Iran Pasang Ranjau Baru di Selat Hormuz Pasca-Serangan Militer AS

Smallest Font
Largest Font

Militer Iran kembali menebar ranjau laut baru di sepanjang rute tidak resmi bagian selatan Selat Hormuz usai gempuran militer Amerika Serikat memicu ledakan dua kapal tanker dan menewaskan dua awak di kawasan Teluk.

Eskalasi konflik bersenjata ini memperparah krisis navigasi di jalur lalu lintas energi dunia yang telah diblokade sebagian besar wilayahnya sejak akhir Februari. Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap peluncur roket Iran di Pulau Larak pada Minggu (30/8) untuk menghentikan penyebaran ranjau.

Pusat komando terpadu militer Iran membenarkan adanya penambahan ladang ranjau di perairan internasional tersebut sebagai tindakan balasan atas aksi militer pihak oposisi.

"Dalam operasi tadi malam, lebih banyak ranjau laut telah ditebar di sepanjang rute tidak resmi di sebelah selatan Selat Hormuz," kata juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Ebrahim Zolfaghari, dalam pernyataan via media sosial X.

Otoritas Teheran memilih merahasiakan detail posisi penyebaran tersebut dan menegaskan akses akan terus dibatasi ketat hingga kesepakatan sementara terpenuhi.

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengonfirmasi tindakan tegas terhadap armada kapal komersial yang nekat melintasi area yang telah terpasang ranjau.

"Beberapa jam lalu, dua kapal tanker yang melintasi dihentikan setelah diledakkan oleh ranjau laut," bunyi pernyataan IRGC dilansir iNews.

Kedua kapal tersebut langsung terbakar usai memicu ledakan, meski seluruh krunya dilaporkan selamat sebelum api membesar. Pihak militer menegaskan bahwa jalur tersebut merupakan zona berbahaya.

“Angkatan Laut IRGC sebelumnya memperingatkan mengenai bahayanya melintasi jalur yang dipenuhi ranjau,” kata IRGC.

Selain tindakan fisik di perairan, pihak militer juga mengancam menjatuhkan sanksi hukum bagi perusahaan yang mengikuti petunjuk rute dari pihak Washington.

"... Alih-alih mengikuti jalur hukum, terperangkap dalam tipu daya Amerika Serikat dan membiarkan kapal mereka berada di bawah kendali musuh,” demikian pernyataan IRGC.

Peningkatan ancaman keamanan ini telah menimbulkan korban jiwa dari pihak industri pelayaran komersial. Pengelola armada nasional Kerajaan Arab Saudi, Bahri, membenarkan insiden fatal yang memicu guncangan hebat pada kapal tanker minyak SIDR milik mereka saat melintasi perairan sempit internasional pada Senin (31/8) pukul 23.40 waktu setempat.

"Dua pelaut kami, keduanya warga negara Filipina, kehilangan nyawa akibat insiden ini," katanya, dikutip dari Anadolu Agency melalui Suara.com.

Pihak manajemen langsung berkoordinasi dengan otoritas maritim serta tim darurat untuk menangani dampak insiden tanpa merinci penyebab spesifik serangan tersebut.

Ia juga mengatakan pihaknya berkomitmen untuk menjaga standar keselamatan, keamanan, dan perlindungan lingkungan.

Dampak penutupan jalur strategis ini memicu kekhawatiran global terhadap keselamatan ribuan pekerja laut yang terisolasi di kawasan perairan Teluk sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.

“Meskipun beberapa kapal dan awaknya telah dapat meninggalkan Teluk, hingga sekarang 400 kapal yang membawa sekitar 6.000 pelaut belum dapat berangkat dengan aman sejak konflik dimulai,” kata Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez dilansir dari Beritasatu.

Data verifikasi IMO mencatat sedikitnya 70 serangan terhadap kapal pelayaran internasional telah menewaskan 19 pelaut selama enam bulan konflik berlangsung, sehingga pemulihan kebebasan navigasi dinilai sangat mendesak demi rantai pasokan bahan bakar global.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed