IHSG Menguat ke Level 6.667 Berkat Dorongan Saham Big Cap

Smallest Font
Largest Font

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Kamis (3/9/2026) di zona hijau dengan kenaikan 1,09 persen ke level 6.667,89. Penguatan bursa saham domestik tersebut terdorong oleh lonjakan harga saham berkapitalisasi besar serta aksi beli bersih investor asing, dilansir dari Detik Finance.

Aksi beli investor asing mencatatkan nilai bersih sebesar Rp1,11 triliun di pasar reguler, atau mencapai Rp1,07 triliun jika dihitung di seluruh pasar. Aliran modal asing mengalir deras ke sejumlah saham utama, seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp471,38 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp207,10 miliar. Selain itu, saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga mengantongi net buy asing masing-masing Rp131,92 miliar dan Rp108,95 miliar.

Kenaikan IHSG ditopang oleh saham PT Astra International Tbk (ASII) yang melesat 4,34 persen, BMRI yang naik 2,29 persen, dan BBCA yang menguat 1,50 persen. Sembilan dari 11 sektor mengakhiri hari di zona hijau dengan sektor transportasi dan logistik mencatat kenaikan tertinggi sebesar 2,45 persen, sedangkan sektor teknologi turun paling dalam hingga 1,62 persen. Tekanan melanda saham PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) yang anjlok 11,82 persen, PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) yang melemah 4,63 persen, serta PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) yang terkoreksi 2,14 persen.

Pasar saham global turut memberikan sentimen positif setelah indeks Dow Jones naik 1,18 persen ke 53.686, S&P 500 bertambah 1,06 persen ke 7.747, dan Nasdaq menguat 1,40 persen ke 26.584. Dua indeks acuan offshore pasar Indonesia, yakni ETF EIDO dan MSCI Indonesia, masing-masing menguat 1,69 persen dan 1,43 persen.

Di tingkat regulator, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan aturan demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) terbit pada September 2026. Tahap internal telah selesai dan kini memasuki proses harmonisasi dengan Kementerian Hukum. Dalam rancangan aturan, kepemilikan saham BEI dibatasi maksimal 5 persen untuk setiap pihak, kecuali pemegang saham strategis seperti Danantara, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan yang dapat memiliki lebih dari 5 persen atas persetujuan OJK. Pelaksanaan RUPSLB BEI yang semula dijadwalkan pada 15 September 2026 berpotensi bergeser untuk menunggu aturan ini rampung.

Dari sisi korporasi, PT Winner Nusantara Jaya Tbk (WINR) memperbesar target kepemilikan saham di PT Laxo Global Akses menjadi 90 persen dari target awal 60 persen melalui penambahan setoran modal. Saat ini WINR memegang 8,50 persen saham Laxo yang mencatatkan pendapatan Rp22,83 miliar pada semester I-2026. Langkah ini diambil untuk mengintegrasikan layanan internet Laxo ke dalam proyek properti WINR guna memperkuat pendapatan berulang. Secara teknikal, saham WINR berpotensi bergerak menuju level Rp26 usai ditutup di atas EMA 21.

Sementara itu, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) mengalokasikan dana internal hingga Rp500 miliar untuk melakukan pembelian kembali (buyback) maksimal 797,50 juta lembar saham atau sekitar 5 persen dari modal disetor. Berdasarkan kas dan setara kas semester I-2026 senilai Rp1,31 triliun, aksi buyback akan berlangsung selama tiga bulan mulai 4 September hingga 4 Desember 2026. Setelah buyback, total aset ERAA diperkirakan menjadi Rp28,36 triliun dan ekuitas turun menjadi Rp9,68 triliun, dengan laba per saham (EPS) diproyeksikan tetap sebesar Rp75,68.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed