Iran Ancam Serang Aset Militer AS di Eropa Jika Perang Memanas
Iran mempertimbangkan serangan terhadap target militer Amerika Serikat di kawasan Eropa jika Presiden Donald Trump memicu eskalasi konflik. Langkah ini diambil setelah nota kesepahaman yang memblokade Selat Hormuz berakhir tanpa kemajuan negosiasi pada Kamis (20/8/2026).
Sejumlah sumber internal rezim Teheran mengungkapkan kepada Financial Times bahwa pasukan militer Iran telah memetakan target potensi di Eropa bagian tenggara. Lokasi yang dilirik mencakup Pangkalan Udara Bezmer di Bulgaria serta pangkalan udara Inggris di Siprus.
Selain fasilitas militer darat, jaringan kabel serat optik bawah laut di Selat Hormuz turut dipertimbangkan sebagai sasaran utama. Hal ini merespons kebijakan Trump yang membatalkan nota kesepahaman dan meluncurkan operasi isolasi ekonomi berskala besar terhadap Teheran.
Eskalasi strategis ini mengemuka setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran menegaskan kesiapan mereka untuk memperluas jangkauan gempuran di luar kawasan Timur Tengah. Komandan militer Iran mengklaim bahwa sebagian besar persenjataan utama mereka masih berada dalam kondisi utuh.
Komandan Korps Nainawa Provinsi Golestan, Brigadir Jenderal Hosseini, menilai perkembangan situasi medan tempur telah membuktikan batas kemampuan militer Washington di kawasan.
"Perang ini memperlihatkan bahwa klaim Amerika tentang kekuatan militernya tidak lagi seperti dahulu. Apa yang selama ini seharusnya kita lihat dari kekuatan militer negara itu kini terlihat jelas di kawasan," kata Hosseini.
Hosseini menyebutkan bahwa kegagalan Washington dalam mencapai tujuannya saat berhadapan dengan kelompok perlawanan telah memaksa negara adidaya tersebut mencari jalan keluar dari krisis yang diciptakannya sendiri.
"Amerika selama ini mengatakan berbagai pilihan tersedia di atas meja, salah satunya pilihan militer. Namun sekarang kartu Amerika dalam bidang militer telah terbuka dan kekuatan sebenarnya telah terlihat oleh dunia," ujar Hosseini.
Guna mengimbangi tekanan internasional, Hosseini mendesak penguatan konsolidasi internal serta solidaritas antarnegara Islam. Ia menegaskan bahwa keteguhan rakyat menjadi fondasi utama dalam menghadapi kekuatan luar.
"Menjaga persatuan dan kesatuan dalam masyarakat Islam dan Iran tercinta merupakan kewajiban kita. Persatuan antarmahzab dan antarsuku harus dipertahankan, sekaligus diperkuat bersama negara-negara Islam," ujarnya.
Hosseini menambahkan bahwa dukungan publik terhadap angkatan bersenjata telah memberikan tekanan balik kepada negara-negara adidaya.
"Bangsa Iran dengan keteguhan dan dukungan terhadap angkatan bersenjata telah memberikan pelajaran yang tidak terlupakan kepada negara-negara adidaya. Kami bangga kepada setiap orang dari bangsa yang luar biasa ini," katanya.
Di sisi lain, perwakilan militer Iran menegaskan kehadiran identitas nasional sebagai titik temu seluruh elemen masyarakat untuk mempertahankan kedaulatan negara dari ancaman luar.
"Iran adalah titik temu seluruh rakyat, suku dan mazhab. Siapa pun yang hidup di tanah dan wilayah ini mencintai Iran," ujarnya.
Kesiapan teknis persenjataan Iran turut ditegaskan oleh jajaran petinggi Garda Revolusi Islam dalam menghadapi potensi pertempuran terbuka yang lebih luas.
Pejabat senior militer IRGC, Hossein Mohebi, menyatakan bahwa Teheran telah menyiagakan amunisi generasi terbaru yang memiliki tingkat kerusakan lebih tinggi.
"Jika perang kembali pecah, senjata yang kami gunakan tentu akan berbeda, baik dari segi generasi hulu ledak, tingkat presisi, jangkauan rudal, maupun parameter lainnya," kata Mohebi.
Di tingkat manajerial angkatan darat, klaim Amerika Serikat mengenai kehancuran persenjataan Teheran langsung dibantah lewat data kesiapan tempur terbaru.
Wakil Komandan Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Ali Reza Sheikh, menegaskan bahwa serangan sekutu tidak merusak mayoritas armada tempur utama mereka.
"Lebih dari 75 persen kapabilitas rudal dan drone Iran masih utuh dan siap," ujar Sheikh.
Sementara itu, Amerika Serikat secara resmi menutup ruang diplomasi langsung dan beralih penuh pada langkah isolasi finansial total untuk menekan posisi Teheran.
Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi pembekuan saluran komunikasi sembari mengumumkan pemberlakuan sanksi ekonomi berskala historis.
"Ini akan menjadi perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya," tulis Trump di Truth Social.
Trump menuding otoritas Teheran berada dalam posisi terdesak sehingga tindakan pengetatan ekonomi dianggap sebagai opsi paling efektif untuk melumpuhkan pergerakan lawan.
"Orang-orang gila ini sedang terdesak hebat, dan langkah-langkah bersejarah ini akan melumpuhkan mereka serta kemampuan mereka dalam menyebarkan teror ke seluruh dunia," tukasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow