Indonesia Pimpin Penggunaan AI untuk Pendidikan di Survei Global

Smallest Font
Largest Font

Indonesia menempati posisi teratas dalam penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk pendidikan dan pembelajaran berdasarkan survei yang melibatkan sepuluh negara, dilansir dari Detikcom. Sebanyak 61% responden Indonesia menggunakan AI dalam kegiatan belajar pribadi, mengungguli India sebesar 57% dan Afrika Selatan 56%. Survei ini dilakukan terhadap responden berusia 18-64 tahun antara Januari hingga Juni 2026. Negara lain dalam survei termasuk Brasil (44%), China (42%), Spanyol (30%), Australia (26%), Jerman (25%), Amerika Serikat (22%), dan Belanda (14%).

Menurut data Statista Consumer Insights, pendidikan dan pembelajaran termasuk dalam tiga besar penggunaan AI untuk kebutuhan pribadi di sebagian besar negara yang disurvei.

Andreas Schleicher, Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD, menyatakan, "Teknologi AI dapat memperkuat proses pembelajaran yang sudah ada, tetapi hanya jika siswa dibekali kemampuan kognitif dan metakognitif untuk menggunakannya secara bijak." Schleicher menjelaskan pentingnya kemampuan kognitif untuk memahami dan menilai jawaban AI serta kemampuan metakognitif agar siswa tidak langsung menerima jawaban AI sebagai kebenaran.

"AI seharusnya digunakan sebagai alat untuk membantu berpikir, bukan menggantikan proses berpikir," ujar Schleicher. Namun, Schleicher juga menyoroti adanya penurunan kemampuan membaca siswa secara tajam di era AI. Hasil PISA 2025 menunjukkan penurunan rata-rata skor membaca sebesar 28 poin di seluruh negara OECD antara 2015 dan 2025.

"Membaca selalu menjadi induk dari semua keterampilan, jadi ini sangat penting," kata Schleicher, menambahkan bahwa siswa kini membaca lebih cepat namun kurang akurat. Menurut Schleicher, AI membuat siswa lebih sering menjadi konsumen pengetahuan siap pakai sehingga kurang terdorong untuk berpikir kritis dan reflektif. "Banyak aplikasi AI dirancang untuk mempermudah hidup dengan jawaban siap pakai, bukan mendorong siswa mengajukan pertanyaan yang tepat," tambahnya.

Di sisi lain, Schleicher menyatakan bahwa penggunaan AI yang disertai pembelajaran cara menilai informasi dapat meningkatkan prestasi siswa.

"Membekali anak muda dengan literasi AI yang tepat bisa menjadi penawar terhadap dampak negatif," ujar Schleicher. Senada, Sekretaris Jenderal OECD, Mathias Cormann, mengatakan AI dapat memperkuat pembelajaran jika digunakan dengan tujuan jelas, bukan sebagai pengganti usaha dan pemahaman. Hasil PISA 2025 memperlihatkan siswa yang tidak menggunakan AI dalam menyusun tugas menulis memiliki prestasi lebih baik, tetapi mereka yang diajari menilai informasi AI justru berprestasi lebih baik daripada yang tidak dibimbing.

"Teknologi dan AI dapat memperkuat pembelajaran dan membantu mempersiapkan kaum muda untuk masa depan, tetapi hanya jika digunakan dengan tujuan yang jelas," ujar Mathias Cormann.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed