Israel Bombardir Gaza dan Tewaskan Puluhan Warga Serta Fasilitas Medis
Eskalasi militer kembali terjadi di Jalur Gaza, Palestina, setelah pasukan Israel melancarkan serangkaian serangan mematikan yang menewaskan sedikitnya 26 warga sipil hingga akhir pekan, Sabtu (1/8/2026). Aksi pemboman ini berlangsung di tengah berjalannya kesepakatan gencatan senjata dan rincian skema pelucutan senjata.
Laporan Al Jazeera mencatat korban jiwa awal sebanyak 19 orang sebelum jumlahnya melonjak akibat gempuran yang mengincar pemukiman warga serta tempat pengungsian. Sumber rumah sakit setempat melaporkan bahwa salah satu gempuran militer Zionis turut menghantam gudang penyimpanan obat-obatan yang terhubung dengan Rumah Sakit Martir Al Aqsa di Deir Al Balah.
Gelombang serangan tersebut memicu reaksi keras dari trio negara mediator yakni Qatar, Mesir, dan Turki. Ketiga negara merilis pernyataan bersama melalui Kementerian Luar Negeri Qatar pada Senin (3/8/2026) untuk mengecam tindakan berulang pasukan Israel.
"Qatar, Republik Arab Mesir, dan Republik Turki, dalam kapasitasnya sebagai negara yang memediasi konflik, menyampaikan kecaman keras dan penolakan terhadap pelanggaran Israel yang terus berlanjut di Gaza," bunyi pernyataan bersama tersebut.
Para mediator menekankan bahwa penyerangan terhadap fasilitas sipil serta jatuhnya korban dari kalangan perempuan dan anak-anak merupakan bentuk pelanggaran nyata atas hukum internasional. Mereka mendesak Tel Aviv untuk menghormati komitmen yang telah disepakati.
"Berlanjutnya pelanggaran ini merupakan pelanggaran perjanjian dan melemahkan upaya yang bertujuan menerapkan fase kedua, khususnya setelah Hamas dan faksi-faksi di Palestina mengumumkan penerimaan mereka terhadap peta jalan itu," lanjut pernyataan tersebut.
Meskipun Dewan Perdamaian (BoP) mengumumkan persetujuan faksi Palestina terkait pelucutan senjata pada fase kedua, kelompok Hamas menegaskan tidak akan menjalankan kesepakatan jika aksi militer Israel terus berlanjut. Sementara itu, pihak Israel mengajukan keberatan atas skema tersebut kepada Amerika Serikat.
Juru bicara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Doron Spielman, memberikan penegasan terkait posisi militer Israel saat diwawancarai AP pada Minggu (2/8/2026).
"Penilaian kami adalah bahwa jika kami melakukan penarikan pasukan sebelum Hamas benar-benar dilucuti, mereka akan dengan cepat kembali memperluas kehadirannya di seluruh Gaza ... dan berupaya melancarkan serangan lain seperti 7 Oktober," ujar Doron Spielman, Juru bicara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Ia menolak penarikan pasukan sebelum proses penyerahan senjata fisik diselesaikan sepenuhnya oleh pihak perlawanan di Gaza.
"Pelucutan senjata berarti menyerahkan senjata secara fisik. Tidak ada definisi lain selain itu," kata Doron Spielman.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow