Pakar Ungkap Evolusi Gunung Anak Krakatau Selama Satu Abad

Smallest Font
Largest Font

Profesor bidang Vulkanologi University of Birmingham, Prof Sebastian Watt, membeberkan gambaran evolusi Gunung Anak Krakatau (GAK) sejak pertama kali muncul di Selat Sunda pada 1927. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam Webinar Geohazard BRIN yang ditayangkan secara daring pada Senin, 14 September 2026, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

"Ia istimewa karena konteksnya dan posisinya sebagai gunung berapi yang muncul di Selat Sunda (GAK) merupakan kasus yang tidak biasa karena kita memiliki gambaran yang sangat detail tentang perilakunya sejak pertama kali muncul di atas permukaan laut pada 1927," tutur Prof Sebastian Watt, Profesor bidang Vulkanologi University of Birmingham.

GAK lahir dari kaldera Gunung Krakatau yang meletus dahsyat pada 1883 dan menewaskan hampir 30 ribu jiwa. Dokumen aktivitas GAK dinilai sangat lengkap melalui foto dan peta sejarah selama hampir satu abad terakhir.

"Sebagian besar letusannya telah didokumentasikan dengan baik, dalam banyak kasus terdapat foto dan peta aktivitasnya. Jadi, ini memungkinkan kita untuk melihat kembali catatan sejarah dan merekonstruksi bagaimana perilakunya dari waktu ke waktu," sambung Watt.

Dokumentasi awal pada 1928 memperlihatkan interaksi magma dengan air laut yang memicu erupsi freatomagmatik saat lubang gunung masih di bawah permukaan laut. Pembentukan pulau tidak simetris baru terlihat pada 1935 akibat penumpukan endapan di sisi timur laut.

"Jadi ini menghasilkan gaya erupsi freatomagmatik di mana magma berinteraksi dengan air laut," jelas Watt.

Foto Mei 1961 menunjukkan lubang letusan GAK telah berada di atas permukaan laut dan mengalirkan lava ke arah barat daya. Rangkaian fase pertumbuhan tercatat mulai dari letusan freatomagmatik (1927), aliran lava pertama (1960), fase strombolian (1990–2018), hingga peristiwa runtuhnya tubuh gunung pada 2018 yang disusul pertumbuhan kembali sejak 2023.

"Jadi kita kembali ke tahap freatomagmatik lain, sebenarnya hanya untuk beberapa bulan, sampai kemudian menjadi subaerial lagi, dan gaya perilaku strombolian kembali," sampaingnya.

Stabilitas GAK pasca-peristiwa 2018 serta aktivitas terbaru pada awal September 2026 memerlukan analisis mendalam terkait laju pertumbuhan, bentuk tubuh gunung, dan komposisi magmanya.

"Hal ini memungkinkan dilakukannya evaluasi terhadap aktivitas di masa mendatang dengan mempertimbangkan pola perilaku gunung api tersebut di masa lampau baik dari segi gaya, frekuensi, dan skala letusan, maupun dari aspek kimia serta kondisi magma di bawah permukaan," katanya.

Pemahaman menyeluruh terhadap rekaman sejarah erupsi menjadi kunci penting dalam memantau dinamika gunung api aktif tersebut ke depan.

"Pada gilirannya, hal ini menjadi landasan untuk mengidentifikasi perubahan perilaku serta memantau pertumbuhan gunung api tersebut di masa depan," tegas Watt.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed