Garda Revolusi Iran Cegat dan Serang Kapal Tanker di Selat Hormuz
Eskalasi konflik maritim di Selat Hormuz semakin tajam setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangkaian pencegatan dan serangan rudal terhadap kapal komersial yang melintasi jalur logistik energi global tersebut.
Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) mengonfirmasi bahwa salah satu kapal tanker minyak milik Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) dihantam rudal saat berlayar di jalur strategis tersebut pada Sabtu (8/8/2026).
"Serangan Iran yang bermusuhan menargetkan sebuah tanker milik ADNOC dengan rudal ketika sedang melintas di Selat Hormuz, tanpa menyebabkan korban jiwa," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri UEA.
Pihak ADNOC mencatat sedikitnya 15 kapal miliknya telah menjadi sasaran militer Teheran sejak perang pecah, dengan tiga insiden terjadi dalam sepekan terakhir. Dalam insiden terpisah, lembaga pemantau United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan insiden kapal terkena proyektil di lepas pantai Oman yang memicu kebakaran sebelum berhasil dipadamkan.
Selain kapal ADNOC, serangan terpisah menghantam kapal kargo curah kering berbendera Liberia, Minoan Pioneer, di lepas pantai Oman pada Senin (3/8/2026). Insiden tersebut menyebabkan satu pelaut hilang akibat hantaman di ruang mesin dan memicu evakuasi total seluruh awak kapal.
Televisi pemerintah Iran menyiarkan rekaman video yang memperlihatkan sebuah kapal mengalami kerusakan parah akibat tindakan pencegatan militer. Teheran menegaskan tidak akan mengizinkan kapal melintas tanpa izin resmi di tengah aksi blokade angkatan laut dan pembatasan yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Iran.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengklaim ketahanan negaranya tetap solid meskipun terus diserang oleh pihak lawan.
Teheran juga menuntut pembayaran biaya transit bagi setiap kapal komersial yang melewati Selat Hormuz. Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas menolak pemberlakuan aturan tersebut oleh pihak Iran.
"Saya tidak akan membiarkan dia memungut biaya. Siapa pun yang akan memungut biaya, kami akan memungut biaya. Kami memiliki kendali penuh," tegasnya.
Trump sempat membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran guna membuka peluang negosiasi diplomatik.
"Saya ingin memberi mereka setiap kesempatan terakhir sebelum pemenggalan kepala," katanya.
Menanggapi tindakan Washington, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menilai upaya diplomasi telah berhenti dan mengancam akan memperluas cakupan pertempuran.
"Negosiasi mengalami kebuntuan dan Trump harus memecahkan kebuntuan ini," kata pejabat Iran itu kepada wartawan.
Rezaei menambahkan bahwa jika AS meningkatkan permusuhan, Iran akan "memperluas perang di luar Teluk Persia."
Hingga saat ini, pembicaraan mengenai administrasi dan pengelolaan rute maritim Selat Hormuz masih dibahas oleh pihak Iran bersama Oman sebagai negara pesisir.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow