dari pos pembanding.
"Tidak berhenti melakukan pemantauan, tetapi sementara menggunakan sistem manual dengan dukungan laporan dari Pos Anyer agar data tetap valid," jelasnya.
Proses pengadaan fasilitas pemantauan digital yang terlambat tersebut kini sedang dikoordinasikan lebih lanjut dengan pusat.
"Untuk alasan teknis mengapa belum dikirim dari Bandung, kami juga belum mendapatkan informasi secara rinci karena itu merupakan kegiatan dari pemerintah pusat," katanya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow