Bencana Karhutla Ancam Kelangsungan Hidup Satwa Liar Kalimantan
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan mengancam keselamatan keanekaragaman hayati dan memicu migrasi satwa liar hingga melintasi batas negara menuju Malaysia, sebagaimana dilansir dari Detik Travel pada Senin (31/8/2026).
Pakar Konservasi dan peneliti senior BRIN, Prof Gono Semiadi, menyatakan bahwa kebakaran hutan berskala masif menghancurkan wilayah jelajah satwa, terutama spesies yang membutuhkan ruang habitat luas untuk bertahan hidup.
"Hewan itu punya insting, ketika sudah mulai datangnya kebakaran, punya insting," kata Gono kepada wartawan usai acara Sarwono Awards di Gedung BJ Habibie BRIN Thamrin, Jakarta Pusat.
Ia menambahkan bahwa kemampuan bertahan hidup setiap spesies sangat bergantung pada strata dan ukuran tubuhnya saat menghadapi ancaman kebakaran.
"Tapi kita kalau bicara hewan itu kan harus bisa melihat stratanya. Ada hewan besar, ada hewan yang kecil, ada hewan yang lebih berbeda," kata dia.
Tingkat keparahan karhutla kerap membuat satwa kehilangan arah karena jalur melarikan diri yang tertutup api.
"Kalaupun dia mempunyai insting untuk melarikan diri, tetapi kan (kebakarannya) masif, itu kan akhirnya tidak ada lagi (jalan untuk melarikan diri), ke mana saya harus lari. Itu yang menjadi masalahnya. Satwa-satwa yang daerah home range jelajahnya kecil, terbiasanya larinya juga mungkin sedikit (kesulitan melarikan diri). Nah ini semuanya itu menjadi tantangan," ujar dia.
Sementara itu, pakar konservasi dan ilmuwan biologi Prof Drs Jatna Supriatna MSc PhD menegaskan karhutla sebagai ancaman terbesar bagi ekosistem, terutama satwa yang hidup di tajuk pohon.
"Sangat besar sekali (ancaman karhutla bagi keanekaragaman hayati RI). Ini karena apa? Karena hasil penelitian banyak ya bahwa orang utan semuanya ada di kanopi, di pohon-pohon itu kan nggak bisa kemana-mana, dia larinya ke mana lagi," kata Jatna.
Ketergantungan orang utan pada konektivitas dahan pohon menjadi poin krusial yang turut disoroti oleh Gono Semiadi dalam kesempatan tersebut.
"Untuk berpindah, itu kan perlu kanopi yang tinggi, yang saling ada punya connectivity di antara dahannya. Sekarang harus kita lihat, apakah connectivity antar dahan di percabangan, di puncak sana itu ada atau tidak," ujar dia.
Gono menekankan pentingnya kerapatan vegetasi pohon bagi kelangsungan hidup spesifik orang utan.
"Kalau tidak ada, biar kata di situ ada 100 tegakan atau pohon tapi tidak ada connectivitas, berarti habitat dari orang utannya ya sudah hilang," kata pakar di bidang satwa liar itu.
Founder Conservation Action Network (CAN) Borneo, Paulinus Kristanto, menjelaskan bahwa pergerakan migrasi satwa melintasi batas negara didorong oleh pencarian wilayah berlindung yang masih aman.
"Satwa bisa berpindah dan satwa akan menggunakan insting. Sejauh tempat itu aman, ya mereka akan berpindah ke tempat yang aman," kata Paulinus.
Ia menyimpulkan bahwa batas administrasi antarnegara tidak menghalangi pergerakan satwa selama bentang alam hutan masih terhubung.
"Tentu iya (memungkinkan pindah), karena satwa tidak mengenal batas negara. Sejauh tempat itu aman, ya mereka akan berpindah ke tempat yang aman," ujar dia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow