IHSG Ditutup Melemah Usai Bank Indonesia Tahan Suku Bunga
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis 0,09 persen atau turun 5 poin ke level 6.334 pada akhir perdagangan Rabu (22/7/2026). Penurunan indeks terjadi tepat setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen.
Koreksi terbatas ini mematahkan tren penguatan IHSG yang sebelumnya telah berlangsung selama sembilan hari bursa berturut-turut. Sepanjang sesi perdagangan, indeks saham domestik bergerak fluktuatif di rentang 6.284,88 hingga 6.394,68 dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp11.092,96 triliun.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, nilai transaksi harian tercatat sebesar Rp18,55 triliun dengan volume mencapai 46,42 miliar saham. Sebanyak 272 saham menguat, 340 saham melemah, dan 184 saham ditutup stagnan. Tekanan pada IHSG disumbang oleh aksi jual bersih investor asing (net sell) senilai Rp1,11 triliun di pasar reguler.
Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi yang paling banyak dilepas asing dengan nilai jual bersih Rp230 miliar, disusul PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp141 miliar. Sebaliknya, investor asing mencatatkan aksi beli bersih pada saham PT Timah Tbk (TINS) sebesar Rp56 miliar dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar Rp49 miliar.
Pelemahan tajam di jajaran indeks LQ45 dialami oleh PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang merosot 3,26 persen ke Rp4.150, serta PT United Tractors Tbk (UNTR) yang turun 2,11 persen ke level Rp25.550. Sementara itu, saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) memimpin penguatan dengan kenaikan 3,86 persen ke Rp2.020.
Langkah Bank Indonesia menahan suku bunga acuan dinilai sebagai bagian dari penyesuaian fokus kebijakan moneter.
"Kebijakan yang ada saat ini mulai fokus terhadap stabilitas dan bukan lagi terhadap pro pertumbuhan yang selama ini dilakukan," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus.
Ia menambahkan bahwa penarikan dana asing sangat diperlukan untuk menjaga daya tarik pasar keuangan domestik, terutama setelah mencatatkan arus keluar sejak awal tahun.
"Sehingga dibutuhkan daya tarik bagi pelaku pasar dan investor asing untuk masuk ke dalam pasar keuangan dalam negeri," ujarnya.
Nico juga menyoroti risiko kenaikan suku bunga terhadap perekonomian dan pasar modal.
"Apalagi saham dan obligasi pasti akan mengalami penurunan harga di saat suku bunga naik," ungkapnya.
Di sisi lain, pergerakan pasar saham dinilai masih dibayangi oleh dinamika aliran modal global.
"Dengan kata lain, pasar saham Indonesia sudah berada pada mode 'higher for longer is the new normal' sehingga responsnya terhadap keputusan BI relatif terukur," kata Analis Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto.
Sementara itu, Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda memperkirakan arah gerak teknikal indeks masih memiliki ruang penguatan.
"Secara teknikal, IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan dengan support 6.220–6.250 dan resistance 6.360–6.400. Momentum bullish masih terjaga, namun setelah reli yang cukup kuat dalam beberapa hari terakhir, potensi profit taking jangka pendek tetap perlu diwaspadai," katanya.
Pandangan mengenai dampak suku bunga terhadap batas pergerakan indeks disampaikan oleh pihak sekuritas lain.
"Jika naik lagi, tekanan balik ke 6.000—6.100. Higher for longer hingga akhir tahun [membuat] upside terbatas. Base case IHSG masih 6.000—6.500. Penentu terbesar tetap MSCI November, bukan level BI Rate," tegas Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi.
Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup stagnan pada level Rp17.875 per dolar AS di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow