AS Klaim Kuasai Selat Hormuz Saat Iran Patok Syarat Damai

Smallest Font
Largest Font

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim pasukannya telah mengendalikan Selat Hormuz dan membersihkan ranjau bawah air guna memastikan kelancaran lalu lintas minyak global pada Kamis (27/8/2026). Di sisi lain, Pemerintah Iran menetapkan syarat mutlak penghentian seluruh operasi militer di kawasan bagi pembukaan kembali jalur strategis tersebut secara penuh.

Klaim penguasaan perairan ini disampaikan Washington di tengah pengerahan 50.000 prajurit AS untuk memblokir aktivitas maritim Iran. Meski demikian, data pelayaran Kpler mencatat aktivitas kapal melintas turun drastis menjadi hanya lima kapal per hari dari kondisi normal sebelum konflik yang mencapai 130 kapal.

Pemerintah AS menyatakan telah mengoperasikan kapal penyapu ranjau khusus dan mengawal belasan armada komersial secara berkala agar distribusi energi dunia tidak terputus total.

"Selat itu terbuka. Selat Hormuz terbuka. Kita memegang kendali, dan kita melakukan blokade," kata Trump saat berbicara di Gedung Putih, seperti dilansir Anadolu Agency, Jumat (28/8/2026).

Donald Trump menambahkan bahwa pengawasan ketat dilakukan untuk mencegat kapal-kapal yang berupaya menyebar ranjau baru di perairan vital tersebut.

"Ada banyak kapal yang melintas. Jutaan barel minyak keluar dari selat itu setiap harinya," sebut Presiden AS itu dalam pernyataan pada Kamis (27/8) waktu setempat.

Pihak militer AS mengeklaim teknologi penyapu ranjau bawah air yang disiagakan telah berhasil menetralkan area jalur pelayaran internasional.

"Kita memiliki kapal-kapal penyapu ranjau terbaik di dunia. Itu adalah kapal penyapu ranjau bawah air, dan kita telah sepenuhnya membersihkan selat itu dari ranjau," klaimnya.

Pemerintah AS menegaskan penindakan langsung terus dilakukan terhadap armada asing yang terdeteksi membawa muatan berbahaya.

"Kami memantau setiap jengkal selat tersebut, dan jika ada kapal yang masuk membawa ranjau, kami melihatnya dan menyingkirkannya. Kami sudah menyingkirkan dua (kapal) di antaranya," kata Presiden AS tersebut.

Selain pembersihan ranjau, pengawalan militer secara langsung diberikan kepada kapal tanker pengangkut pasokan energi.

"Tadi malam, kami mengawal 24 kapal melintasi selat tersebut. Kami terus-menerus mengawal kapal-kapal melintasinya," ungkapnya.

Meski mengizinkan kapal komersial tertentu melintas, Washington memastikan blokade penuh tetap berlaku bagi seluruh pelayaran asal Iran.

"Iran tidak mendapat apa-apa, Tidak ada yang bisa lewat. Tidak ada satu pun kapal yang berhasil melintas," tandasnya.

Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei menegaskan bahwa normalisasi jalur perdagangan Teluk Persia tidak dapat dipisahkan dari agresi militer di wilayah regional lain seperti Gaza, Lebanon, dan Suriah.

"Hari ini, jalur pelayaran internasional terbuka dan momentumnya terus terbentuk," kata Cooper.

Komando Pusat AS melaporkan telah memfasilitasi perjalanan sekitar 1.500 kapal komersial dan memindahkan 750 juta barel minyak mentah selama beberapa bulan terakhir. Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper mengonfirmasi bahwa pengerahan puluhan ribu prajurit ditujukan untuk menjaga rute transit internasional dari ancaman ranjau laut Iran.

"Banyak dari 50.000 tentara AS yang beroperasi di kawasan ini melakukan tugas luar biasa dalam melakukan blokade laut terhadap Iran sambil menjaga kelancaran lalu lintas komersial melalui Selat Hormuz," ujar Cooper.

Laksamana Brad Cooper menambahkan bahwa pembersihan rute navigasi dari material peledak telah rampung dilakukan oleh tim militer.

"Rute transit yang diakui secara internasional kini bebas dari ranjau laut Iran," tegasnya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed