Aksi Jual Investor Asing Tekan IHSG ke Level 6.334

Smallest Font
Largest Font

Aksi jual bersih atau net sell yang dilakukan investor asing sebesar Rp 1,11 triliun memicu penutupan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di zona merah pada level 6.334,12 pada perdagangan Rabu (22/7/2026).

Koreksi tipis sebesar 0,09 persen atau berkurang 5 poin tersebut terjadi berbarengan dengan pengumuman Bank Indonesia yang menetapkan suku bunga acuan tetap berada pada angka 5,75 persen. Pergerakan Indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) berlangsung dinamis dalam rentang 6.284,88 hingga 6.394,68, sekaligus menghentikan konsistensi penguatan pasar selama sembilan hari sebelumnya.

Berdasarkan pencatatan BEI, total nilai transaksi harian mencapai Rp 18,55 triliun dari volume perdagangan sebanyak 46,42 miliar saham. Sebanyak 367 saham melemah, 281 saham menguat, dan 317 saham tidak mengalami perubahan harga.

Tekanan dari pemodal asing menyasar sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mencatatkan pelepasan asing terbesar senilai Rp 230 miliar, diikuti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp 141 miliar, PT Astra International Tbk (ASII) Rp 137 miliar, serta PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp 134 miliar.

Kendati demikian, investor luar negeri mencatatkan aksi beli pada PT Timah Tbk (TINS) sejumlah Rp 56 miliar dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) senilai Rp 49 miliar. Kenaikan harga turut dialami PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) sebesar 3,86 persen ke posisi Rp 2.020 dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) sebesar 3,53 persen menjadi Rp 1.320.

Kondisi teknikal pasar dinilai masih menyimpan peluang penguatan meski berada dalam bayang-bayang aksi ambil untung.

"Secara teknikal, IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan dengan support 6.220–6.250 dan resistance 6.360–6.400. Momentum bullish masih terjaga, namun setelah reli yang cukup kuat dalam beberapa hari terakhir, potensi profit taking jangka pendek tetap perlu diwaspadai," kata Reza Diofanda, Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas.

Analisis berbeda disampaikan oleh pihak KISI Sekuritas terkait dampak penyesuaian suku bunga terhadap indeks secara keseluruhan.

"Jika naik lagi, tekanan balik ke 6.000—6.100. Higher for longer hingga akhir tahun [membuat] upside terbatas. Base case IHSG masih 6.000—6.500. Penentu terbesar tetap MSCI November, bukan level BI Rate," tegas Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.

Dinamika suku bunga acuan turut dipandang sebagai sarana penyesuaian terhadap iklim ekonomi global dan domestik.

"Sehingga dibutuhkan daya tarik bagi pelaku pasar dan investor asing untuk masuk ke dalam pasar keuangan dalam negeri," kata Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas.

Potensi kenaikan suku bunga di masa depan juga diproyeksikan dapat memicu pergeseran alokasi dana investor.

"Apalagi saham dan obligasi pasti akan mengalami penurunan harga di saat suku bunga naik," ungkap Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas.

Sementara itu, respons pelaku pasar terhadap penahanan suku bunga acuan dinilai sudah memperhitungkan kondisi valuasi saat ini.

"Dengan kata lain, pasar saham Indonesia sudah berada pada mode ‘higher for longer is the new normal’ sehingga responsnya terhadap keputusan BI relatif terukur," kata Rully Arya Wisnubroto, Analis Mirae Asset Sekuritas.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed