Iran Tutup Selat Hormuz Akibat Pertempuran Lebanon Jelang Negosiasi Swiss

Smallest Font
Largest Font

Komando militer gabungan Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Sabtu, 20 Juni 2026, sebagai respons atas kelanjutan serangan udara Israel di Lebanon dan kegagalan Amerika Serikat dalam menerapkan klausul pertama dari perjanjian kerja sama sementara.

Langkah penutupan jalur laut internasional yang krusial bagi pasokan minyak global tersebut diumumkan lewat siaran televisi negara Iran, bertepatan dengan rencana keberangkatan delegasi Tehran menuju Bürgenstock, Swiss untuk memulai negosiasi perdamaian tingkat teknis pada hari Minggu.

Krisis di Timur Tengah ini semakin memanas setelah serangan udara terbaru militer Israel di wilayah Lebanon selatan pada hari Sabtu menewaskan sedikitnya 16 orang, termasuk dua anak-anak, dan menyebabkan jumlah korban tewas dalam konflik Israel-Hezbollah melampaui angka 4.000 jiwa.

Meskipun pihak Iran menyatakan penutupan jalur perairan tersebut, Komando Sentral Amerika Serikat (CENTCOM) melaporkan bahwa lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz tetap berjalan aman dengan 55 kapal dagang yang melintas membawa lebih dari 17 million barel minyak pada hari Sabtu.

Pihak Kementerian Luar Negeri Iran memberikan penegasan mengenai sikap negara tersebut terhadap implementasi kesepakatan awal yang telah disetujui bersama Amerika Serikat.

"Iran tentu akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan jika AS tidak memenuhi kewajibannya," ujar Esmaeil Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran kepada lembaga penyiaran publik IRIB.

Esmaeil Baghaei menambahkan bahwa kunjungan tim delegasi Iran ke Swiss bertujuan untuk menuntut pemenuhan komitmen dari pihak lawan sebelum negosiasi final dapat dimulai.

"Oleh karena itu, perjalanan ini adalah tentang menuntut agar pihak lain memenuhi kewajibannya. Jika tidak, maka nota kesepahaman secara keseluruhan akan terancam," kata Esmaeil Baghaei.

Di pihak lain, Pemerintah Amerika Serikat tetap mempersiapkan keikutsertaan mereka dalam dialog diplomatik di Swiss tersebut untuk membahas program nuklir Iran.

"Kami akan merencanakan pembicaraan ketika para petinggi dari pemerintah Iran, juga pemerintah Qatari dan Pakistan, tiba. Itu mungkin terjadi secepatnya besok, tetapi hal-hal seperti ini selalu sedikit berubah-ubah," ujar JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat dalam wawancara bersama Fox News pada Sabtu pagi.

JD Vance juga menjelaskan dinamika koordinasi jadwal perjalanannya menuju Swiss serta penilaian tim intelijen mengenai situasi keamanan jalur maritim di Selat Hormuz.

"Sekarang, apa yang saya yakini adalah bahwa jika sebuah kapal mendekati ladang ranjau, baik Angkatan Laut kita atau Angkatan Laut negara lain, ada banyak negara selain Iran yang berada di wilayah tersebut, mungkin akan mengatakan, tidak, jangan pergi ke sana karena ada ranjau di sana," kata JD Vance.

JD Vance kemudian memaparkan data volume pengiriman komoditas energi yang keluar dari jalur Selat Hormuz dalam kurun waktu satu hari terakhir sebelum pengumuman penutupan oleh Iran.

"Kami mengeluarkan 16 juta barel dari Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir. Itu pada dasarnya kembali ke tempat sebelum perang dimulai, dan itu menunjukkan bahwa selat tersebut benar-benar terbuka," tutur JD Vance.

Terkait perbedaan pandangan politik dalam penyelesaian konflik eksternal dengan Iran, JD Vance menyampaikan posisinya dan kebijakan Presiden Amerika Serikat terhadap sekutu mereka.

"Saya tidak tahu apakah ada perbedaan tujuan. Terkadang ada perbedaan tentang bagaimana mencapai tujuan tersebut. Saya jelas tidak ingin berbicara mewakili pemerintah Israel. Mereka telah menjadi mitra yang baik dalam banyak hal, tetapi Presiden Amerika Serikat telah mengatakan, berlawanan dengan beberapa elemen di dalam pemerintah mereka, bahwa kami akan memberikan kesempatan pada negosiasi ini," kata JD Vance.

Militer Amerika Serikat menempatkan pasukan di kawasan Timur Tengah untuk memantau jalannya implementasi kesepakatan perdamaian komprehensif berdurasi 60 hari.

"U.S. forces remain present and vigilant to ensure all aspects of the agreement with Iran are adhered to, obeyed, and in full force and effect," tulis akun resmi CENTCOM di media sosial X.

Sementara itu, pihak mediator dari Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan komitmen penuh negara tersebut dalam menjembatani dialog multilateral bersama pihak Qatar.

"Pakistan akan terus memfasilitasi proses ini dalam perannya sebagai mediator, dengan pandangan untuk memajukan kesepahaman yang dicapai berdasarkan Memorandum of Understanding Islamabad," sebut pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Pakistan.

Di sisi lain, militer Israel tetap menjalankan operasi pengamanan di wilayah perbatasan utara untuk mengantisipasi serangan balasan berupa roket dan drone dari militer Hezbollah.

"Pasukan udara beroperasi di zona pertahanan depan dan akan terus melakukannya," ujar Brig. Gen. Effie Defrin, Juru Bicara Militer Israel.

Hingga saat ini, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu belum memberikan komentar resmi mengenai upaya gencatan senjata yang diusulkan oleh tim mediator internasional di Washington untuk pekan depan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed