Hantaman Iran Lumpuhkan Pangkalan Sekutu AS dan Ubah Rute Logistik
Lumpuhnya sejumlah pangkalan militer sekutu Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab akibat gelombang serangan rudal serta drone Iran telah mengacaukan jalur pasokan logistik Washington di Timur Tengah. Kejadian ini memaksa militer Pentagon memindahkan titik pusat pengiriman pasokan sejauh 2.200 mil ke Pulau Diego Garcia di Samudra Hindia.
Mantan Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, Mike Mullen, mengungkapkan keprihatinannya atas kelumpuhan fasilitas vital pendukung armada kapal perang tersebut saat diwawancarai ABC News pada Minggu, 16 Agustus 2026. Ia menilai Washington sama sekali tidak mengantisipasi kehancuran pangkalan sekutu kawasan yang selama ini menjadi tempat peristirahatan dan perbaikan armada kapal perang.
"Saya pikir kami jelas tidak memperkirakan pangkalan sekutu kami, tempat kami sebelumnya menempatkan pasukan, akan dihancurkan oleh Iran," kata Mullen.
Ketiadaan fasilitas persinggahan di kawasan Teluk membuat armada AS kesulitan melakukan perawatan teknis maupun pemulihan kondisi awak kapal. Menurut Mullen, ancaman serangan yang meluas di wilayah operasi memaksa kapal-kapal perang Amerika terus bertahan di laut lepas tanpa kepastian waktu.
"Masalah saat ini di wilayah operasi adalah lokasi tempat kami melakukan semua itu. Bahrain berada di tengah konflik, begitu juga Uni Emirat Arab. Tempat-tempat tersebut sekarang menjadi sasaran.
Karena itu, keamanan dan keselamatan aset-aset ini menjadi perhatian yang sangat besar. Sederhananya, tidak ada tempat yang mudah untuk berhenti di pelabuhan," ujar Mullen.
Pemerintah Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain dilaporkan kian frustrasi terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump yang dinilai gagal mencapai solusi diplomatik sejak perang meletus pada Februari. Mengutip laporan The Washington Post, pejabat kawasan merasa terseret dalam konflik yang membebani mereka secara langsung.
"Trump memulai perang ini, dan kita menanggung akibatnya," kata seorang pejabat Teluk.
Ketegangan diplomatik memicu negara-negara Teluk untuk mengeksplorasi aliansi pertahanan alternatif di luar Washington. Salah satu langkah nyata ditunjukkan melalui penandatanganan perjanjian pertahanan bersama antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan sebagai sinyal bahwa perlindungan AS tidak lagi dianggap memadai.
Namun, perwakilan Gedung Putih membantah adanya keretakan aliansi dan menegaskan komunikasi dengan sekutu regional tetap berjalan intensif.
"Amerika Serikat telah menjalin kontak reguler dengan semua sekutu regional kami sejak sebelum Operasi Epic Fury. Iran lebih terisolasi dari sebelumnya sebagai akibat dari tindakan terorisnya," kata pejabat Gedung Putih.
Di sisi lain, pengamat regional menilai ketidakpuasan sekutu Arab telah terakumulasi akibat kebijakan luar negeri AS yang dinilai tidak konsisten. Direktur Praktik Timur Tengah dan Afrika Utara di Eurasia Group, Firas Maksad, memberikan analisisnya terkait sikap skeptis monarki Teluk.
"Frustrasi telah ada sejak awal," kata Maksad.
Imbas langsung kehancuran pangkalan Bahrain berdampak sangat parah pada kapal induk USS Abraham Lincoln beserta lebih dari 5.000 awak dan personel Korps Marinir AS. Beroperasi selama hampir sembilan bulan di laut tanpa persinggahan, para awak kini mengalami krisis pasokan pangan, masalah sanitasi perpipaan, hingga penurunan kesehatan mental.
Mullen menekankan bahwa penugasan panjang tanpa jeda pelabuhan ini merupakan hal yang sangat berat dan belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan jika dibandingkan dengan era Perang Vietnam.
"Ini merupakan hal yang sangat signifikan dan sangat sulit. Penugasan seperti ini sangat, sangat berat. Secara historis, kami biasanya dapat masuk ke pelabuhan untuk beristirahat, melakukan perbaikan, kemudian kembali menjalankan operasi. Bahkan pada masa Vietnam, kami melakukan hal tersebut," kata Mullen.
Mantan pejabat tinggi militer AS tersebut juga menyoroti keterbatasan armada kapal induk Amerika Serikat yang saat ini hanya berjumlah 11 unit. Mullen mengingatkan perdebatan lamanya dengan mantan Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld terkait pengurangan jumlah kapal induk, yang terbukti menyulitkan rotasi pasukan saat ini.
"Semua kapal ini, para personel ini, dan keluarga mereka pada dasarnya harus kembali, memahami bagaimana mempersiapkan diri untuk misi berikutnya. Namun, hal tersebut membutuhkan waktu," kata Mullen.
Kondisi riil operasional di lapangan dinilai Mullen perlu mendapatkan perhatian serius dari para komandan Angkatan Laut AS di tengah kesimpangsiuran informasi mengenai situasi internal kapal induk.
"Saya tentu mengkhawatirkan kondisi kapal berdasarkan apa yang saya lihat dalam laporan berita. Saya tahu komandan, terutama komandan kapal Lincoln, bekerja keras menangani persoalan tersebut. Saya juga percaya kebenarannya mungkin berada di antara berbagai laporan yang beredar," kata Mullen.
Terbatasnya jumlah alokasi kapal induk aktif membuat tekanan operasional Pentagon kian meningkat drastis seiring meluasnya arena konflik.
"Dalam kondisi saat ini, jika kita akan mengerahkan mereka seperti ini, menurut saya kita benar-benar membutuhkan jumlah yang lebih banyak," ujar Mullen.
Mullen menyimpulkan bahwa perubahan situasi di lapangan memaksa AS menyusun ulang seluruh perencanaan militer secara mendadak.
"Karena itu, dalam hal perencanaan, semuanya harus disesuaikan secara langsung dengan keadaan. Menemukan tempat untuk melakukan hal tersebut menjadi sangat, sangat sulit. Pada dasarnya, Anda terpaksa tetap berada di laut," ujar Mullen.
Meski rute logistik membentang ribuan mil dan Iran sempat meluncurkan dua rudal balistik ke arah Diego Garcia, Presiden Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan operasi militer AS di kawasan tersebut akan terus berlanjut tanpa batasan waktu.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow