IHSG Ditutup Menguat 0,11 Persen di Tengah Sinyal Hawkish The Fed

Smallest Font
Largest Font

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ditutup menguat 7,36 poin atau 0,11 persen ke posisi 6.525,48 pada Senin (31/8/2026) sore. Penguatan terbatas ini terjadi di tengah kehati-hatian pelaku pasar mencermati sinyal kenaikan suku bunga Amerika Serikat dan meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Indeks kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 turut naik 2,01 poin atau 0,31 persen ke posisi 643,83. Sepanjang hari, IHSG sempat bergerak di teritori negatif pada sesi pertama sebelum akhirnya rebound ke zona hijau pada sesi kedua. Nilai transaksi harian mencapai Rp24,99 triliun dengan volume perdagangan 50,33 miliar saham.

Sektor keuangan memimpin penguatan tujuh sektor IDX-IC dengan kenaikan 1,23 persen, diikuti sektor energi sebesar 0,94 persen. Sebaliknya, empat sektor melemah dengan penurunan terdalam pada sektor industri sebesar 1,65 persen. Investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp183,56 miliar pada sesi pertama perdagangan.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menyatakan bursa Asia cenderung tertekan oleh pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole pada Jumat (28/8/2026). Warsh menegaskan inflasi AS belum melambat secara signifikan sehingga membuka peluang pengetatan moneter lebih lanjut.

"Bursa Asia didominasi pelemahan setelah pernyataan hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh kembali meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) pada September 2026," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus.

Nico menjelaskan pesan tersebut meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026 dari 35 persen menjadi 50 persen. Pasar obligasi merespons dengan kenaikan imbal hasil US Treasury tenor dua tahun menjadi sekitar 4,3 persen dan tenor 30 tahun di kisaran 5,2 persen.

"Memang seperti apa pesannya? Dalam pesan tersebut, Kevin Warsh mengatakan bahwa tekanan inflasi belum melambat secara signifikan," kata Nico.

Ketegangan militer di Selat Hormuz antara AS dan Iran serta lonjakan harga minyak dunia turut menjadi beban tambahan bagi pasar saham regional. Meski demikian, sentimen dari dalam negeri relatif menopang pergerakan IHSG.

"Oleh sebab itu, hal ini telah membuat probabilitas kenaikkan tingkat suku bunga The Fed kian semakin nyata apabila ternyata inflasi tidak bisa kembali dengan target The Fed, yaitu 2 persen," lanjut Nico.

Pasar merespons positif persetujuan DPR RI atas penunjukan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031 menggantikan Perry Warjiyo. Selain itu, pemerintah mengumumkan relaksasi aturan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) bagi 64 eksportir tambang mulai 1 September 2026, yang menurunkan kewajiban penempatan menjadi 30 persen selama minimal tiga bulan.

"Warsh berusaha menyakinkan pelaku pasar dan investor, bahwa kita semua semua harus yakin bahwa inflasi inti sedang bergerak menuju target The Fed, dengan kecepatan yang cukup. Jika tidak, The Fed masih akan harus bekerja keras untuk itu," ujarnya.

Nico memperkirakan ketegangan geopolitik yang kembali meningkat berpotensi membuat investor mengambil posisi hati-hati pada awal pekan.

"Dari sisi kami, meskipun Warsh selalu mengatakan bahwa The Fed tidak akan memberikan petunjuk, namun kami menyakini bahwa apabila inflasi di bulan August masih terus bergerak 'liar' kami melihat ada potensi kenaikkan tingkat suku bunga sebanyak satu hingga dua kali menjelang akhir tahun nanti," kata Nico.

Pilarmas Investindo memproyeksikan level support IHSG berada di posisi 6.440 dan resistance di 6.635. Sementara itu, tim analis Ciptadana Sekuritas memperkirakan pergerakan indeks berada pada rentang 6.475 hingga 6.635 dengan kecenderungan konsolidasi.

"Hal ini tentu memberikan gambaran akan sebuah ekspektasi bahwa The Fed akan menaikkan tingkat suku bunga jangka pendek untuk menahan inflasi," ujar Nico.

Pasar saham domestik akan mencermati rilis data inflasi Indonesia periode Agustus 2026 dan data neraca perdagangan Juli 2026 yang dijadwalkan terbit pada awal September 2026.

"Hal ini juga yang berpotensi membebani pergerakan IHSG dan pasar obligasi pada hari ini, yang kemungkinan besar akan mengalami penurunan. Belum lagi, pada hari Minggu kemarin Amerika kembali menyerang Iran, meskipun sebelumnya dalam beberapa pekan terakhir situasi dan kondisi terlihat lebih tenang," katanya.

Nico menilai relaksasi kebijakan DHE SDA memberi ruang likuiditas tambahan bagi emiten sektor pertambangan.

"Dari sisi pasar, kebijakan ini berpotensi membantu arus kas dan fleksibilitas pendanaan perusahaan tambang, sehingga positif bagi emiten yang masuk dalam daftar penerima relaksasi," ujar Nico.

Namun, perubahan ketentuan penempatan devisa tersebut perlu diantisipasi dampaknya terhadap ketersediaan valuta asing di dalam negeri.

"Namun, dari sisi makro, kebijakan ini perlu dicermati karena berkurangnya porsi dan durasi penempatan DHE di dalam negeri dapat membuat pasokan valas domestik tidak sebesar skenario aturan sebelumnya," katanya.

Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mencatat IHSG masih mampu bertahan di atas pergerakan rata-rata 20 hari (MA20) meski tekanan jual tetap ada.

"IHSG terkoreksi 0,06 persen ke 6.518 dan disertai dengan munculnya tekanan jual, secara weekly IHSG terkoreksi 0,12 persen namun masih mampu berada di atas MA20-nya," kata Herditya.

Herditya memetakan dua skenario teknikal untuk pergerakan indeks selanjutnya.

"Best case (hijau), posisi IHSG sedang berada di awal wave dari wave (c) sehingga masih berpeluang menguat ke rentang area 6.599–6.666," ujarnya.

Jika skenario penurunan terjadi, indeks diperkirakan akan menguji area konsolidasi bawah.

"Worst case (merah), posisi IHSG saat ini sedang berada pada bagian dari wave iv dari wave (c), cermati area koreksi IHSG yang dapat kami perkirakan berada pada rentang 6.289–6.352," tegas dia.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed