Houthi Blokade Laut Merah Saudi dan AS Bersiap Ambil Tindakan

Smallest Font
Largest Font

Kelompok Houthi yang didukung Iran mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi di Laut Merah pada Senin, yang kemudian memicu respons dari Amerika Serikat dan peningkatan kesiapan militer koalisi bentukan Saudi pada Selasa (21/7/2026).

Pengumuman blokade dari Houthi ini bertujuan memutus jalur pelayaran kapal-kapal menuju pelabuhan Arab Saudi demi mengganggu stabilitas ekonomi regional. Agensi berita SABA yang dikelola Houthi melaporkan bahwa enam kapal telah dipaksa mengubah rute pelayaran pada Selasa setelah mendapat peringatan dari kelompok pemberontak tersebut.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan tanggapan terkait situasi di Laut Merah tersebut saat ditemui di Oval Office. Menurut laporan PBS, ketegangan ini dinilai bukan merupakan masalah yang mendesak bagi Washington saat ini.

"Sejauh ini, hal itu belum terjadi," kata Trump kepada para wartawan.

Pemerintah Amerika Serikat menegaskan komitmen mereka untuk tetap menjaga ketertiban jalur perdagangan internasional jika blokade benar-benar mengganggu stabilitas maritim global secara masif.

"Saya pikir jika ada hal seperti itu, kita hanya harus membereskannya," ujar Trump.

Ketegangan regional ini dinilai tidak mempengaruhi hubungan langsung antara pemerintah Amerika Serikat dan kelompok Houthi dalam beberapa waktu terakhir.

"Kita tidak memiliki masalah dengan Houthi akhir-akhir ini, dan mereka tidak memiliki masalah dengan kita untuk jangka waktu yang lama, termasuk selama konflik ini," kata Trump.

Dilansir dari Al Jazeera, pengamat senior dari Departemen Studi Perang di King's College London menilai ancaman Houthi ini merupakan bagian dari strategi Iran untuk menguji batas kesabaran strategis Arab Saudi. Selama hampir satu dekade, Riyadh telah berupaya menghindari perang regional yang lebih luas demi fokus pada transformasi ekonomi domestik mereka.

Arab Saudi memegang peran krusial sebagai eksportir minyak mentah terbesar di dunia dan memimpin produksi OPEC. Gangguan berkelanjutan pada jalur ekspor pertambangan ini berpotensi mengguncang pasar pengapalan internasional, meningkatkan biaya asuransi, serta memicu inflasi ekonomi global.

Guna menghadapi eskalasi ini, Komando Pasukan Gabungan (JFC) yang dipimpin Arab Saudi kini telah bertransformasi menjadi koalisi terintegrasi dengan kekuatan lebih dari 650.000 personel. Pasukan ini didukung oleh arsitektur militer C6ISR canggih yang mencakup intelijen persisten, pertahanan rudal udara, operasi siber, dan serangan presisi lintas teater.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed