Harga Kakao Hari Ini Naik Tipis Menjadi 4254 USD per Ton di Bursa Berjangka
Harga komoditas kakao hari ini, Minggu (21/6/2026), diperdagangkan di kisaran level 4.200 USD per metrik ton setelah mengalami kenaikan tipis pada penutupan pasar akhir pekan. Data perdagangan internasional mencatat pergerakan positif yang dipicu oleh penyesuaian proyeksi surplus pasokan global dari lembaga-lembaga analisis komoditas utama.
Berdasarkan data perdagangan berjangka komoditas, harga kakao bertengger di angka 4.254,35 USD per metrik ton. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 0,41 persen jika dibandingkan dengan hari perdagangan sebelumnya, menandakan adanya dorongan beli yang stabil di pasar berjangka.
Meskipun mengalami penguatan harian, performa jangka panjang komoditas andalan perkebunan ini memperlihatkan dinamika yang kontras. Selama satu bulan terakhir, harga bahan baku cokelat ini telah melonjak sebesar 9,39 persen, namun jika ditarik secara tahunan, nilainya masih 50,75 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dinamika pasar berjangka menunjukkan performa yang bervariasi di dua bursa utama dunia, yaitu New York dan London. Perbedaan pergerakan ini mencerminkan respons pelaku pasar terhadap sentimen pasokan regional masing-masing wilayah perdagangan.
Perbedaan Bursa New York dan London
Pada sesi perdagangan Kamis malam, nilai kontrak kakao bulan September 2026 (CCU26) terus aktif diperdagangkan. Kakao berjangka New York untuk kontrak bulan Juli (CCN26) ditutup turun tipis sebesar -1 atau melemah 0,02 persen.
Sebaliknya, pergerakan positif justru terjadi di pasar Eropa. Kontrak kakao London untuk bulan Juli #7 (CAN26) ditutup menguat signifikan dengan kenaikan +35 atau meningkat sebesar 1,11 persen pada akhir sesi perdagangan bursa.
Perbandingan Historis Harga Kakao
Sebagai perbandingan historis yang dilansir dari seputarforex.org, harga internasional biji kakao pada Mei 2025 yang lalu sempat dinilai sangat tinggi seharga 9.865 USD atau setara Rp160.800.000 per ton. Nilai tersebut dihitung dengan asumsi kurs USD terhadap IDR sebesar Rp16.300, yang berarti harga per kilogramnya kala itu mencapai kisaran Rp160.800.
Jika melihat rekor jangka panjang, komoditas ini pernah menyentuh level tertinggi sepanjang masa pada bulan Desember 2024. Saat itu, harga kakao meroket hingga mencapai angka 12.906,00 USD per metrik ton akibat krisis pasokan global yang parah.
Pemangkasan Proyeksi Surplus Global
Kenaikan harga yang terjadi belakangan ini sangat dipengaruhi oleh langkah beberapa lembaga riset yang memangkas perkiraan surplus kakao dunia. Penurunan estimasi surplus ini menandakan bahwa pasokan di pasar tidak semelimpah yang diperkirakan sebelumnya.
Lembaga analisis StoneX baru-baru ini mengurangi proyeksi surplus kakao global untuk musim 2026/27 menjadi 149.000 ton. Angka ini turun drastis dari proyeksi awal yang dirilis mereka pada bulan Januari sebesar 267.000 ton.
Tidak hanya untuk musim depan, StoneX juga memangkas estimasi surplus kakao global untuk musim berjalan 2025/26. Estimasi pasokan berlebih tersebut kini diturunkan menjadi 247.000 ton dari perkiraan sebelumnya yang berada di angka 287.000 ton.
Langkah penyesuaian pasokan ini sejalan dengan organisasi kakao internasional. ICCO pada akhir Mei juga telah merevisi estimasi surplus kakao untuk musim 2024/25, diturunkan dari 75.000 ton menjadi tinggal 48.000 ton saja.
Estimasi dan Proyeksi Pasar ke Depan
Melalui pengamatan model makro global serta ekspektasi para analis komoditas, pergerakan nilai tukar produk perkebunan ini diperkirakan masih akan mengalami penyesuaian. Keseimbangan antara permintaan industri pengolahan cokelat dan produksi petani menjadi faktor penentu utama.
Konsensus pasar memperkirakan komoditas kakao akan diperdagangkan di angka 4.232,80 USD per metrik ton pada akhir kuartal berjalan ini. Pelaku pasar terus memantau perkembangan cuaca di negara produsen utama Afrika Barat untuk melihat potensi perubahan output produksi.
Untuk jangka panjang, ekspektasi analis memperkirakan harga komoditas ini akan mengalami normalisasi yang lebih dalam. Kakao diproyeksikan berpotensi turun ke angka 3.529,84 USD per metrik ton dalam rentang waktu 12 bulan ke depan seiring pulihnya rantai pasok dunia.
Berikut adalah rincian pergerakan harga komoditas kakao serta proyeksi surplus yang dihimpun dari laporan pasar berjangka Trading Economics dan StoneX:
| Indikator Pasar / Lembaga | Periode / Kontrak | Nilai / Volume | Perubahan Sentimen |
|---|---|---|---|
| Harga Kakao Berjangka | 21 Juni 2026 | 4.254,35 USD/T | Naik 0,41% |
| Performa Bulanan | Juni 2026 | 9,39% | Menguat |
| Performa Tahunan | Tahunan (YoY) | -50,75% | Melemah |
| Proyeksi Surplus StoneX | Musim 2026/27 | 149.000 Ton | Dipangkas dari 267.000 Ton |
| Proyeksi Surplus StoneX | Musim 2025/26 | 247.000 Ton | Dipangkas dari 287.000 Ton |
| Estimasi Surplus ICCO | Musim 2024/25 | 48.000 Ton | Dipangkas dari 75.000 Ton |
| Prediksi Akhir Kuartal | Kuartal Berjalan | 4.232,80 USD/MT | Stabil |
| Proyeksi 12 Bulan Kedepan | Tahunan | 3.529,84 USD/MT | Penurunan Jangka Panjang |
Harga komoditas dapat berfluktuasi sewaktu-waktu. Berbelanja dengan bijak dan pantau informasi harga resmi dari pemerintah.
Para pelaku usaha industri pengolahan makanan serta para petani lokal terus memperhatikan pergerakan bursa internasional ini sebagai acuan penetapan harga beli di tingkat gudang domestik. Perubahan nilai kontrak komoditas berjangka New York dan London dalam beberapa hari ke depan akan menjadi indikator penting arah pergerakan harga kakao selanjutnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow