Saham Chandra Asri Melonjak Usai Transformasi Bisnis dan Aksi Beli Asing

Smallest Font
Largest Font

Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) ditutup melonjak 6,13 persen ke level 2.250 pada Selasa, 21 Juli 2026, ditopang akumulasi dana asing dan transformasi bisnis perseroan. Penguatan ini melengkapi kenaikan harga saham sekitar 9 persen dalam sebulan terakhir.

Data perdagangan periode 24 Juni hingga 21 Juli 2026 mencatat investor asing membukukan nilai beli bersih atau net buy sebesar Rp351,03 miliar di pasar reguler dan negosiasi. Total pembelian asing mencapai Rp3,54 triliun, melampaui angka penjualan sebesar Rp3,19 triliun. JP Morgan Sekuritas Indonesia memfasilitasi pembelian asing terbesar senilai Rp336,1 miliar, disusul Mandiri Sekuritas sebesar Rp164,1 miliar dan UBS Sekuritas Indonesia senilai Rp110,6 miliar.

Kenaikan harga saham TPIA turut terdorong oleh kinerja keuangan perusahan yang mencatatkan pemulihan. Pada kuartal I 2026, perseroan membukukan EBITDA sebesar USD421 juta dengan laba bersih mencapai USD205 juta, seiring integrasi aset Shell Energy and Chemicals Park Singapore dan jaringan ritel ExxonMobil Singapore. Total aset emiten Prajogo Pangestu ini meningkat menjadi USD12,32 miliar pada 2025 dengan likuiditas mencapai USD3,89 miliar.

Selain perbaikan fundamental, perseroan menggarap proyek strategis pembangunan fasilitas Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon, Banten dengan progres tahap pertama mencapai 72 persen. Proyek bernilai investasi lebih dari USD800 juta ini ditargetkan beroperasi pada 2027 untuk memproduksi 827 ribu ton soda kaustik cair dan 500 ribu ton ethylene dichloride per tahun.

Presiden Direktur dan CEO Chandra Asri Group Erwin Ciputra menegaskan bahwa pembangunan proyek tersebut bertujuan memperkuat rantai pasok industri kimia nasional.

"Ke depan, melalui studi kelayakan Tahap II dan pembangunan infrastruktur pendukung, kami ingin menghadirkan ekosistem produksi dan distribusi yang semakin terintegrasi sehingga mampu meningkatkan keandalan pasokan bahan kimia dasar bagi industri nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok regional," kata Erwin Ciputra, Presiden Direktur dan CEO Chandra Asri Group.

Ekspansi perseroan juga merambah sektor energi bersih melalui PT Chandra Waste Energy yang tergabung dalam konsorsium Masa Depan Energi Indonesia. Konsorsium ini terpilih sebagai mitra proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Serang Raya berkapasitas pengolahan sampah 1.161 ton per hari.

Senior Investment Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memberikan penilaian terkait daya tarik saham perseroan pasca koreksi.

“Setelah mengalami koreksi yang cukup dalam, valuasi TPIA menjadi lebih menarik bagi investor dengan horizon investasi menengah hingga panjang. Tidak menutup kemungkinan sebagian investor institusi mulai melakukan bottom fishing atau akumulasi bertahap pada level harga yang dinilai sudah lebih rasional,” ujar Nafan Aji Gusta, Senior Investment Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir turut memberikan kepastian mengenai tata kelola proses seleksi mitra proyek energi tersebut.

“Proses seleksi mitra dilakukan secara disiplin sesuai mekanisme yang telah ditetapkan sejak awal,” kata Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara Indonesia.

Penetapan konsorsium tersebut saat ini masih berstatus Conditional Letter of Award (CLoA) yang mewajibkan penyelesaian studi kelayakan dan pembentukan perusahaan patungan sebelum melangkah ke tahap akhir.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed