Garda Revolusi Iran Sita Kapal Selam Nirawak AS di Selat Hormuz

Smallest Font
Largest Font

Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menangkap kapal selam nirawak milik Amerika Serikat tipe Dive-LD di pintu masuk Selat Hormuz pada Selasa malam. Penyitaan wahana otonom buatan perusahaan Anduril tersebut memicu respons langsung dari otoritas militer Amerika Serikat dan analisis pertahanan kawasan.

Penyitaan ini dinilai membuka peluang bagi pihak Teheran untuk mempelajari serta melakukan rekayasa balik terhadap teknologi bawah laut AS. Peristiwa tersebut menjadi perhatian khusus mengingat Iran sebelumnya pernah melakukan rekayasa balik terhadap drone udara RQ-170 milik Amerika Serikat yang ditangkap pada 2011 lalu.

Pengamat strategis dari Universitas Tinggi Pertahanan Nasional Iran, Fathollah Klentari, menilai operasi penangkapan ini merupakan bukti kemampuan militer Iran dalam melacak aset rahasia musuh. Menurutnya, keberhasilan tersebut mengubah lanskap peperangan di kawasan Teluk Persia.

"Yang dimaksud bukan bahwa operasi ini bukan kemenangan bagi Republik Islam Iran. Namun, dimensinya tidak boleh direduksi menjadi kemenangan taktis karena yang kita harapi adalah kemenangan strategis bagi Republik Islam Iran dan kekalahan strategis bagi Amerika," kata Klentari.

Klentari menambahkan bahwa kekuatan udara Amerika Serikat telah tergerus sebelumnya setelah pertahanan udara Iran menjatuhkan jet tempur F-35. Kondisi itu membuat militer AS beralih mengandalkan operasi laut dan bawah permukaan.

"Angkatan Laut IRGC melalui operasi ini juga telah mencabut kemampuan yang menjadi sandaran militer Amerika," ujar Klentari.

Ia menyoroti perubahan taktik dan lingkungan perang yang kini memadukan berbagai teknologi mutakhir, mulai dari siber hingga sensor bawah laut.

"Yang lebih penting daripada peralatannya adalah perubahan lingkungan perang," katanya.

Kemampuan mendeteksi wahana bawah permukaan ini membuktikan bahwa wilayah operasi yang sebelumnya dianggap aman oleh AS kini dapat ditembus oleh pasukan Iran.

"Pesan utama dari bagian ini adalah kemampuan Korps Garda Revolusi Islam dalam mendeteksi dan melacak persenjataan rahasia musuh di lingkungan bawah permukaan," ujar Klentari.

Klentari menekankan pentingnya data intelijen dan data teknis yang tersimpan di dalam wahana nirawak tersebut untuk pengembangan industri pertahanan Iran.

"Saya percaya Republik Islam Iran pasti akan memanfaatkan kapasitas ini untuk rekayasa balik dan, insyaallah, dalam waktu dekat akan memperoleh teknologi mutakhir di bidang ini," katanya.

Konflik pertahanan di wilayah Hormuz kini telah bergeser dari sekadar penggunaan rudal menuju integrasi sistem elektronik dan peperangan siber.

"Perang Hormuz saat ini tidak hanya bergantung pada rudal dan drone, tetapi bergerak menuju perang sensor, tindakan antisistem elektronik, peperangan bawah permukaan, perang siber serta kombinasi operasi rudal dengan perang elektronik dan siber," ujarnya.

Analis militer Iran ini menuturkan bahwa perangkat rahasia yang diandalkan Amerika Serikat kini berada dalam jangkauan penuh pasukan militer Iran.

"Perangkat tersebut kini berada dalam jangkauan dan sasaran Republik Islam Iran," katanya.

Ia juga menjelaskan istilah teknis untuk kapal permukaan nirawak (Syahpad) dan kapal bawah permukaan nirawak (Zahpad) yang ruang geraknya semakin terbatas.

"Syahpad dan zahpad Amerika tidak lagi memiliki ruang untuk bermanuver, bukan hanya di Teluk Persia, tetapi bahkan di Laut Oman," katanya.

Di sisi lain, pengamat internasional memberikan sudut pandang terkait potensi manfaat penyitaan ini bagi pengembangan senjata lokal Iran.

"Tentu saja Iran akan memanfaatkan setiap kesempatan sebagai kemenangan propaganda," kata Farzin Nadimi, peneliti senior di Washington Institute for Near East Policy kepada Reuters.

Nadimi menilai penguasaan atas drone tersebut dapat memberikan dampak langsung pada industri militer domestik Iran.

"Hal ini dapat membantu (Garda Revolusi Iran/IRGC) membuat versi yang lebih baik dari desain mereka sendiri," imbuhnya.

Sementara itu, pihak militer Amerika Serikat berupaya mengecilkan signifikansi insiden penangkapan wahana bawah laut tersebut. Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Tim Hawkins, memberikan penjelasan resmi terkait kondisi drone sebelum diamankan Iran.

"Sebuah drone bawah laut yang dioperasikan pasukan AS malfungsi lebih dari sehari yang lalu. Drone tersebut saat itu menyurvei perairan kawasan untuk mendukung operasi yang sedang berlangsung," kata Hawkins kepada AFP.

Hawkins menegaskan bahwa unit yang mengalami kerusakan tersebut bukanlah peralatan militer canggih yang membawa rahasia penting.

Ia hanya menyebut drone itu model lama yang tidak mengumpulkan data sensitif maupun membawa peralatan sonar atau radar rahasia.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed