Harga Kakao Global Melonjak 6 Persen Sentuh Level Tertinggi Sejak April 2025

Smallest Font
Largest Font

Harga kontrak berjangka kakao global melonjak tajam sebesar 6,66 persen pada penutupan perdagangan Jumat, 10 Juli 2026 malam waktu setempat. Kenaikan yang terjadi selama empat hari berturut-turut ini membawa harga kakao ke level 6.455 dolar AS per ton, mendekati angka 6.500 dolar AS per ton.

Lonjakan signifikan ini menjadi catatan level tertinggi baru bagi komoditas bahan baku cokelat tersebut sejak April 2025 atau dalam kurun waktu hampir tiga bulan terakhir. Penguatan harga dipicu oleh kekhawatiran pasar atas menyusutnya pasokan dari Afrika Barat.

Kondisi di pasar internasional ini berdampak langsung pada pergerakan harga komoditas di tingkat domestik. Berdasarkan pemantauan di lapangan, harga kakao di tingkat petani Indonesia ikut merangkak naik menyusul tren penguatan harga global tersebut.

Di Kabupaten Aceh Tenggara, harga kakao kering dengan kualitas baik di tingkat petani per Jumat, 10 Juli 2026 tercatat naik sebesar Rp2.000 per kg. Komoditas ini sekarang dibanderol seharga Rp86.000 per kg dari yang sebelumnya berada di angka Rp84.000 per kg.

Kenaikan ini memperpanjang tren positif pendapatan petani setempat setelah sebelumnya harga komoditas tersebut sempat tertahan lama di kisaran Rp52.000 per kg. Perubahan harga berkala di tingkat lokal dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel Perkembangan Harga Kakao di Aceh Tenggara
Periode WaktuKualitas KomoditasHarga per Kilogram
SebelumnyaKering Kualitas BaikRp52.000
Kamis, 9 Juli 2026Kering Kualitas BaikRp84.000
Jumat, 10 Juli 2026Kering Kualitas BaikRp86.000

Kenaikan harga di tingkat lokal ini terjadi secara linear dengan penguatan indeks komoditas global. Tekanan beli global yang kuat turut mendukung kenaikan MXV-Index selama tiga hari berturut-turut hingga mencapai posisi 2.675 poin.

Anomali Cuaca Tekan Produksi Afrika Barat

Faktor utama yang mendorong lonjakan harga kakao global saat ini adalah anomali cuaca ekstrem di kawasan Afrika Barat. Sejak Maret 2026, suhu di Pantai Gading dan Ghana dilaporkan sekitar 1,1 derajat Celsius lebih rendah dari rata-rata lima tahun terakhir.

Selain suhu dingin, curah hujan pada bulan Juni melonjak drastis hingga melebihi rata-rata multi-tahun. Curah hujan tercatat meningkat sebesar 46 persen di Pantai Gading dan 52 persen di Ghana, yang mengganggu proses pengeringan biji kakao.

Situasi ini diperparah dengan munculnya risiko potensi terbentuknya fenomena El Nino super kuat dalam 75 tahun terakhir di Samudra Pasifik. Kondisi iklim ekstrem tersebut mengancam produktivitas perkebunan kakao dalam jangka panjang.

Proyeksi Penurunan Output Global

Akibat gangguan cuaca tersebut, volume produksi kakao di Pantai Gading untuk tahun panen 2026-2027 diproyeksikan mengalami penurunan tajam. Hasil panen diperkirakan hanya akan mencapai sekitar 1,7 hingga 1,8 juta ton saja.

Angka proyeksi tersebut merepresentasikan penurunan sebesar 18 persen dibandingkan dengan musim sebelumnya yang mampu menyentuh 2,2 juta ton. Penurunan output dari produsen terbesar dunia ini dipastikan memperketat ketersediaan barang di pasar global.

Menyala harga kakao global di hari Jumat tgl 10 Juli 2026 | Petani kakao indonesia

Revisi Data Surplus Organisasi Internasional

Organisasi Kakao Internasional (ICCO) dalam laporan berkala pada Mei 2026 juga telah merevisi proyeksi pasar mereka. Perkiraan surplus kakao global untuk tahun panen 2024-2025 kini dipangkas secara signifikan.

ICCO menurunkan proyeksi surplus menjadi 48.000 ton dari perkiraan awal yang sempat diperkirakan bisa mencapai 75.000 ton. Penyesuaian data ini menegaskan bahwa pasokan global saat ini jauh lebih terbatas dari dugaan awal.

Dampak Sistemik pada Industri dan Komoditas Lain

Kenaikan harga bahan baku global ini mulai memengaruhi kinerja operasional korporasi besar. Salah satunya terlihat dari tekanan terhadap pergerakan saham Barry Callebaut, produsen cokelat makanan curah terbesar di dunia, yang ikut terdampak oleh lonjakan biaya input modal.

Di sisi lain, tren kenaikan tidak hanya terjadi pada kakao melainkan juga merembet ke komoditas perkebunan lain seperti kopi. Harga berjangka kopi di bursa ICE melampaui 4.000 dolar AS per ton pada sesi perdagangan pekan ini.

Kontrak berjangka kopi robusta untuk bulan September di bursa London melonjak lebih dari 300 dolar AS per ton. Kenaikan komoditas pelengkap ini dipicu oleh lambatnya progres panen di Brasil akibat faktor cuaca serupa.

Harga komoditas dapat berfluktuasi sewaktu-waktu. Berbelanja dengan bijak dan pantau informasi harga resmi dari pemerintah.

Hingga saat ini, para pelaku industri pengolahan makanan berbasis cokelat terus memantau pergerakan harga kontrak berjangka global. Penyesuaian harga jual produk eceran di tingkat konsumen diprediksi akan terjadi jika harga bahan baku kakao bertahan di level tinggi dalam beberapa bulan ke depan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed