Ibu di Massachusetts Bunuh Tiga Anaknya karena Postpartum Psychosis

Smallest Font
Largest Font

Lindsay Clancy, seorang ibu berusia 35 tahun di Massachusetts, Amerika Serikat, menewaskan tiga anak kandungnya akibat gangguan mental berat pascalahir yang dikenal sebagai postpartum psychosis, dilansir dari Detik Health.

Clancy diduga melakukan tindakan tersebut secara sadar menurut pihak jaksa. Namun, tim kuasa hukumnya menyatakan Clancy mengalami kondisi medis langka yang menyebabkan hilangnya kemampuan membedakan ilusi dan kenyataan.

Pada malam kejadian, Clancy menyuruh suaminya keluar rumah sebelum membunuh ketiga anaknya yang bernama Cora (5 tahun), Dawson (3 tahun), dan Callan (8 bulan). Setelah itu, ia mencoba bunuh diri dengan melompat dari lantai dua rumah hingga mengalami kelumpuhan permanen dari pinggang ke bawah.

Tim pengacara menjelaskan dalam persidangan bahwa Clancy bertindak karena mendengar halusinasi suara yang memintanya melakukan perbuatan tersebut.

Menurut Tracy Vozar, Ph.D., Direktur Perinatal Wellness Program di Endeavor Health, penderita postpartum psychosis kehilangan kemampuan membedakan delusi dari kenyataan.

"Perintah atau bisikan suara itu terasa sangat nyata bagi mereka, sejelas percakapan kita sehari-hari. Karena mereka memercayai hal itu sebagai kebenaran, kekhawatirannya adalah penderita postpartum psychosis akan bertindak berdasarkan bisikan dan pikiran tersebut," ujar Tracy Vozar.

Dr. Jennifer Payne, psikiater reproduksi dari University of Virginia, menambahkan bahwa kondisi ini menyebabkan gangguan pola pikir yang parah.

"Postpartum psychosis itu seperti badai di dalam otak. Ketika seseorang mengalami psikosis, mereka tidak akan bertindak atau mengambil keputusan sebagaimana mestinya. Pasien sering kali terlihat bingung, linglung, dan mengalami brain fog parah," kata Dr. Payne.

Gangguan ini sulit dideteksi karena penderita sering menyembunyikan ilusi akibat takut dihakimi atau dianggap 'gila'. Sekitar setengah kasus terjadi pada ibu tanpa riwayat gangguan mental sebelumnya, sehingga sulit diprediksi tenaga medis.

Para ahli mengimbau keluarga dan pasangan untuk memperhatikan perubahan perilaku ibu pascalahir seperti insomnia berat, kebingungan mendadak, atau berbicara sendiri. Penanganan medis dan empati lingkungan sangat penting untuk mencegah tragedi serupa, menurut Detik Health.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed