IHSG Ditutup Menguat ke Level 6.525 pada Perdagangan 21 Agustus 2026
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup menguat 0,37 persen atau naik 24,10 poin ke level 6.525,69 pada perdagangan Jumat (21/8/2026). Penguatan ini melanjutkan tren positif setelah pada hari sebelumnya indeks kembali menembus level psikologis 6.500.
Berdasarkan data perdagangan BEI, IHSG dibuka pada posisi 6.524,07 dan sempat menyentuh level tertinggi 6.552. Sebanyak 319 saham mencatatkan kenaikan, 294 saham melemah, serta 178 saham ditutup stagnan dengan nilai transaksi mencapai Rp17,47 triliun.
Penguatan indeks utamanya disokong oleh emiten perbankan BUMN, dengan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memberi sumbangsih terbesar yakni 14,01 poin setelah melesat 2,87 persen ke Rp3.230 per saham. Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Negara Indonesia (BBNI) turut menopang dengan kontribusi masing-masing 6,09 dan 4,92 indeks poin.
Di jajaran top gainer, saham PT Cipta Selera Murni Tbk (CSMI) memimpin kenaikan harga sebesar 34,68 persen menjadi Rp167 per unit. Posisi berikutnya diisi oleh PT Ingria Pratama Capitalindo Tbk (GRIA) yang melonjak 23,81 persen ke Rp182 per saham.
Sementara itu, posisi nilai transaksi terbesar dipimpin oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan angka transaksi mencapai Rp1,23 triliun. Posisi kedua ditempati BBRI sebesar Rp1,13 triliun, disusul PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) senilai Rp666 miliar.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memberikan analisis terkait pergerakan teknikal IHSG di tengah sentimen pasar.
"Diperkirakan jika IHSG bertahan di atas level MA100, maka berpotensi akan menguji level berikutnya di 6.600 serta berpotensi menutup gap di 6.700. Namun perlu diwaspadai sentimen negatif eksternal dan menjelang akhir pekan," ujar Ratna Lim, Kepala Riset Phintraco Sekuritas.
Ratna Lim juga menyoroti dampak lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat terhadap kinerja bursa.
"Kenaikan yield US-Treasury memicu kekhawatiran bahwa perusahaan-perusahaan akan menanggung biaya pinjaman yang tinggi. Selain itu, juga akan berpengaruh terhadap penurunan laba perusahaan jika kenaikan yield berlangsung lama, sehingga menghambat laju indeks bursa saham yang sedang bullish," ujar Ratna Lim, Kepala Riset Phintraco Sekuritas.
Langkah strategis dari otoritas pasar modal turut mewarnai sentimen domestik. BEI berencana mengubah batas minimum harga saham di pasar reguler dan tunai dari Rp50 menjadi Rp1 per saham, serta menyesuaikan batasan auto rejection yang ditargetkan mulai berlaku pada 7 September 2026.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow