Alat Pemantau Tsunami BRIN di Gunung Anak Krakatau Sempat Mati 11 Jam
Sistem pemantau air laut IDSL/PUMMA milik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Pulau Rakata, Selat Sunda, sempat mengalami kelumpuhan selama 11 jam saat puncak erupsi Gunung Anak Krakatau pada 6 September 2026. Seperti dilansir dari Detikcom, gangguan ini dipicu oleh penutupan panel surya oleh material vulkanik.
Perangkat yang berfungsi merekam data pasang-surut air laut untuk sistem peringatan dini tsunami tersebut tidak mendapat pasokan daya maksimal. Masalah gangguan daya pada baterai ini teridentifikasi sudah mulai terjadi sejak akhir Agustus 2026.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dr Semeidi Husrin, menjelaskan dinamika daya yang memicu matinya perangkat di Selat Sunda tersebut.
"Memang terlihat ada sesuatu yang terjadi pelemahan dari sistem power supply sistem kita, sistem baterai kita di akhir bulan Agustus dan masuk ke bulan September dan mencapai puncaknya pada 6 September waktu itu, bahkan sempat mati," ungkap Semeidi dalam Webinar Geohazard BRIN yang ditayangkan secara daring, Senin (14/9/2026).
Ia memaparkan lebih lanjut mengenai penyebab fisik terhambatnya proses pengisian daya baterai pada perangkat tersebut.
"Ini dipastikan memang karena ada sesuatu yang menutupi solar panel dari IDSL ini sehingga dia tidak maksimal chargingnya di siang hari," paparnya.
Meski alat pemantau sempat tidak beroperasi selama 11 jam, BRIN memastikan tidak timbul gelombang tsunami akibat erupsi awal September itu. Semeidi mengimbau publik untuk memfilter informasi dan tidak panik terpengaruh rumor hoaks.
"Karena ada banyak sekali berita hoaks yang berada di masyarakat. Ada fenomena air laut surut, kemudian ada gelombang tinggi katanya. Bahwa sebetulnya BMKG sendiri sudah menyampaikan ke publik bahwa sebetulnya berdasarkan data-data yang dimiliki itu tidak ada gelombang tsunami yang dibangkitkan," imbuhnya.
Keterbatasan jumlah unit IDSL/PUMMA yang terpasang saat ini dinilai menjadi kelemahan utama. Saat ini baru tersedia satu unit pendeteksi di kawasan Gunung Anak Krakatau, sehingga penurunan akurasi data tidak terhindarkan ketika unit tersebut terkendala.
Evaluasi pascaerupsi menunjukkan perlunya peningkatan infrastruktur pemantauan bencana di sekitar area vulkanik tersebut.
"Ini membuktikan bahwa satu unit itu sangat kurang. Jadi, ke depan memang perlu ditambah ya keberadaan atau jumlah yang cukup dari IDSL atau PUMMA ini. Agar kondisi seperti ini bisa ditutupi oleh alat kedua, ketiga, dan seterusnya," ungkap Semeidi.
Selain masalah pasokan daya, fasilitas CCTV visual untuk validasi gelombang tsunami di lokasi tersebut telah mati selama lebih dari satu tahun. Pihak BRIN berencana memasang kamera pengganti setelah kondisi lapangan dipastikan aman.
"Jadi ini memerlukan perbaikan. Insya Allah CCTV pengganti sudah kita siapkan dan akan siap kita pasang secepatnya setelah kondisi aman. Jadi, informasi CCTV ini salah satunya untuk validasi visual jika ada tsunami dan jika ada fenomena-fenomena lain," beber Semeidi lagi.
Untuk mengoptimalkan sistem peringatan dini, BRIN merekomendasikan penempatan 6 unit IDSL/PUMMA di pulau-pulau sekitar Gunung Anak Krakatau.
"Yang paling penting adalah perawatan. Jadi memastikan seluruh sistem berfungsi dengan baik termasuk CCTV," kata Semeidi lagi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow